Target Swasembada Gula 2027, Pakar UB Ingatkan Pemerintah Soal Strategi Hulu ke Hilir
Pakar Ilmu Ekonomi UB, Prof Setyo Tri Wahyudi, SE, MEc, PhD mengingatkan bahwa target tersebut tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi.
MALANG – Akademisi Universitas Brawijaya (UB) menilai rencana pemerintah mewujudkan swasembada gula pada 2027 perlu dibarengi langkah realistis dan penguatan sektor dari hulu hingga hilir.
Pakar Ilmu Ekonomi UB, Prof Setyo Tri Wahyudi, SE, MEc, PhD mengingatkan bahwa target tersebut tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi.
Perwujudan target ambisius tersebut juga membutuhkan konsistensi kebijakan, revitalisasi pabrik gula, hingga jaminan anggaran yang memadai.
“Dalam mencapai target ambisius tersebut, pemerintah perlu memikirkan cara realistis mulai dari hulu hingga hilir dan memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana,” ujarnya pada TIMES Indonesia, Selasa (28/4/2026) lalu.
Prof Setyo menjelaskan, berdasarkan data Kementerian Pertanian, produksi gula kristal putih nasional pada 2023 berada di kisaran 2,3–2,4 juta ton.
Sementara di sisi lain, konsumsi rumah tangga mencapai 2,8 juta ton. Kondisi tersebut membuat Indonesia masih mengalami defisit gula.
Namun, pada 2024 kondisi mulai membaik dengan surplus sekitar 0,2 juta ton. Pemerintah juga memperkirakan produksi gula nasional pada 2026 dapat mencapai 3,4 juta ton.
Meski demikian, surplus tersebut dinilai masih relatif kecil dan berpotensi kembali defisit apabila konsumsi masyarakat terus meningkat.
“Kalau melihat data, memang ada perbaikan dari defisit menuju surplus. Tetapi surplusnya masih keci,” tambahnya.
Ia menegaskan, keberhasilan swasembada gula tidak hanya ditentukan hasil panen, tetapi juga kesiapan bibit, teknologi produksi, hingga keberlanjutan pendanaan program strategis pemerintah.
Menurutnya, efisiensi anggaran yang saat ini dilakukan pemerintah berpotensi memengaruhi program swasembada gula apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Ia mencontohkan pemangkasan anggaran riset di perguruan tinggi yang sebelumnya dijanjikan mencapai Rp12 triliun, namun realisasi pendanaannya hanya sekitar Rp1,7 triliun.
“Kalau di sektor pendidikan dan riset saja pemotongan anggaran sangat besar, maka pemerintah juga harus memastikan program swasembada gula tidak mengalami nasib serupa,” jelasnya.
Selain persoalan anggaran, ketergantungan impor gula dinilai menjadi dilema tersendiri bagi Indonesia. Di satu sisi, impor diperlukan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Namun di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah membuat biaya impor semakin mahal dan berpotensi membebani anggaran negara.
“Impor memang bisa menjadi solusi jangka pendek, tetapi bukan solusi jangka panjang. Pemerintah harus memikirkan cara agar kebutuhan gula dalam negeri tidak terus bergantung pada impor,” katanya.
Ia juga menyoroti masih rendahnya efisiensi industri gula nasional.
Saat ini, sebagian besar pabrik gula di Indonesia masih menggunakan teknologi lama dengan tingkat efisiensi rendah. Kondisi tersebut membuat hasil produksi gula belum optimal meski hasil panen meningkat.
Karena itu, pemerintah didorong segera melakukan revitalisasi pabrik gula dan investasi teknologi modern, termasuk otomatisasi sistem produksi.
Selain meningkatkan kapasitas giling, modernisasi pabrik juga dinilai dapat meningkatkan rendemen gula secara signifikan.
“Kalau revitalisasi dilakukan sejak 10 tahun lalu, mungkin kondisinya tidak seberat sekarang. Tantangannya saat ini pemerintah harus menjalankan revitalisasi di tengah efisiensi anggaran dan pelemahan ekonomi global,” ujarnya.
Tak hanya revitalisasi, rencana pembangunan pabrik gula baru di luar Jawa juga dinilai menjadi langkah strategis, terutama di wilayah seperti Papua yang masih memiliki lahan luas.
Namun, pemerintah diingatkan agar tidak hanya fokus pada produksi, melainkan juga memperhitungkan rantai distribusi.
“Jangan sampai biaya produksi murah di Papua, tetapi distribusi ke daerah lain justru mahal. Pemerintah harus menyiapkan infrastruktur distribusi agar efisiensi benar-benar tercapai,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat menyusun strategi yang terintegrasi agar target swasembada gula 2027 tidak hanya menjadi blueprint di atas kertas, tetapi benar-benar dapat diwujudkan secara berkelanjutan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

