Serangan Hacker Bjorka, Antropolog Ternate Singgung Keteladanan Elite Politik
Antropolog Universitas Khairun Ternate, Yanuardi Syukur menilai teknologi keamanan Siber Indonesia masih lemah. ... ... ...

JAKARTA – Munculnya Hacker Bjorka baru-baru ini menjadi atensi banyak pihak. Termasuk pakar Antropologi Universitas Khairun Ternate, Yanuardi Syukur.
"Aksi Bjorka tersebut tidak dibenarkan, sebab data orang dibuka-buka, akan tetapi karena sudah tersebar, kita dapat ambil maknanya," katanya kepada TIMES Indonesia, Kamis (15/9/2022).
Pertama, kata dia, keamanan siber yang masih lemah. Lemahnya bisa karena banyak faktor, salah satunya karena pemain teknologi yang masih tertinggal.
"Kurangnya kepakaran dalam cyber security atau sebab storage data kita tidak terjaga dengan aman, bahkan yang terenskripsi pun jika kurang canggih ada kemungkinan jebol," jelasnya.
Jika ini problemnya, lanjut pria asal Maluku Utara tersebut, berarti sistem pengamannya harus diperkuat. Ia memandang, keamanan data penting sekali bagi bangsa.
"Siapa yang kuasai informasi dia kuasai dunia. Jika data kita mudah dibajak orang, apalagi oleh satu atau dua kelompok, maka itu jadi melemahkan pertahanan digital kita. Saya pikir pakar IT kita harus mencari cara bagaimana agar data kita bisa betul-betul aman secara teknologi, tidak bisa terbajak oleh hacker," katanya.
Selanjutnya, ia menjelaskan, ada satu jenis perang baru, yakni perang negara versus kelompok transnasional online. Dulu, kata dia, gerakan transnasional merujuk pada gerakan terorisme seperti Al Qaeda atau ISIS yang lintas batas.
"Kini, 'teroris online' juga dapat meretas data kita, dan itu termasuk bahaya yang harus dicarikan solusinya. Untuk itu, penguatan IT kita sangat penting untuk kedaulatan digital kita," katanya.
Hal lain, yang tak kalah lebih penting menurut penulis buku 'Revolusi Intelektualitas Bangsa Indonesia' tersebut menyampaikan, agar elite politik tanah air menunjukkan teladan sama di depan dan sama di belakang.
"Tidak mudah, akan tetapi menjadi teladan itu penting dan baik untuk generasi muda kita. Semakin jadi teladan dan koheren antara depan dan belakang, maka itu akan bagus bagi anak-anak sekarang yang nanti akan jadi pemimpin," ucapnya.
"Siapa pun di balik Bjorka, kedaulatan digital kita harus ditingkatkan, dan keteladanan semua pihak perlu untuk diperjuangkan kembali," jelasnya.
Menurutnya, krisis keteladanan akan berdampak pada resistensi digital, dan pada gilirannya akan berdampak pada peretasan data pribadi yang harusnya tidak perlu.
"Poin paling penting menurut saya, mungkinkah dipastikan bahwa data kita betul-betul aman dari kemungkinan diretas atau disalahgunakan pihak yang tidak bertanggungjawab?" katanya.
Antropologi untuk Keamanan Siber
Yanuardi menjelaskan, antropologi adalah studi tentang manusia dari berbagai aspeknya. Semua faktor dan konteks yang relevan terkait manusia dapat dikaji oleh antropologi, tak terkecuali soal keamanan siber.
"Keamanan siber menjadi penting sebab saat ini at least 8 jam per hari umumnya orang mengonsumsi internet. Maka, keamanan siber menjadi penting untuk ditelaah," katanya.
Ia memaparkan, Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) AS mengartikan keamanan siber adalah seni melindungi jaringan, perangkat, dan data dari akses tidak sah atau penggunaan kriminal dan praktik untuk memastikan kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi.
"Menurut CISA, semuanya bergantung pada komputer dan internet sekarang yang dipakai," jelas pria penerima penghargaan nasional Pena Award 2013 tersebut.
Menurutnya, berbagai aktivitas tersebut terkait dengan budaya manusia dalam berinteraksi dengan dunia siber. Tapi kata dia, tak semua orang pintar dan cakap secara siber.
"Ada banyak kasus orang yang IQ-nya tinggi, berprestasi dan terkenal tapi 'miskin' dalam kecerdasan siber. Untuk itu, dibutuhkan kecakapan siber khususnya dalam keamanan siber," ujarnya.
Hacker Bjorka Teridentifikasi
Sebelumnya, Menkopolhukam Mahfud MD menyampaikan, gambaran mengenai Hacker Bjorka sudah diidentifikasi oleh Badan Intelejen Negara atau BIN dan Polri.
“Kita terus menyelidiki karena sampai sekarang ini memang gambaran pelakunya sudah teridentifikasi dengan baik oleh BIN dan Polri, tetapi belum bisa diumumkan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (14/9/2022) kemarin.
Kata dia, BIN dan Polri akan terus memburu Hacker Bjorka. Menurutnya, BIN dan Polri sudah memiliki kekuatan untuk melakukan pengerjaan tersebut. “Gambaran siapa dan di mana itu kita sudah punya alat untuk melacak itu semua,” katanya.
Mantan ketua MK itu juga menyampaikan soal motif dibalik aksi Hacker Bjorka.
Menurutnya, apa yang dilakukan Hacker tersebut tak berbahaya karena hanya membongkar data yang umum saja.
“Motifnya ternyata juga gado-gado. Sehingga motif-motif kaya gitu itu sebenarnya tidak ada yang terlalu membahayakan," ujarnya soal Hacker Bjorka. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


