Peristiwa Nasional

Muhammadiyah: Ritual Penyembelihan Hewan Kurban Merupakan Dekonstruksi Ruhaniah

Senin, 17 Juni 2024 - 10:07 | 18.10k
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (FOTO: dok Muhammadiyah)
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (FOTO: dok Muhammadiyah)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, sebanyak apapun harta, kekuasaan, dan segala kekayasn di dunia sungguh kehilangan makna dan faedah manakala ditumpuk tanpa dijadikan amal shaleh. 

“Ketika menghadap Allah di Hari Akhirat, apa yang hendak disetorkan dan menjadikan modal kita masuk surga?”tanya Haedar, Senin (17/6/2024).

 Karenanya setiap muslim jadilah hamba-hamba kekasih Allah yang rela berkorban untuk kebaikan hidup orang banyak agar hidup ini bermakna utama. Dasar dan pusat seluruh ibadah itu ialah pengabdian total kepada Allah yang berbasis tauhid. 

“Mengesakan Tuhan yang membawa dampak profetik pada seluruh kehidupan setiap insan muslim yang menjalankannya. Agar manusia hidup tidak sekadar hidup sebagaimana habitat hewan dan tumbuhan. Namun hidup yang memiliki fondasi dan orientasi nilai yang luhur dan bermakna,”imbuh Haedar.

Haedar juga mengungkapkan bahwa hidup hewan dan tumbuhan meski sama-sama berfaedah, mereka hanya mengikuti sunatullah lahir dan mati. Sedangkan manusia diberi tugas khusus yang bermakna sekaligus berfaedah yakni beribadah ( QS Adz-Dzariyat: 56) dan menjalankan kekhalifahan di muka bumi (QS Al-Baqarah: 30; Hud: 60). Tujuannya agar hidup manusia   selamat di dunia dan akhirat (QS Al-Baqarah: 201) untuk meraih ridla dan karunia Allah (QS Al-Fath: 29). Bukan hidup sekadar hidup untuk kemudian mati tanpa arti.

“Jika manusia sekadar hidup untuk memenuhi kepentingan inderawi seperti makan, minum, hasrat biologis, dan hal-hal duniawi semata,  maka derajat kehidupannya belum memenuhi syarat sebagai insan “fi ahsan at-taqwim”,”ungkap Haedar.

 Karenanya, lanjut Haedar, momentum idul adha dalam ritual penyembelihan hewan kurban, sejatinya merupakan proses dekonstruksi ruhaniah secara total agar setiap muslim keluar dari belenggu hasrat-hasrat primitif menuju martabat insan mulia.

“Mari kita terus bermunajat kepada Allah agar pasca ‘Idul Adha segenap Muslim makin menjadi insan yang shaleh, yang mau berkorban dalam menunaikan kebajikan dan ketaqwaan.  Seraya dengan itu insan beriman harus berani menjauhi yang buruk dan munkar agar kehidupan dilimpahi berkah Allah. Hidup di dunia ini sejatinya fana yang harus diisi dengan iman, ilmu, dan amal shaleh yang membawa keselamatan di akhirat kelak nan abadi,”tutur Haedar.

 Terakhir, Haedar mengajak untuk terus menanam benih-benih kebaikan dalam hidup yang tidak terlalu lama ini, sehingga ketika menghadap Allah sudah berbekal amal shaleh dan menutup lembaran hidup ini dengan husnul khatimah. 

“Kita tidak tahu kapan Allah mengambil ajal kita, karena hidup dan mati setiap insan sepenuhnya di tangan Allah. Jangan menunda-nuda waktu untuk berbuat kebaikan termasuk dalam berqurban, karena kita sungguh tidak tahu ambang batas hidup ini,”ungkap Haedar.

 Jadikan kehidupan ini penuh arti dengan fondasi iman, Islam, dan ihsan yang bermuara taqwa guna meraih kebahagiaan di dunia akhirat dengan meraih surga jannatun na'im dalam rengkuhan ridha dan karunia Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES