88 Persen Kecelakaan Perlintasan Kereta Dipicu Pengendara Terobos Palang
KAI mencatat 88 persen kecelakaan di perlintasan sebidang sepanjang 2026 dipicu pengendara yang menerobos palang. Sebanyak 48 orang meninggal dunia.
JAKARTA – Perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan kecelakaan di Indonesia. Meski berbagai kampanye keselamatan terus digencarkan, data terbaru PT Kereta Api Indonesia (Persero) menunjukkan sebagian besar insiden justru dipicu oleh pelanggaran pengguna jalan sendiri.
Hingga 22 Juni 2026, KAI mencatat terdapat 134 kecelakaan di perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 118 kejadian atau sekitar 88 persen terjadi akibat pengendara yang nekat menerobos palang perlintasan saat kereta akan melintas.
Data ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan semata infrastruktur, melainkan rendahnya disiplin berlalu lintas di kawasan perlintasan kereta api.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan perilaku menerobos palang masih menjadi penyebab dominan kecelakaan yang merenggut korban jiwa maupun kerugian materi.
"Berdasarkan data KAI hingga 22 Juni 2026, terdapat 134 kecelakaan di perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, 118 kejadian atau 88 persen dipicu tindakan menerobos," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis.
Puluhan Korban Jiwa dalam Enam Bulan
Dampak dari pelanggaran tersebut tidak bisa dianggap sepele. KAI mencatat sebanyak 113 orang menjadi korban kecelakaan di perlintasan sebidang sepanjang semester pertama 2026.
Dari jumlah itu, 48 orang meninggal dunia, 29 orang mengalami luka berat, dan 36 orang lainnya mengalami luka ringan.
Sementara dari sisi kendaraan, terdapat 134 unit yang terlibat kecelakaan, terdiri atas 77 sepeda motor atau 57 persen dan 57 mobil atau 43 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pengguna kendaraan roda dua masih menjadi kelompok paling rentan dalam insiden perlintasan kereta api.
Kecelakaan Terjadi di Perlintasan Berpintu dan Tanpa Pintu
Menariknya, kecelakaan tidak hanya terjadi di perlintasan tanpa penjagaan.
Data KAI menunjukkan sebanyak 62 kecelakaan atau 46 persen terjadi di perlintasan berpintu. Sementara 72 kejadian atau 54 persen terjadi di perlintasan tanpa pintu.
Temuan ini mengindikasikan bahwa keberadaan palang pintu saja tidak cukup menjamin keselamatan apabila pengguna jalan mengabaikan aturan.
Menurut Anne, palang pintu hanyalah alat bantu keselamatan. Faktor penentu tetap berada pada keputusan pengendara untuk berhenti dan memastikan kondisi aman sebelum melintas.
Libur Sekolah Jadi Momentum Peningkatan Kewaspadaan
KAI menilai momentum libur sekolah 2026 perlu menjadi perhatian khusus karena mobilitas masyarakat meningkat signifikan.
Karena itu, perusahaan mengajak masyarakat membangun budaya keselamatan sederhana namun sering diabaikan, yakni berhenti sejenak sebelum rel, melihat ke kanan dan kiri, mendengarkan kondisi sekitar, serta melintas hanya ketika benar-benar aman.
"Palang pintu yang terbuka tidak berarti pengguna jalan bisa langsung melintas tanpa kewaspadaan," tegas Anne.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mencari celah ketika palang mulai menutup, sirene berbunyi, atau petugas memberikan isyarat berhenti.
Tren Menurun, Tetapi Ancaman Masih Tinggi
Secara statistik, jumlah kecelakaan perlintasan pada 2026 memang menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jumlah kejadian turun dari 138 kasus menjadi 134 kasus atau berkurang sekitar 3 persen. Kendaraan yang terdampak juga turun dari 144 unit menjadi 134 unit atau berkurang 7 persen.
Sementara jumlah korban menurun lebih signifikan, dari 151 orang pada 2025 menjadi 113 orang pada 2026 atau turun sekitar 25 persen.
Meski demikian, KAI menegaskan bahwa angka 48 korban meninggal dunia tetap menjadi peringatan serius bahwa keselamatan di perlintasan sebidang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Untuk itu, KAI terus memperkuat edukasi keselamatan dengan melibatkan pemerintah daerah, kepolisian, dinas perhubungan, sekolah, komunitas, hingga keluarga guna membangun budaya disiplin berlalu lintas di perlintasan kereta api.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


