96,7 Persen Peserta KB di Indonesia Masih Perempuan, Kemendukbangga Perkuat Peran Suami
Kemendukbangga meluncurkan Program Ayah Idaman untuk meningkatkan peran suami dalam KB, kesehatan reproduksi, dan pengasuhan anak di tengah rendahnya partisipasi pria yang baru 3,3 persen.
PACITAN – Program keluarga berencana (KB) di Indonesia masih didominasi perempuan. Berdasarkan hasil Pemutakhiran Pendataan Keluarga (PK) 2025, sebanyak 96,7 persen peserta KB merupakan perempuan, sedangkan peserta laki-laki baru sekitar 3,3 persen.
Rendahnya partisipasi pria itu mendorong Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) memperkuat keterlibatan suami dalam kesehatan reproduksi. Salah satunya melalui program "Ayah Idaman" yang akan diluncurkan mulai 1 Juli 2026, bertepatan dengan momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas).
Deputi Bidang Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Kemendukbangga, Wahidin, mengatakan pemerintah sengaja memberi perhatian lebih terhadap keterlibatan laki-laki karena selama ini program KB lebih banyak dibebankan kepada perempuan.
"Yang partisipasi perempuan tetap kita bimbing. Tapi yang pria atau suaminya harus kita dorong lebih. Percepatannya harus lebih," kata Wahidin dalam media briefing bertajuk 'Sinergitas Program: Melibatkan Pria dalam Kesehatan Reproduksi'," ujarnya, Selasa (30/6/2026).
Menurut dia, peran suami tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Kehadiran ayah dinilai penting sejak masa kehamilan, persalinan, hingga pengasuhan anak.
"Ayah wajib hadir. Kehadiran suami bukan hanya konteksnya mencari nafkah. Terkait pengasuhan dan seterusnya, ini menjadi bagian yang penting," ujarnya.
Melalui program Ayah Idaman, Kemendukbangga akan menggandeng 1.000 bidan di berbagai daerah sebagai percontohan. Ibu hamil yang memeriksakan kandungan akan didorong datang bersama suami agar keduanya memperoleh edukasi mengenai kehamilan, persalinan, hingga perencanaan penggunaan kontrasepsi setelah melahirkan.
Wahidin menjelaskan, pendampingan suami sejak awal kehamilan diharapkan dapat mendorong pengambilan keputusan secara bersama dalam keluarga, termasuk memilih metode kontrasepsi yang sesuai.
Ia juga menilai keterlibatan suami penting untuk mencegah kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat. Sebab, masih banyak pasangan yang tidak segera menggunakan kontrasepsi setelah persalinan sehingga berisiko mengalami kehamilan kembali ketika bayi belum berusia enam bulan.
"Yang kita harapkan, suami mendampingi istrinya mulai pemeriksaan awal sampai melahirkan, kemudian bersama-sama memutuskan penggunaan kontrasepsi setelah persalinan," katanya.
Sementara itu, Direktur Bina Pelayanan Keluarga Berencana Wilayah dan Sasaran Khusus,dr. Fajar Firdawati mengatakan rendahnya partisipasi pria menunjukkan tanggung jawab kesehatan reproduksi masih belum terbagi secara seimbang.
Menurut dia, dalam perspektif kesetaraan, laki-laki dan perempuan memiliki hak serta tanggung jawab yang sama dalam menentukan perencanaan keluarga.
"Kontrasepsi tidak lagi menjadi urusan perempuan semata, tetapi merupakan tanggung jawab bersama pasangan suami istri," ujar Firda.
Ia menjelaskan, pilihan kontrasepsi bagi laki-laki saat ini masih terbatas pada kondom dan vasektomi. Kendati demikian, peningkatan jumlah peserta KB pria telah ditetapkan sebagai salah satu indikator kinerja program keluarga berencana yang akan terus didorong dalam beberapa tahun ke depan.
Selain meningkatkan penggunaan kontrasepsi pria, Kemendukbangga juga menargetkan tumbuhnya kesadaran bahwa keterlibatan ayah dalam keluarga dimulai sejak masa kehamilan. Pendampingan emosional kepada istri, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, hingga pengasuhan anak dinilai menjadi bagian penting untuk mewujudkan keluarga yang sehat dan berkualitas. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


