Gus Ulib Soroti Mubes-Konbes NU di Kediri: Minim Keteladanan, Sarat Kegaduhan
Pengasuh PP Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad As’ad (Gus Ulib) melayangkan kritik tajam terhadap pelaksanaan Mubes dan Konbes NU di Kediri. Ia menilai forum tersebut kaku dan jauh dari harapan warga Nahdliyin akar rumput.
JOMBANG – Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang, KH Zainul Ibad As’ad atau yang akrab disapa Gus Ulib, mengkritik pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar di Kediri.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung dari kediamannya pada Jumat (26/6/2026). Tokoh pesantren asal Jombang ini menilai forum strategis organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut jauh dari harapan warga Nahdliyin di tingkat akar rumput.
Menurut Gus Ulib, mayoritas warga NU yang mengikuti jalannya Mubes dan Konbes berharap adanya sikap legawa dari jajaran pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Khususnya, berupa permintaan maaf atas berbagai dinamika internal yang memicu kegaduhan selama setahun terakhir.
Namun, harapan tersebut pupus lantaran tidak ada satu pun pernyataan yang dinilai mampu meredam kegelisahan warga.
"Sepertinya (kegaduhan itu) tidak dirasakan oleh para petinggi NU. Tidak ada satupun pernyataan atau kalimat permintaan maaf. Mereka seakan terkesan tidak merasa bersalah atas ketidaknyamanan yang dirasakan seluruh jam’iyah selama satu periode ini,” ungkap Gus Ulib.
Soroti Pidato Rais Aam dan Atmosfer Persidangan
Tak hanya itu, Gus Ulib juga menyoroti pidato sambutan yang disampaikan Rais Aam dalam forum tersebut. Ia menyayangkan penggunaan bahasa Arab secara penuh dalam pidato pembukaan, padahal acara tersebut turut dihadiri berbagai tamu dari luar struktur NU.
Menurutnya, penggunaan bahasa yang tidak dipahami oleh banyak tamu dapat mengurangi esensi komunikasi serta kurang mencerminkan kedewasaan dalam berorganisasi.
“Forum sebesar itu mestinya bisa menjadi ruang yang inklusif. Semua tamu harus bisa memahami arah pembahasan dan substansi acara,” ujarnya.
Lebih jauh, Gus Ulib menilai atmosfer persidangan selama Mubes-Konbes terasa kaku dan penuh ketegangan. Ia melihat adanya indikasi polarisasi antarkelompok yang saling menunjukkan kekuatan dan cenderung mempertahankan kepentingan masing-masing.
Situasi tersebut, kata dia, mencapai puncaknya saat agenda pembahasan lokasi Muktamar NU berikutnya. Dalam momen itu, Gus Ulib mengaku menyaksikan langsung perilaku yang menurutnya mencerminkan sikap nir-adab atau kehilangan etika.
Bagi Gus Ulib, kejadian semacam itu sangat memprihatinkan karena berlangsung di forum yang seharusnya menjadi teladan moral dan akhlak bagi umat.
Harapan untuk Muktamar NU Mendatang
Gus Ulib berharap dinamika negatif yang terjadi di Kediri tidak berulang dalam pelaksanaan Muktamar NU mendatang. Ia mengajak seluruh elemen organisasi, terutama generasi muda Nahdliyin, untuk kembali menjaga marwah jam’iyah dan mengedepankan akhlakul karimah dalam setiap forum organisasi.
“Ulama itu identik dengan moral dan akhlak. Organisasi ini harus menjadi uswah (teladan) bagi bangsa. Kita sangat menyayangkan kejadian ini dan berharap ke depan kesadaran akan tingginya nilai moral dan keahlakan dikedepankan kembali oleh seluruh panitia maupun peserta yang hadir,” tegasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


