Peristiwa Nasional

Lilik Hendarwati, 'Kartini' yang Berani Terjun ke Dunia Politik

Selasa, 21 April 2020 - 20:45 | 60.78k
Lilik Hendarwati, anggota dewan Jawa Timur. Seorang muslimah yang berani terjun ke dunia politik. (Foto: Dok. Lilik Hendarwati via Instagram/@lilikhendarwati)
Lilik Hendarwati, anggota dewan Jawa Timur. Seorang muslimah yang berani terjun ke dunia politik. (Foto: Dok. Lilik Hendarwati via Instagram/@lilikhendarwati)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, SURABAYA – 21 April 2020 bangsa Indonesia meneladani perjuangan RA Kartini. Seorang tokoh pahlawan nasional yang lantang meyuarakan hak dan emansipasi wanita. Mendobrak tradisi yang mengungkung perempuan untuk mengaktualisasikan diri dalam berkarya dan berkiprah.

Hari ini, salah satu tokoh perempuan Jawa Timur yang menginspirasi datang dari Lilik Hendarwati. Anggota dewan perwakilan rakyat provinsi Jawa Timur yang dikenal khidmat dalam menyuarakan suara umat.

Advertisement

Sebagai seorang muslimah, dirinya giat menyuarakan perempuan-perempuan yang berprestasi tapi tetap memegang teguh Islamnya.

Lilik-Hendarwati-a.jpg

Menjadi seorang perempuan, ibu rumah tangga, sekaligus anggota dewan tentu bukan hal yang mudah. Apalagi dua bulan terakhir ini adalah masa-masa yang berat. Pandemi Covid-19 membuat hampir semua sendi kehidupan manusia lumpuh.

Lilik sebagai wakil rakyat Jawa Timur tentunya dituntut untuk bekerja lebih super ekstra dari biasanya. Untuk itu dalam rangka Hari Kartini, sangat layak bagi perempuan Jawa Timur untuk belajar dari kegigihannya.

Sebagai muslimah, Ibu rumah tangga, sekaligus anggota dewan. Bagaimana cara Anda mengatur waktu dan membagi prioritas?

Mungkin sudah terbiasa, anak-anak sudah paham bahwa umi-nya ini aktivis. Tapi Ketika di rumah saya benar-benar manfaatkan untuk quality time bersama mereka. Memberikan pembelajaran dan membantu kesulitan mereka. Anak saya delapan, yang dua sudah tidak ada jadi tinggal enam.

Kebetulan mereka juga sudah besar-besar. Anak-anak itu terbiasa untuk saling membantu, ngemong jika dalam Bahasa Jawa. Jadi yang kakak biasa membantu kesulitan adiknya.

Lilik-Hendarwati-b.jpg

Untuk membagi prioritas, saya lebih fleksibel saja tidak terlalu kaku. Sebab dewan ini kan bukan seperti pegawai kantoran atau guru yang jamnya sudah pasti. Jadi kapan harus turun, kapan di kantor, dan kapan bersidang itu fleksibel. 

Masih banyak orang apalagi muslimah yang takut untuk terjun ke dunia politik. Dimana politik diketahui begitu rumit dan melelahkan. Mungkin bisa ceritakan secara singkat mengapa saat itu tergerak untuk berkiprah menjadi wakil rakyat?

Sebenarnya awalnya juga nggak kebayang, mungkin karena sejak muda saya ini suka organisasi. Ikut pramuka, osis, dan seterusnya sampai kuliah lalu berumah tangga. Kalau orang terbiasa berorganisasi tidak bergerak kan rasanya nggak enak gitu.

Kemudian saat berpikir kenapa harus jalur politik. Contoh kecil saja misalkan harga bawang naik kemudian masyrakat nggak bisa beli. Itu bukan hanya sekedar masalah ekonomi, tapi bisa jadi terkait dengan kebijakan-kebijakan politik. Maka bawang mahal tadi berefek langsung kepada ibu-ibu sendiri. Kerasa banget, kan. Jadi dari hal-hal yang sepele seperti itu kemudian orang jadi paham kenapa harus berpolitik.

Tapi memang masyarakat itu ingin melihat buktinya, bukti kita yang ada di sistem benar-benar bekerja. Kalau sekarang orang kebanyakan mendapat informasi dari sosial media, ya kita mau tidak mau harus beradaptasi dengan itu -membagikan hasil kerja di sana-. Bukan untuk riya’ tapi agar masyarakat paham.

Bicara emansipasi wanita, apa maknanya menurut Anda?

Emansipasi wanita menurut saya adalah kepahaman akan peran. Artinya jika kita bicara dengan peran wanita berarti berperan untuk dirinya sendiri, untuk keluarga di rumah, dan untuk masyarakat. Akhirnya kemudian tidak cukup untuk wanita berpuas diri. Apalagi agama mengajarkan kita untuk terus menuntut ilmu sampai akhir hayat.

Namun ketika kembali ke rumah menjadi seorang istri dan ibu, kita harus memahami aturannya. Ada suami yang berperan sebagai imam atau pemimpin dalam rumah tangga.

Untuk membangun sebuah peradaban bangsa yang maju, peran perempuan dipandang sebagai salah satu indikator penting. Bagaimana pandangan Anda?

Betul, penting sekali. Hanya saja peran atau kemampuan setiap wanita memang berbeda-beda. Tidak semua bisa atau harus keluar rumah untuk menjadi aktivis misalnya. Sebab bila keluarnya dia membuat keluarganya terbengkalai, salah juga. Jadi kembali lagi ke awal, wanita harus memahami peran dirinya.

Demikian bincang singkat TIMES Indonesia dengan Lilik Hendarwati, salah satu 'Kartini' di era 2000. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Surabaya

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES