Peristiwa Nasional

Kemenag RI Imbau Jaga Toleransi dan Saling Hormati Sikapi Perbedaan Awal Puasa

Jumat, 08 Maret 2024 - 17:36 | 22.56k
Juru Bicara Kementerian Agama, Anna Hasbie. (Foto: Kemenag RI)
Juru Bicara Kementerian Agama, Anna Hasbie. (Foto: Kemenag RI)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag RI) mengajak masyarakat untuk memprioritaskan sikap saling menghormati terhadap perbedaan dalam menentukan awal puasa Ramadan 1445 H/2024 M. Selain itu, pentingnya dialog antarpihak juga harus ditekankan guna memahami dan saling berbagi informasi terkait argumentasi masing-masing dalam memulai ibadah puasa.

Pesan ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Agama, Anna Hasbie, terkait dengan variasi awal puasa Ramadan 1445 H/2024 M di Indonesia.

Mayoritas umat Islam di Indonesia akan memulai puasa Ramadan 1445 H pada tanggal 11 atau 12 Maret. Pengumuman awal puasa Ramadan telah dilakukan oleh Majelis Tarjih Pengurus Pusat Muhammadiyah pada tanggal 11 Maret 2024. Sementara itu, Pemerintah akan menggelar sidang isbat awal Ramadan 1445 H pada tanggal 10 Maret 2024 untuk menentukan apakah puasa Ramadan dimulai pada tanggal 11 atau 12 Maret.

Namun demikian, terdapat kelompok jemaah yang telah memulai puasa sejak tanggal 7 Maret, serta yang akan memulainya pada tanggal 10 Maret. "Kita harus menghormati pilihan dan keyakinan umat Islam dalam memulai puasa Ramadan 1445 H/2024 M. Sikap saling menghormati sangat penting dalam menghadapi perbedaan ini," ungkap Anna di Jakarta, Jumat (8/3/2024).

Anna menekankan perlunya terus membuka ruang dialog dalam semangat saling menghormati ini. Pengetahuan ilmiah, termasuk dalam bidang astronomi, menjadi penting dalam penentuan awal bulan Hijriyah melalui hisab dan rukyatul hilal. Oleh karena itu, argumentasi yang disampaikan haruslah ilmiah.

"Kemenag terus mengadakan dialog dan diskusi terkait penentuan awal Ramadan. Dari situ, diharapkan akan terjadi pertukaran informasi dan pemahaman terkait pilihan dalam memulai puasa Ramadan," tambahnya.

Muhammadiyah, sebagai contoh, telah menetapkan awal Ramadan pada tanggal 11 Maret dengan argumentasi hisab _wujudul hilal_. Sementara itu, Pemerintah menggunakan pendekatan Hisab sebagai informasi awal dan Rukyatul Hilal sebagai konfirmasi.

"Bagaimana dengan argumentasi memulai Ramadan 1445 H pada tanggal 7 Maret atau 10 Maret? Kita dapat berdiskusi untuk saling memahami," lanjut Anna.

Selain itu, Anna juga menyoroti pentingnya umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan menjaga kekhusyukan dan kekhidmatan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mematuhi Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022 tentang Pedoman Penggunaan Pengeras Suara di Masjid dan Musala.

"Edaran tersebut mengatur penggunaan pengeras suara dalam pelaksanaan Salat Tarawih, ceramah/kajian Ramadan, dan tadarrus Al-Qur’an, serta penggunaan pengeras suara luar untuk takbir Idulfitri di masjid/musala hingga pukul 22.00 waktu setempat," jelasnya.

Dengan demikian, menghormati perbedaan dan menjaga kekhusyukan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan adalah hal yang sangat penting bagi umat Islam di Indonesia. Dengan sikap saling menghormati dan dialog yang terbuka, diharapkan dapat tercipta pemahaman yang lebih baik di antara umat Islam dalam menjalani ibadah puasa Ramadan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES