Advertisement
Peristiwa Nasional

BIN: Generasi Milenial Jadi Sasaran Utama Kelompok Terorisme

Badan Intelijen Negara atau BIN menyampaikan, saat ini kalangan muda mulai dari usia 17-24 tahun menjadi sasaran utama kelompok terorisme menyebarkan paham tersebut. Hal itu dikarenakan, generasi milenial itu adalah yang paling mudah terpapar radikalisme.

TIMES Indonesia,
BIN: Generasi Milenial Jadi Sasaran Utama Kelompok Terorisme
Penggunaan media sosial oleh generasi Milenial harus diperhatikan oleh pemerintah dan orang tua. Hal itu dikarenakan, penyebaran virus terosis saat ini menyasar kaum muda, yang diketahui paling banyak penggunanya. (FOTO: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
A-AA+

JAKARTA Badan Intelijen Negara atau BIN menyampaikan, saat ini kalangan muda mulai dari usia 17-24 tahun menjadi sasaran utama kelompok terorisme menyebarkan paham tersebut. Hal itu dikarenakan, generasi milenial itu adalah yang paling mudah terpapar radikalisme. Terutama dari media sosial.

"Media sosial disinyalir telah menjadi inkubator radikalisme, khususnya bagi generasi muda. Rentang kendali biasanya 17-24 tahun, ini yang menjadi target utama, selebihnya di atas itu second liner," ujar Deputi VII BIN Wawan Hari Purwanto, dikutip dari YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama.

Advertisement

Ia menyampaikan, pengguna internet atau media sosial mengalami peningkatan selama masa pandemi ini. Berdasarkan dari survei BNPT, sekitar 80 persen generasi milenial rentan terpapar radikalisme karena cenderung tak berpikir kritis.

"Ini menjadi catatan kita bahwa generasi milenial lebih cenderung dia menelan mentah, tidak melakukan cek-ricek. Dan sikap intoleran ini biasanya muncul kepada generasi yang tidak kritis di dalam berpikir," jelasnya.

Ia juga menjelaskan, potensi terpapar virus radikal generasi milenial melalui media sosial, karena juga terlalu banyak sekali konten terkait cara membuat bom. Selain itu, lanjut dia, ada pula yang akun-akun "hitam" yang mengajak mereka untuk bergabung menjadi anggota radikal tersebut.

"Oleh karenanya, kita selalu memberikan literasi dan patroli cyber kita, dan selalu menyampaikan untuk berpikir menanyakan kepada mereka-mereka yang berkompeten, sumber-sumber yang bisa dipercaya dan sahih," ujarnya.

"Penyebaran paham-paham radikal yang sering dibumbui narasi heroisme, kemudahan-kemudahan mengakses internet, dan banyaknya waktu luang. Kemudian konten dan narasi radikal kemudian disebar dengan mudah dan diakses oleh generasi muda," ujarnya soal terorisme. (*)

Advertisement

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Moh Ramli
PenulisMoh RamliPasca Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (2023). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan isu internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia