Fadli Zon: Indonesia Perlu Menemukan Kembali Jati Dirinya
Diskusi serius soal arah kebudayaan Indonesia kembali mengemuka dalam forum GREAT Lecture bertajuk “Polemik Kebudayaan Manusia Indonesia: Dunia Baru dan Kebudayaan Baru” di Golden Ballroom 2, Hotel Sultan, Jakarta.

Jakarta – Diskusi serius soal arah kebudayaan Indonesia kembali mengemuka dalam forum GREAT Lecture bertajuk “Polemik Kebudayaan Manusia Indonesia: Dunia Baru dan Kebudayaan Baru” di Golden Ballroom 2, Hotel Sultan, Jakarta.
Acara ini menghadirkan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, sebagai pembicara utama. Sejumlah tokoh lintas bidang ikut menjadi penanggap, di antaranya sosiolog dan sastrawan Okky Madasari, Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifuddin, peneliti GREAT Institute Hanief Adrian, pemikir Studia Humanika ITB Alfathri Adlin, filsuf Muhammad Misbahudin, serta pendiri Ubud Writers & Readers Festival Janet DeNeefe. Diskusi dipandu Khalid Zabidi, Direktur Komunikasi GREAT Institute.
Ketua Dewan Direktur GREAT Institute, Dr. Syahganda Nainggolan, membuka acara dengan kritik terhadap para elite yang menurutnya belum sepenuhnya memahami kebudayaan.
“Elit harus mengerti budaya di wilayah yang dipimpinnya. Kalau diskusi kebudayaan berhenti, kita kehilangan keadaban,” ujarnya. Ia mencontohkan polemik di Pati, di mana kebijakan menaikkan PBB tanpa memahami kondisi sosial-ekonomi masyarakat berujung pada kejatuhan bupati setempat.
Fadli Zon: Budaya Indonesia Adalah Mega-Diversity
Dalam orasinya, Fadli Zon mengajak bangsa ini untuk melakukan reinventing Indonesia’s identity — menemukan kembali jati diri kebudayaan nasional. Ia mengingatkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan keragaman budaya terkaya di dunia, baik yang berwujud (tangible) maupun tak berwujud (intangible).
“Yang intangible saja ada 2.213, namun baru 16 yang diakui UNESCO: dari wayang, batik, keris, hingga jamu dan reog,” ujarnya. Fadli juga menyinggung Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 yang menegaskan peran negara dalam memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.
Namun ia khawatir kebebasan budaya kini semakin terhimpit. Mengutip temuan arkeologis, Fadli menegaskan bahwa Indonesia sudah menjadi simpul global sejak zaman purba. “Lukisan gua tertua di dunia ada di Muna dan Maros, jauh sebelum Eropa. Kita ini melting pot sejak awal, bukan tujuan, tapi titik keberangkatan,” katanya.
Okky Madasari: Tolak Narasi Tunggal
Okky Madasari menyoroti generasi muda Indonesia yang menurutnya kosmopolitan, kreatif, dan kritis terhadap arus global. Ia menegaskan sejarah kebudayaan bangsa ini lahir dari perlawanan terhadap dominasi wacana.
“Menulis ulang sejarah itu penting, tapi harus melibatkan publik, akademisi, dan sastrawan, bukan hanya pemerintah,” ujarnya. Baginya, kebebasan berekspresi dan kebudayaan adalah syarat mutlak. “Jangan ada pembungkaman, jangan ada narasi tunggal.”
Alfathri Adlin: Pendidikan Harus Berbasis Nilai
Alfathri Adlin mengkritik sistem pendidikan yang dinilainya hanya mencetak pekerja teknis, bukan pencinta ilmu. Mengutip Hegel, ia mengingatkan bahwa bangsa yang tak belajar dari sejarah akan mengulang kesalahan yang sama. “Kita masih mewarisi pola pikir kolonial, bahkan dalam pendidikan,” katanya.
Hanief Adrian: Sriwijaya dan Jejak Budaya Emas
Hanief Adrian mengungkap catatan sejarah bahwa Kerajaan Sriwijaya, dikenal sebagai Zabazh di Afrika, pernah menjadi pusat penyebaran budaya emas dunia. “Kalau kita tidak menulis sejarah kita sendiri, orang lain yang akan melakukannya. Dan kita hanya akan menjadi objek,” tegasnya.
Menjaga Ruang Dialektika
Forum ini menutup dengan pesan bahwa Indonesia membutuhkan kebudayaan yang hidup dan ruang diskusi yang terbuka. Budaya bukan sekadar koleksi museum atau dekorasi festival, melainkan napas peradaban yang mengikat bangsa.
“Kebenaran tidak pernah dimonopoli oleh satu suara,” ujar Okky. Dalam riuhnya zaman, diskusi semacam ini menjadi oase langka yang mengingatkan kembali pentingnya sejarah, keberagaman, dan kebebasan berekspresi sebagai fondasi jati diri Indonesia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

