Peristiwa Nasional

Hari Perawat Sedunia, FK UB: Peduli Perawat Tak Perlu Tunggu Wabah

Selasa, 12 Mei 2020 - 22:06 | 100.43k
Ketua Jurusan Keperawatan FK UB Dr. Asti Melani Astari, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat. (Foto: Dokumen Pribadi)
Ketua Jurusan Keperawatan FK UB Dr. Asti Melani Astari, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat. (Foto: Dokumen Pribadi)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, MALANGHari Perawat Sedunia diperingati tepat hari ini, 12 Mei 2020. Jurusan Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) mencetus gerakan peduli perawat.

Semenjak ada wabah Corona (Covid-19), perhatian publik terfokus kepada perjuangan perawat dan tim medis lainnya. Profesi perawat disebut sebagai garda terdepan melawan Corona. Sejatinya, peduli SDM keperawatan itu diterapkan tanpa menunggu adanya wabah.

Advertisement

Demikian disampaikan Ketua Jurusan Keperawatan FK UB Dr. Asti Melani Astari, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat saat dikonfirmasi TIMES Indonesia, Selasa (12/5/2020).

Asti meminta pemerintah peduli kepada Sumber Daya Manusia (SDM) keperawatan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas termasuk kesejahteraan perawat. Pemerintah harus siap untuk berinvestasi pada SDM keperawatan.

"Tidak perlu menunggu adanya wabah, pemerintah baru menyadari peran perawat. 80 persen tulang punggung tim kesehatan baik di dunia maupun Indonesia adalah perawat," paparnya.

Perempuan Cianjur Jawa Barat itu mengaku miris adanya stigma negatif masyarakat kepada perawat. Apalagi di berbagai kasus ada penolakan kepada tenaga kesehatan karena khawatir carier Covid-19.

Baginya, sudah menjadi keharusan untuk berkerja tulus serta mengabdi totalitas dengan kerja keras merawat pasien Covid-19. Seharusnya perawat mendapatkan apresiasi bukan malah sebaliknya.

"Sedih, miris dan sangat melukai profesi kami. Bagaimana pun para perawat yang mendapatkan stigma bahkan perlakuan negatif adalah manusia yang sama-sama punya rasa takut dan khawatir seperti masyarakat itu sendiri," ujar alumnus S3 Fakultas Keperawatan UI itu.

Sebagai institusi pendidikan yang mendidik perawat, lanjutnya, Jurusan Keperawatan FK UB mencetak perawat profesional, bertanggung jawab dan siap mengambil peran untuk mengedukasi masyarakat.

Perawat masa kini diminta untuk berbenah di berbagai sektor pelayanan seperti penataan SDM keperawatan sesuai penjenjangan Keilmuan Keperawatan (D3, Ners, Spesialis, Doktor). Selain itu, perawat dituntut untuk meningkatkan kompetensi SDM keperawatan melalui pelatihan berkelanjutan.

Dalam sektor pendidikan, imbuhnya, perlu adanya perbaikan kurikulum keperawatan yang sesuai pasar nasional dan internasional serta kondisi kesehatan terkini. Misalnya, masa pandemi atau bencana dan fleksibilitas kurikulum.

"Perlu juga meningkatkan publikasi penelitian di bidang ilmu keperawatan," tukasnya.

Ia menambahkan, sektor kebijakan perlu dilakukan pembenahan. Memperbanyak perawat yang mau dan mampu terlibat sebagai pengambil kebijakan. Saat ini ada satu perawat yang menjadi anggota DPR RI.

Perawat dianggap perlu mempunyai jiwa leadership untuk tampil dan mengambil peran sebagai pengambil kebijakan di tataran birokrasi maupun swasta.

"Di sektor organisasi, penting juga dilakukan optimalisasi peran Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) sebagai pemersatu dan pembela terdepan profesi perawat," tambahnya.

Sejak 1999 lahirnya keperawatan UB, institusi ini mengawali mendidik perawat alih program lulusan D3 menjadi S1. Tahun 2000, mulai membuka pendidikan S1 Keperawatan dari jalur SMA.

Hingga 2020 ini, Keperawatan UB telah meluluskan 1924 Ners yang tersebar di berbagai institusi pendidikan keperawatan, rumah sakit milik pemerintah maupun swasta, Dinas Kesehatan bahkan bekerja sebagai perawat di Luar Negeri.

Selain mendidik Ners, pihaknya juga membuka Program Magister Keperawatan Gawat Darurat dan Keperawatan Jiwa sejak 2013. Tahun 2019 menambah peminatan Program Magister Manajemen Keperawatan, Keperawatan Komunitas dan Keperawatan Medikal Bedah.

"Kami terus melakukan pengembangan Pendidikan Spesialis Keperawatan. Tahun 2021 rencananya membuka Pendidikan Spesialis Keperawatan Jiwa dan Spesialis Keperawatan Komunitas," bebernya.

Selain itu, Jurusan Keperawatan FK UB melakukan improvisasi dengan pengabdian masyarakat. Saat pandemi Covid-19, beberapa dosen dan mahasiswa menjadi tim Satgas Covid-19 baik tingkat UB maupun tingkat provinsi.

Asti Melani Astari, salah satu dari empat dosen pertama keperawatan UB berharap profesi perawat di Indonesia menunjukkan profesionalisme sebagai garda terdepan di masa pandemi Covid-19.

Mengacu era Florence Ningthingale, profesi keperawatan pada tahun 2020 ini telah berusia 200 tahun. Selaras dengan tema Hari Perawat Sedunia 2020 "A Voice To Lead, Nursing The World To Health", dosen senior Jurusan Keperawatan FK UB itu berharap sudah saatnya Profesi Keperawatan Indonesia melakukan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan yang menjadikan dunia sehat. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur
Sumber : TIMES Malang

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES