Peristiwa Nasional

Optimisme tidak Boleh Surut untuk Hadapi Tantangan Ekonomi Global

Rabu, 10 Januari 2024 - 21:33 | 19.62k
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. (FOTO: MPR RI)
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. (FOTO: MPR RI)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu, optimisme tidak boleh surut. Pemerintah dan masyarakat harus dapat bersama-sama mewujudkan amanat konstitusi yaitu keadilan dan kemakmuran yang mampu dinikmati masyarakat secara merata. 

"Kesadaran bersama perlu dibangun bahwa setiap peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain yang berdampak pada dinamika ekonomi suatu negara," kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat saat membuka diskusi daring bertema Prospek Ekonomi Indonesia 2024 yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12, Rabu (10/1/2024). 

Diskusi yang dimoderatori Dr. Radityo Fajar Arianto, MBA (Tenaga Ahli Wakil Ketua MPR RI) itu menghadirkan Yustinus Prastowo (Juru Bicara Kementerian Keuangan Republik Indonesia), 
Prof. Didik J. Rachbini, M.Sc., Ph.D. (Pendiri Institute for Development for Economics and Finance/INDEF - Rektor Universitas Paramadina) dan Akhmad Akbar Susamto, S.E., M.Phil., Ph.D. (Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM) sebagai narasumber. 

Selain itu juga hadir Raja Suhud (Wartawan Media Indonesia Bidang Ekonomi) sebagai penanggap. 

Menurut Lestari, transformasi lanskap geopolitik dengan sejumlah krisis yang menyertai mesti menjadi cermin penting dalam penataan maupun penentuan prospek ekonomi dalam negeri pada tahun ini. 

Catatan lain, ujar Rerie sapaan akrab Lestari, saat ini kita berhadapan dengan perubahan iklim yang berdampak pada ketahanan pangan dalam negeri. 

Berdasarkan kondisi itu, Rerie yang juga legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu menilai, 2024 merupakan tahun yang sangat menantang. 

Apalagi, ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, tahun ini pesta demokrasi digelar dan harus dilalui dengan gembira sebagai bagian dari pendidikan politik suatu bangsa. 

Juru Bicara Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Yustinus Prastowo mengungkapkan sejumlah indikator penerimaan negara cukup baik. 

Menurut Yustinus, tata kelola keuangan yang kredibel menghasilkan keseimbangan primer yang positif. Diakui dia, proyeksi pertumbuhan PDB cukup bagus di angka 5,2%.

Geliat sektor riil, ujar Yustinus, mulai terasa dengan mulai meningkatnya belanja bahan baku dan belanja modal. 

Strategi pemerintah dalam menghadapi tantangan 
di masa transisi tahun ini, ujar Yustinus, antara lain mengendalikan inflasi, menekan angka stunting dan terus berupaya mendorong peningkatan investasi. 

Sedangkan dalam jangka menengah dan panjang, menurut dia, pemerintah akan berupaya mengatasi human capital gap, infrastruktur gap dan institusional gap yang terjadi. 

Menurut Yustinus dengan sejumlah langkah itu pemerintah berharap Indonesia keluar dari potensi jebakan kelas menengah. 

Pendiri INDEF, Didik J. Rachbini berpendapat dunia politik dan ekonomi itu sama-sama berdasarkan kontrak. Proses kontrak yang baik, menurut Didik, berdasarkan demokrasi, karena persyaratan kontrak yang bagus itu harus transparan dan seimbang. 

Diakui Didik, pada praktik demokrasi kita selama lima tahun ini proses check and ballances nya mati dalam pengambilan sejumlah keputusan. 

Menurut dia, janji presiden dalam bidang ekonomi pada 2019 hanya satu indikator yang terealisasi yaitu inflasi yang terkendali.

Menurut Didik, di masa pandemi Covid-19 justru terjadi penyimpangan dari rencana keuangan dan sejak itulah pemerintah menarik utang dengan nilai di atas Rp1.000 triliun setiap tahun yang menjadi beban APBN. 

Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Akhmad Akbar Susamto mengungkapkan terjadi penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2024.

Akhmad juga memperkirakan inflasi dan suku bunga masih cukup tinggi sehingga kondisi keuangan global masih ketat. 

Dia juga memperkirakan nilai tukar rupiah relatif lemah karena ada potensi capital outflow. Berdasarkan kondisi tersebut, menurut Akhmad, Bank Indonesia akan terapkan suku bunga acuan tetap 6%. 

Kebijakan tersebut, tegasnya, berkonsekuensi pada laju pertumbuhan kredit yang melambat. Sehingga, tambah Akhmad, kita hanya bisa berharap pada sektor riil untuk mendorong perekonomian. 

Wartawan Media Indonesia Bidang Ekonomi, Raja Suhud berharap pemerintah dapat mengendalikan tingkat inflasi. 

Raja menilai potensi inflasi di sektor pangan meningkat tajam harus diwaspadai sebagai dampak sejumlah krisis geopolitik antarsejumlah negara yang masih terjadi. 

Menurut dia, dalam indeks konsumen porsi cicilan utang masyarakat naik dari 9,3% menjadi 10%. Kelompok masyarakat kelas menengah, tambah dia, mulai menggunakan tabungan untuk membayar kebutuhan hidupnya. 

Raja berharap pemerintah mampu menerapkan kebijakan yang lebih baik dari sisi pengendalian harga, demikian juga dengan BI mampu mengendalikan sisi moneter, agar perekonomian tetap terkendali. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES