Peristiwa Nasional

Komnas Perempuan Ingin Penyelidikan Dugaan Asusila pada Ketua KPU RI Menuju Proses Pidana

Minggu, 21 April 2024 - 19:29 | 27.99k
Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta (FOTO: Farid Abdullah/ TIMES Indonesia)
Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari saat ditemui di Kantor KPU, Jakarta (FOTO: Farid Abdullah/ TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendorong agar dugaan pelanggaran etik yang terkait kasus dugaan tindak asusila yang melibatkan Ketua Komisi Pemilihan Umum RI (KPU RI), Hasyim Asy'ari ditangani melalui proses peradilan pidana.

“Kalau kita lihat kepada semangat Undang-Undang Nomor 12 tahun 2022 bahwa setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan khususnya kekerasan seksual itu harus diselesaikan melalui sisi peradilan pidana,” kata Komisioner Komnas Perempuan, Siti Aminah dalam keterangan pers yang diterima TIMES Indonesia, Minggu (21/4/2024).

Ia juga menyatakan bahwa Komnas Perempuan terus mengamati dan mengikuti perkembangan laporan mengenai dugaan tindak asusila yang dilakukan oleh Hasyim.

"Namun, terkait dengan ini Komnas Perempuan, masih dalam proses memantau dan mengikuti perkembangan yang dilakukan DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu)" ucapnya.

Kronologi Dugaan Asusila Ketua KPU

Sebagai informasi. Hasyim Asy'ari kembali dilaporkan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) pada Kamis (18/4/2024).

Hasyim dilaporkan menggunakan kekuasaannya untuk mendekati, membina hubungan romantis, dan melakukan tindakan asusila dengan seorang anggota Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) yang bertugas di Eropa.

"Cerita pertama kali ketemu itu di Agustus 2023. Itu sebenarnya juga dalam konteks kunjungan dinas. Itu pertama kali bertemu, hingga terakhir kali peristiwa terjadi di bulan Maret 2024," ujar kuasa hukum korban sekaligus pengadu, Maria Dianita Prosperiani.

Diketahui, Mereka sering bertemu beberapa kali, baik saat Hasyim melakukan kunjungan dinas ke Eropa, maupun ketika korban melakukan kunjungan dinas di dalam negeri.

Kuasa hukum lain dari korban, Aristo Pangaribuan, mengungkapkan bahwa ketika mereka berada dalam jarak yang terpisah, Hasyim secara konsisten melakukan upaya aktif untuk menghubungi korban.

"Hubungan romantis, merayu, mendekati untuk nafsu pribadinya," jelasnya. 

Namun, Aristo menyatakan bahwa tidak ada tindakan intimidasi atau ancaman yang terlibat dalam dugaan penggunaan relasi kekuasaan yang dilaporkan dilakukan oleh Hasyim Asy'ari.

Di samping itu, Kuasa hukum juga menolak memberikan jawaban yang pasti mengenai apakah tindakan asusila yang dilaporkan juga melibatkan pelecehan seksual atau tidak. Namun, sebagai akibat dari tindakan Hasyim, korban dipaksa untuk mundur sebelum pemungutan suara pemilihan umum (Pemilu) 2024 dilaksanakan.

Terlebih lagi, Korban juga membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberanian dalam membuat laporan semacam ini. Pengacara menyanggah adanya motif politik di balik laporan korban ini.

"Sebenernya sih sudah mau dilaporkan, dari terakhir-terakhir sudah mau dilaporkan tapi takut kontraproduktif. Kenapa? Karena kan mau ada pemilu pada waktu itu dan ini sudah lama, ini proses penyusunannya, membuat ini kan tidak sederhana," ucapnya. 

Selain itu, ia juga menyatakan telah menghimpun banyak bukti terkait perilaku Hasyim, termasuk bukti bahwa korban telah meminta agar tidak diganggu namun menolak untuk mengungkapkannya kepada media.

"Barang bukti ada banyak. Ada misalnya percakapan-percakapan, ada foto-foto, ada bukti-bukti tertulis," ungkapnya. 

Oleh karena itu, Aristo mengatakan bahwa timnya sedang meninjau opsi untuk melaporkan kasus yang serupa kepada pihak kepolisian.

"Kita lagi kaji apakah nanti sampai ke sana atau tidak. Pelaporan ke DKPP yang pertama. Karena untuk mengumpulkan keberanian untuk sampai ke sini saja sudah luar biasa," pungkasnya terkait dugaan kasus asusila terhadap Ketua KPU RI. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES