Persiapan Haji 2025, Lia Istifhama Minta Jemaah Perhatikan Istitha’ah

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Menjelang pelaksanaan ibadah haji tahun 2025, Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama M.E.I , mendorong seluruh jemaah haji untuk memperhatikan syarat istitha’ah (kemampuan fisik) dalam beribadah.
Tujuannya adalah agar jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar dan sempurna, tanpa kendala kesehatan yang dapat mengganggu kelancaran ibadah mereka.
Advertisement
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ning Lia, sapaan akrab Anggota Komite III DPD RI ini, saat menjadi Keynote Speaker dalam seminar bertajuk Jalin Silaturahmi antara RS Haji Provinsi Jawa Timur dan Penyelenggara Ibadah Haji Khusus, Kamis (27/2/2025).
Seminar ini dihadiri oleh puluhan travel haji dan sejumlah narasumber, di antaranya Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Drg Sulvy Dwi Anggraini, Spesialis Penyakit Dalam RSUD Haji, dr. Agus Thoha, Sp.PD, Wakil Direktur Penunjang Medik dan Diklit, drg. Ansarul Fahrudda, serta Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia berbagi pengalaman pribadi mengenai masalah kesehatan yang sering dialami jemaah haji.
“Saya sendiri pernah mengalami maag saat perjalanan menuju Tanah Suci. Hal ini mengingatkan saya akan pentingnya fasilitas kesehatan yang lengkap sebelum berangkat ke Tanah Suci,” kata Ning Lia.
Ning Lia juga mengatakan, jika memang sangat penting melakukan pemeriksaan kesehatan oleh fasilitas di bawah Dinas Kesehatan Provinsi. Hal itu karena RS Pemerintah mengetahui persyaratan dan kebutuhan jemaah haji di tanah suci.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Lia juga mengingatkan tantangan kesehatan bagi jemaah haji lanjut usia, terutama yang berusia hingga 90 tahun.
"Meskipun usia lanjut membawa tantangan fisik, tentu jamaah harus optimis dengan persiapan kesehatan yang matang agar jemaah haji lanjut usia tetap dapat menjalankan ibadah haji dengan lancar," paparnya.
“Perhatian terhadap istitha’ah jemaah haji sangatlah penting untuk memastikan kemampuan fisik mereka dalam menjalankan ibadah,” sambung Ning Lia.
Ning Lia menjelaskan jika di Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan jumlah jemaah haji nomor dua terbanyak di Indonesia. Namun, yang perlu diapresiasi dalam beberapa tahun terakhir, terdapat penurunan jumlah jemaah yang signifikan.
“Penurunan ini harus menjadi perhatian kita bersama. Kita tidak bisa hanya berbangga dengan angka besar tanpa memperhatikan upaya pelayanan maupun pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dari semua elemen,” jelasnya.
Menurutnya, terkait dengan pelayanan kesehatan jemaah haji, Lia menjelaskan ada dua strategi utama yang perlu diterapkan yakni strategi aktif dan pasif.
"Strategi aktif bertujuan untuk mengurangi risiko kesehatan jemaah, seperti mengurangi angka kematian dan masalah kesehatan lainnya, terutama di tahun 2025. Sementara itu, strategi pasif lebih fokus pada pengurangan biaya layanan kesehatan, yang bisa lebih efektif jika didukung oleh budaya hidup sehat di kalangan jemaah," jelasnya.
Ning Lia menekankan pentingnya menjaga kesehatan psikologis jemaah haji, karena faktor psikologis berpengaruh pada tingkat okupansi rumah sakit dan dapat mempengaruhi kesehatan fisik mereka.
“Jadi sangat penting bagi travel haji untuk memastikan bahwa setiap jemaah menjalani pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh dan terintegrasi, guna mencegah masalah kesehatan yang dapat mengganggu kelancaran ibadah mereka,” jelasnya.
Sementara, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Drg. Sulvy Dwi Anggraini mengatakan, perlunya cek kesehatan haji yakni agar dokter pendamping haji sudah memahami dengan baik masalah kesehatan yang umum dialami oleh jemaah haji, serta mampu memberikan pendampingan yang tepat, baik terkait obat-obatan maupun penanganan lainnya.
"Tujuannya agar pendampingan tenaga medis saat haji nanti berjalan dengan baik pelayananya," ungkapnya.
Dr. Agus Thoha, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam RSUD Haji, menambahkan istitha’ah kesehatan bagi jemaah haji diatur dalam PMK nomor 15 Tahun 2026 tentang Istitha’ah Kesehatan, yang mengacu pada Surat Edaran Kemendagri nomor 450/1861/SJ.
“Penting untuk memastikan jemaah haji dalam kondisi fisik yang prima sebelum berangkat ke Tanah Suci,” ujar dr. Agus.
Sementara, Wakil Direktur Penunjang Medik dan Diklit RS Haji, drg. Ansarul Fahrudda, menekankan pentingnya pendataan kondisi kesehatan jemaah haji, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit kronis.
"Data kesehatan ini akan membantu petugas dalam memberikan perawatan yang tepat, termasuk upaya pencegahan dan perawatan khusus selama masa manasik haji," katanya.
Rosidi Roslan, Kepala BBKK Surabaya, mengingatkan bahwa dalam pelaksanaan ibadah haji, tidak boleh ada paksaan bagi jemaah yang kondisi kesehatannya tidak memadai.
“Kita harus mengikuti aturan yang ada, agar jemaah bisa menjalankan ibadah dengan aman dan sehat,” tegas Rosidi. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Deasy Mayasari |
Publisher | : Sholihin Nur |