Penjurian Anugerah TIMES Indonesia 2025, Para Juri Satukan Data dan Dedikasi Sosial
Proses penjurian Anugerah TIMES Indonesia 2025 berlangsung di Kantor Redaksi TIMES Indonesia, Selasa (18/11/2025). Para dewan juri lintas bidang memberikan penilaian mendalam dengan menggabungkan perspektif akademik, data sosial, dan inovasi, .

JAKARTA – Ruang rapatdi Kantor Redaksi TIMES Indonesia, Selasa (18/11/2025), terlihat padat sejak pagi. Tumpukan berkas, laptop yang terbuka, dan secangkir kopi yang mulai mendingin menjadi saksi bagaimana para dewan juri Anugerah TIMES Indonesia (ATI) 2025 bekerja dengan fokus dan integritas. Penjurian kali ini dipimpin langsung oleh Pemimpin Redaksi TIMES Indonesia, Yatimul Ainun, yang membuka sesi dengan penekanan pada pentingnya objektivitas.
“Setiap nama di daftar ini membawa cerita. Tugas kita adalah memastikan penghargaan ini diberikan kepada mereka yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya, memulai jalannya penjurian dengan nada tegas namun penuh empati.
Sebagai salah satu juri senior, Prof. Dr. H. Achmad Supriyanto, M.Pd., M.Si., Guru Besar Universitas Negeri Malang, tampak menelaah data dengan seksama. Pengalaman panjang di dunia pendidikan membuatnya menaruh perhatian pada keberlanjutan program para nomine.

“Yang saya cari bukan hanya prestasi, tetapi keberlanjutan. Program yang menyentuh manusia harus bertahan lebih lama dari pencetusnya,” katanya sambil menutup salah satu berkas hasil verifikasi lapangan.
Di sisi lain meja, Imam Surahmat dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI) berfokus pada konsistensi data. Tangan kirinya memegang laporan, sementara tangan kanan sesekali mengetuk meja, seolah mengikuti alur analisisnya sendiri.
“Cerita itu penting, tapi data memberi kita pijakan. Keberhasilan harus dibuktikan, bukan hanya diceritakan,” tegasnya.

Sementara itu, Editor Bahasa Inggris, Siti Khodijah, yang mewakili perempuan, melihat para nomine dari sisi inovasi. Baginya, masyarakat membutuhkan sosok yang mampu menciptakan terobosan, bukan sekadar menjalankan rutinitas.
“Kita ingin menemukan tokoh-tokoh yang tak hanya mengikuti arus, tapi menciptakan arus. Mereka yang membawa energi baru bagi masyarakat,” ujarnya.
Tak jauh dari sana, Wakil Pemred TIMES Indonesia, Wahyu Nurdiyanto, menulis catatan kecil di buku kerjanya. Baginya, penghargaan bukan hanya soal capaian, tetapi tentang menjadi teladan bagi publik.
“Penghargaan ini harus bisa menghadirkan role model. Tokoh yang memberi harapan, bahwa perubahan itu mungkin dan bisa dimulai dari siapa saja,” jelasnya.
Diskusi berlangsung intens namun hangat. Para juri saling bertukar pandangan, menguji data, memeriksa ulang laporan, hingga menelusuri rekam jejak para kandidat. Meski berasal dari latar belakang berbeda, mereka semua disatukan oleh satu komitmen: menjaga integritas penjurian dan memilih sosok yang benar-benar memberi dampak sosial.
Sementara itu, di luar ruang rapat, kesibukan kantor redaksi berjalan seperti biasa. Deretan wartawan menyiapkan liputan, suara keyboard bersahut-sahutan, dan aroma kopi dari pantry berpadu dengan ketegangan halus yang menyelimuti proses penjurian.
Menjelang siang, hasil diskusi mulai mengerucut pada sejumlah nama. Para juri sepakat bahwa tahun ini adalah salah satu tahun paling kompetitif, dengan banyak tokoh memperlihatkan rekam jejak kuat dan kontribusi nyata di komunitas masing-masing.
Hasil resmi penjurian akan diumumkan pada malam puncak Anugerah TIMES Indonesia 2025 yang digelar akhir November. Lebih dari sekadar ajang penghargaan, ATI 2025 menjadi ruang untuk merayakan kerja-kerja senyap, dedikasi panjang, dan komitmen para tokoh dalam memberdayakan masyarakat Indonesia. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


