Advertisement
Peristiwa Nasional

Efek Covid-19, Jasa Pijat Tunanetra di Yogyakarta Sepi Pasien

Bencana Nasional Covid-19 atau virus Corona berpengeruh terhadap berbagai sektor termasuk jasa pijat tunanetra di Yogyakarta. Seperti yang dialami Slamet (52), tukang pijat tunanetra yang tinggal di Kampung Sonopakis, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyaka

TIMES Indonesia,
Efek Covid-19, Jasa Pijat Tunanetra di Yogyakarta Sepi Pasien
Ilustrasi - Pijat tunanetra (Foto: Thinkstock/microgen)
A-AA+

YOGYAKARTA Bencana Nasional Covid-19 atau virus Corona berpengeruh terhadap berbagai sektor termasuk jasa pijat tunanetra di Yogyakarta. Seperti yang dialami Slamet (52), tukang pijat tunanetra yang tinggal di Kampung Sonopakis, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta.

Sejak wabah Covid-19 melanda Yogyakarta, Panti Pijat Penyegar Saliro Mas Slamet ini sepi pasien. Apalagi, pemerintah telah menerapkan kebijakan physical distancing.

Advertisement

“Saat hari biasa, sehari minimal ada tiga pasien. Tapi, sejak wabah Covid-19 sehari 1 orang saja sudah bagus sekali,” kata Slamet.

Namun demikian, Slamet dapat memahami kondisi tersebut. Sebab, kondisi serupa juga dialami profesi lain termasuk para pedagang kali lima yang sering mangkal di jalan-jalan protokol Yogyakarta. Padahal, Slamet memiliki dua putera, satu diantaranya kini sedang studi di sebuah perguruan tinggi swasta di Yogyakarta.

“Saya telepon, teman yang lain juga merasakan hal yang sama,” ujar Slamet yang mengaku tergabung dalam organisasi Gatra (Gabungan Pemijat Tunanetra) Bantul.

Menurutnya, di Yogyakarta ada banyak organisasi tukang pijat tunanetra. Diantaranya adalah Gatra organisasi tempatnya bernaung bersama 40-an tukang pijat tuna netra se-Kabupaten Bantul.

“Sebenarnya kondisi kami cukup prihatin. Tapi, mau bagaimana lagi, yang lain juga banyak. Apalagi, kami yang memiliki keterbatasan fisik tidak dapat berbuat apa-apa ketika keadaan seperti ini. Pasrah sama Allah namun tetap buka praktek,” terang Slamet.

Advertisement

Bagi Slamet, dirinya masih beruntung memiliki tempat tinggal. Di luar, masih banyak orang yang nasibnya tidak beruntung. Para gelandangan yang memiliki tempat tinggal.

“Banyak hal yang bisa dipetik oleh para tukang pijat tuna netra. Kita harus tetap optimis mampu menghadapi wabah Covid-19, tanpa mengeluh dan selalu berusaha,” terang Slamet, tukang pijat tunanetra Yogyakarta ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia