Peristiwa Nasional

Muhaimin Iskandar: Pemerintah Abai Terhadap Nasib Petani dan Nelayan

Minggu, 21 Januari 2024 - 20:41 | 17.74k
Cawapres Muhaimin Iskandar saat debat di JCC, Jakarta. (FOTO: dok TIMES Indonesia)
Cawapres Muhaimin Iskandar saat debat di JCC, Jakarta. (FOTO: dok TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Cawapres dari Koalisi Perubahan Muhaimin Iskandar menyampaikan pendiri NU Kiai Hasyim Asy'ari mengatakan, petani adalah penolong negeri. 

"Akan tetapi hari ini kita menyaksikan negara dan pemerintah abai terhadap nasib petani kita, dan nelayan kita," kata Muhaimin saat debat cawapres di JCC, Jakarta, pada Minggu (12/1/2024).

Ia juga menyampaikan, saat ini masyarakat menyaksikan, hasil sensus pertanian, dari data BPS menunjukkan bahwa, 10 tahun ini telah terjadi jumlah petani rumah tangga gurem, berjumlah hampir 3 juta. 

"Ini artinya, 16 juta rumah tangga petani hanya memiliki tanah setengah hektare. Sementara ada seseorang yang memiliki tanah 500 ribu hektare sebagai kekuasaan yang diberikan negara kepadanya," jelasnya.

Disisi lain, kata Ketum PKB itu, masyarakat juga sangat prihatin, upaya pengadaan pangan nasional dilakukan melalui food estate oleh pemerintah pusat.

"Food estate terbukti mengabaikan petani kita, meninggalkan masyarakat adat kita, menghasilkan konflik agraria dan bahkan merusak lingkungan kita. Ini harus dihentikan," katanya.

Muhaimin juga menyinggung soal krisis iklim. Kata dia, krisis iklim kini terjadi di Tanah Air, dan masyarakat menyaksikan bencana ekologi terjadi dimana-mana. Menurutnya, negara harus serius mengatasinya. "Tidak hanya mengandalkan proyek yang tidak menghasilkan masalahnya," jelasnya.

Ia juga menilai, masyarakat Indonesia harus sadar bahwa krisis iklim harus dimulai dengan etika. "Sekali lagi etika. Etika lingkungan. Etika lingkungan intinya adalah keseimbangan antara manusia dan alam, tidak menang-menangan, seimbang manusia dan alam," katanya.

"Akan tetapi kita menyaksikan bahwa kita tidak seimbang dalam melaksanakan pembangunan kita. Kita melihat ada yang namanya krisis iklim, tidak diatasi dengan serius," ujar Muhaimin Iskandar. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES