Pro-Kontra Logo Baru Halal, Ini Pendapat Pengamat Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang
Perubahan logo baru halal oleh Kementerian Agama RI banyak mendapat perhatian publik termasuk di Kota Palembang baik yang mendukung maupun kontra ... ...

PALEMBANG – Perubahan logo baru halal oleh Kementerian Agama RI banyak mendapat perhatian publik termasuk di Kota Palembang baik yang mendukung maupun kontra. Lalu bagaimana pendapat Pengamat Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang Dr. Budi Santoso, M Comn.
Menurut Ketua Program Studi Magister Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang ini, dari sisi komunikasi, logo baru mengandung makna dan filosofi tertentu. Jika dilihat logo halal yang terbaru, maka ada upaya untuk menyelaraskan simbol Islam (halal dalam huruf arab) dengan tanda keindonesiaan (nusantara) yang disimbolkan dengan gunungan yang merupakan satu instrumen penting dalam pewayangan.
"Wayang adalah produk budaya yang dinilai sebagai asli nusantara, dan mungkin secara umum dapat dipertimbangkan sebagai representasi budaya indonesia,"terang Budi.
Di sisi lain, ia menjelaskan bisa saja merupakan strategi untuk melonggarkan keterikatan praksis religiusitas antara Islam Indonesia dengan simbol-simbol arab pada tataran sosial budaya. "Meskipun secara subtantif logo tersebut masih menggunakan aksara arab," ungkap pengajar di Stisipol Candradimuka Palembang ini.
Hanya saja Budi menambahkan penggunaan gunungan ini berpotensi menimbulkan persoalan lain yakni kecemburuan budaya. Namun tidak akan sampai pada level yang serius.
"Mengapa harus gunungan yang identik dengan budaya Jawa?, Mengapa bukan simbol ikonik lain? Oleh karena itu, saya menilai persoalan tanda/simbolisasi ini patut dicermati dalam berbagai perspektif,"ujar alumni Program Doktor Komunikasi Universitas Padjajaran ini.
Budi Santoso melanjutkan idealnya, pemerintah menggunakan ikon lain yang bisa merangkul kenusantaraan secara luas. Sebenarnya, logo yang lama tidak urgen untuk diganti. Kecuali mungkin ada alasan-alasan politik atau hal lain. Atas perubahan ini, kecil kemungkinan hal ini akan menimbulkan gesekan sosial dalam masyarakat.
"Namun akan lebih baik apabila pemerintah mensosialisasikan secara aktif makna religius/ filosofis dan alasan logis pemilihan ikon gunungan dibanding ikon lain," terang Ketua Program Studi Magister Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang Dr. Budi Santoso, M Comn.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


