Peristiwa Nasional

Berdayakan Sistem Imun Seimbang untuk Cegah dan Sembuhkan Covid

Selasa, 01 Juni 2021 - 09:04 | 68.25k
Penulis adalah Ge Recta Geson. Pakar Probiotik Indonesia; Dirut PT AMA (Produsen PRO EM-1).
Penulis adalah Ge Recta Geson. Pakar Probiotik Indonesia; Dirut PT AMA (Produsen PRO EM-1).

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Covid-19 sudah dinyatakan WHO airborne, penyebarannya melalui udara. Coronavirus termasuk kelompok virus RNA mudah sekali berubah, mutannya bersifat contagious, lebih mudah menyebar. Meskipun kita sudah berusaha mematuhi protokol kesehatan mungkin suatu saat kita akan terpapar.

Dengan mematuhi protokol kesehatan yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, keluar rumah jika perlu, kalaupun terpapar, kita akan terpapar dalam jumlah yang sedikit atau viral load rendah.

Apa yang harus kita lakukan sebelum kita terpapar coronavirus?

1. Perkuat Imunitas tubuh dengan:
- Makan makanan yang bergizi seimbang.
- Cukup istirahat atau tidur.
- Olahraga teratur.

2. Berdayakan sistem imun tubuh. 
Sistem imun yang memiliki respon yang seimbang antara respon proinflamasi dan respon antiinflamasi.

Tuhan mengkaruniakan manusia sistem pertahanan tubuh yang lebih hebat daripada pertahanan militer terbaik negara manapun. Sayangnya sistem pertahanan ini dininabobokan dengan pemakaian antibiotik dan antivirus yang tidak rasional.

Pertahanan tubuh coba digantikan dengan oleh antibiotik dan antivirus yang justru merusak sistem imun. Memberdayakan sistem pertahanan tubuh sama dengan membangun sistem imun dengan respon yang seimbang.

Dengan memiliki respon imun yang seimbang antara respon proinflamasi dan antiinflamasi, kita bisa terhindar dari penyakit infeksi termasuk Covid-19 dan penyakit-penyakit lainnya seperti penyakit degeneratif dan penyakit lifestyle.

Sejak alexander Fleming menemukan penicilin pada 1928, yang diagungkan sebagai revolusi medis terbesar abad ini, ditabuhlah genderang perang “war on bacteria”. Peperangan manusia melawan mikroba ini dimenangkan oleh mikroba.

Banyak antibiotik dan antivirus baru tetapi selalu diikuti dengan terciptanya super patogen baru yang merupakan mutan dari strain asal. Sehingga tercipta penyakit infeksi baru yang resisten dengan antibiotik, seperti MRSA, VRE, CDI dan Pneumonia karena bakteri yang resisten antibiotik. [1,2]

Mikrobiota adalah komunitas ekologis mikroba yang terdiri dari bakteri, usus, jamur, archea beserta materi genetiknya yang memberi manfaat kesehatan inangnya. Mikrobiota ada pada atau dalam seluruh organ tubuh terutama dalam usus yang dinamakan gut microbiota (mikrobiota usus). Ciri terbangunnya mikrobiota usus adalah terbangun sistem imun dengan respon yang seimbang. [2]

Mikrobiota menstimulasi produksi sel imun dalam jaringan limphoid usus, sehingga usus dikatakan organ imun terbesar dalam tubuh. 80% sel imun dan 60% immunoglobulin diproduksi dalam usus. Mikrobiota meregulasi atau memodulasi respon imun supaya seimbang.

Respon imun yang seimbang antara proinflamasi dan antiinflamasi bisa menjadi baik profilaksis (pencegahan), maupun terapi (penyembuhan) berbagai macam penyakit termasuk Covid-19. Penyakit infeksi maupun penyakit kronis sejatinya terjadi karena ketidakseimbangan respon imun. [3,4]

Bagaimana membangun mikrobiota yang sehat?

1. Makan makanan fermentasi seperti yogurt, tempe, tape, kimchi dll.
2. Suplementasi multi strain probiotik yang hidup dan aktif dengan kepadatan tinggi seperti PRO EM1.
3. Konsumsi prebiotik, yaitu serat yang terdapat dalam sayur dan buah buahan, tidak dapat dicerna oleh enzim tubuh kita sendiri tapi merupakan makanan probiotik dalam usus.

PRO EM1 adalah pembangun mikrobiota yang sehat yaitu mikrobiota yang beragam dan seimbang (terdiri dari minimal 80% probiotik).

tabel-satu.jpg

tabel-dua.png

Referensi

[1] Sebastian Junger, 1997, The Perfect Storm, United States: W. W. Norton & Company. 

[2] Dr. Teruo Higa, 1993, An Earth Saving Revolution, Takadanobaba, Shinjuku-ku, Tokyo: Sunmark Publishing Inc. 

[3] Debojyoti Dhara, Abhishek Mohantyb (2020), Gut microbiota and Covid-19- possible link and implications. Virus Research 285 (2020) 198018 DOI: 10.1016/j.virusres.2020.198018

[4] S Salminen, C Bouley, M C Boutron-Ruault, J H Cummings, A Franck, G R Gibson, E Isolauri, M C Moreau, M Roberfroid, I Rowland (1998), Functional food science and gastrointestinal physiology and function. PMID: 9849357 DOI: 10.1079/bjn19980108

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES