Advertisement
Peristiwa Nasional

Penurunan AKI Masih Jauh dari Target, UGM Tekankan Pentingnya Cek Kesehatan Sebelum Hamil

Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat AKI (Angka Kematian Ibu) Indonesia berada pada angka 144 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

TIMES Indonesia,
Penurunan AKI Masih Jauh dari Target, UGM Tekankan Pentingnya Cek Kesehatan Sebelum Hamil
Ilustrasi Ibu hamil (FOTO: Humas UGM for TIMES Indonesia)
A-AA+

YOGYAKARTA Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengingatkan bahwa penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia perlu diapresiasi, namun tidak boleh membuat semua pihak lengah.

Penurunan AKI di Indonesia memang menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Advertisement

Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat AKI Indonesia berada pada angka 144 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Angka ini memang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, tetapi masih berada jauh di atas target Sustainable Development Goals (SDGs) yang menargetkan 70 kematian per 100.000 kelahiran hidup pada 2030.

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr. Eugenius Phyowai Ganap, MKes, SpOG, Subsp.Obginsos, mengatakan masih dibutuhkan berbagai langkah strategis untuk mempercepat penurunan AKI,

Langkah itu mulai dari penguatan layanan kesehatan hingga peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan reproduksi.

"Masih ada tantangan besar yang harus diselesaikan apabila Indonesia ingin mencapai target SDGs pada tahun 2030," ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Advertisement

Deteksi Risiko Sejak Awal Kehamilan

Phyowai menjelaskan bahwa tingginya angka kematian ibu tidak hanya berkaitan dengan jumlah tenaga kesehatan. Faktor lain seperti kualitas layanan kesehatan, kesiapan fasilitas medis, serta efektivitas sistem rujukan turut menentukan keberhasilan penanganan ibu hamil.

Ia menilai kemampuan mendeteksi risiko sejak awal menjadi salah satu kunci utama dalam mencegah kematian ibu.

Banyak kasus komplikasi kehamilan yang sebenarnya dapat diantisipasi apabila faktor risikonya diketahui lebih cepat. Karena itu, pemeriksaan rutin selama kehamilan harus menjadi perhatian utama, baik bagi ibu maupun tenaga kesehatan.

Selain deteksi dini, sistem rujukan yang cepat dan tepat juga sangat menentukan keselamatan ibu hamil. Dalam kondisi darurat, keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi bahkan kematian.

Phyowai mengingatkan adanya faktor three delays atau tiga keterlambatan yang masih sering terjadi dalam penanganan kasus maternal.

Mulai dari keterlambatan mengenali tanda bahaya, keterlambatan mengambil keputusan untuk mencari pertolongan, hingga keterlambatan mendapatkan layanan kesehatan yang memadai.

"Setiap keterlambatan dapat memperbesar risiko. Karena itu, kesiapan keluarga, tenaga kesehatan, dan fasilitas pelayanan harus berjalan secara bersamaan," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa tantangan tersebut tidak hanya ditemukan di wilayah terpencil. Di daerah perkotaan pun berbagai hambatan masih sering terjadi, mulai dari kemacetan lalu lintas hingga proses rujukan yang kurang efektif.

Perawatan Sebelum Hamil Jadi Strategi Pencegahan

Selain penguatan layanan kesehatan, Phyowai menekankan pentingnya pendekatan pre-conception care atau perawatan sebelum kehamilan.

Menurutnya, banyak masyarakat yang baru memeriksakan kondisi kesehatan ketika sudah hamil.

Padahal, sejumlah penyakit penyerta yang berpotensi membahayakan kehamilan seharusnya dapat diketahui dan ditangani jauh sebelum proses kehamilan terjadi.

Saat ini, penyebab utama kematian ibu masih didominasi oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia, serta infeksi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir mulai muncul peningkatan kasus kematian akibat penyakit penyerta yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Salah satu contohnya adalah penyakit jantung bawaan yang baru diketahui ketika seorang perempuan menjalani kehamilan.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun janin apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum kehamilan dinilai menjadi langkah penting untuk mengidentifikasi berbagai faktor risiko sejak awal.

Melalui pemeriksaan tersebut, calon ibu dapat mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh, termasuk status gizi, tekanan darah, penyakit kronis, hingga masalah kesehatan reproduksi yang berpotensi mengganggu kehamilan.

Di sisi lain, penggunaan kontrasepsi juga memiliki peran penting dalam menekan angka kematian ibu. Perencanaan kehamilan yang baik memungkinkan pasangan mempersiapkan kondisi fisik, mental, dan ekonomi sebelum memiliki anak.

"Kehamilan yang direncanakan umumnya lebih aman karena calon ibu memiliki kesempatan mempersiapkan kesehatannya terlebih dahulu," kata Phyowai.

Ia berharap edukasi kesehatan reproduksi terus diperkuat di tengah masyarakat.

Dengan dukungan sistem kesehatan yang lebih baik, pemerataan tenaga medis, layanan rujukan yang efektif, serta penerapan perawatan sebelum kehamilan, angka kematian ibu di Indonesia diharapkan dapat terus ditekan.

Menurutnya, keberhasilan menurunkan AKI tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan dan pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga serta masyarakat dalam menjaga kesehatan ibu sejak sebelum kehamilan hingga masa persalinan.

Dengan langkah-langkah tersebut, target penurunan Angka Kematian Ibu sesuai SDGs 2030 bukan hal yang mustahil untuk dicapai. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

A. Tulung
PenulisA. TulungSarjana Peternakan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Tahun 2006 dan Magister Manajemen Universitas Teknologi Yogyakarta (2017). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia