Peristiwa Nasional

Menag: Indonesia Best Practice Membangun Dialog Agama dan Peradaban

Rabu, 10 Juli 2024 - 16:52 | 13.95k
Menag, Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Grand Syaikh Al Azhar, Imam Akbar Prof. Dr Ahmad Al Tayeb. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia) 
Menag, Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Grand Syaikh Al Azhar, Imam Akbar Prof. Dr Ahmad Al Tayeb. (FOTO: Fahmi/TIMES Indonesia) 

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu contoh terbaik dalam membangun dialog agama dan peradaban.

Hal ini disampaikan Menag dalam sambutannya pada acara resepsi bersama Grand Syaikh Al Azhar, Imam Akbar Prof. Dr Ahmad Al Tayeb yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di salah satu hotel Jakarta pada Rabu (10/7/2024). 

“Indonesia adalah salah satu contoh best practice dalam membangun dialog antaragama dan peradaban,” ucap Menag yang akrab disapa Gus Men dalam sambutannya. 

Gus Men, sapaan akrab Menag, mengawali sambutannya dengan menyampaikan salam enam agama. Menurut Gus Men, salam itu bagian dari cara Indonesia merawat kerukunan.

"Di tengah keragaman agama (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghucu), aliran kepercayaan, suku, ras dan golongan, bangsa ini dapat hidup berdampingan, penuh harmoni," sambungnya.

Gus Men mengatakan, dunia saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja. Konflik antarnegara, konflik antaragama, bahkan intra agama masih kerap terjadi. Di antara sebab konflik tersebut adalah tidak adanya kesalingan antarkomponen; tidak saling memahami, tidak saling mengerti, dan tidak saling mencintai. 

Salah satu cara terbaik untuk mencegah konflik tersebut, kata Menag, adalah dengan membangun dialog antaragama dan dialog antarperadaban. Tentu yang didialogkan adalah persoalan-persoalan kemanusiaan dan peradaban.

“Isu-isu universal seperti keadilan, kesetaraan, perdamaian, ekologi, dan keberlangsungan bumi menjadi kalimatun sawa’ yang dapat mempertemukan berbagai komponen masyarakat, pengikut agama dan bangsa,” paparnya.

"Perdamaian, keselamatan, dan cinta adalah inti ajaran agama-agama. Dalam Islam, Nabi Muhammad menekankan pentingnya ifsyā’ as-salām (menebar salam perdamaian). Dalam Kristen dikenal ajaran cinta kasih. Dalam Hindu diajarkan konsep Tri Kaya Parisudha, Tri Hita Karana, dan Catur Paramita. Dalam Buddha dikenal konsep Dhamma yang mengajarkan tentang keselamatan dalam kebenaran universal. Dan dalam Konghuchu diajarkan 4 Watak Sejati yang harus dibina oleh setiap umat manusia, salah satunya adalah Ren yang berati cinta kasih," sebut Menag.

"Ajaran luhur agama-agama seperti ini mari kita jadikan sebagai nilai sekaligus spirit untuk berdialog antarsesama, sehingga cita-cita kita semua untuk mewujudkan perdamaian dunia bisa terwujud," tandasnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES