Advertisement
Peristiwa Nasional

Hadapi Ancaman Kekeringan, BMKG Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca

BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca pada awal Oktober 2026 untuk mengantisipasi kekeringan ekstrem di Pulau Jawa akibat El Nino. Operasi ini juga ditujukan menjaga pasokan air waduk dan mengurangi risiko karhutla.

TIMES Indonesia,
Hadapi Ancaman Kekeringan, BMKG Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca
foto dokumentasi Operasi Modifikasi Cuaca di Jakarta padaJanuari 2026. (foto: BPBD Jakarta)
A-AA+

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) pada awal Oktober 2026 sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan yang diperkirakan semakin parah akibat musim kemarau yang lebih panas dan kering di Pulau Jawa.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, Selasa (30/6/2026) mengatakan operasi tersebut bertujuan meningkatkan potensi hujan agar mampu menambah pasokan air di sejumlah waduk strategis yang menjadi penyangga sektor pertanian, kebutuhan air baku, hingga pembangkit listrik.

Advertisement

Menurut Seto, kondisi waduk-waduk utama di Pulau Jawa saat ini masih relatif aman. Beberapa waduk penting di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, seperti Waduk Saguling, Waduk Cirata, dan Waduk Jatiluhur, maupun waduk di DAS Brantas, Jawa Timur, masih memiliki cadangan air yang mencukupi.

Namun, berdasarkan proyeksi BMKG, ketersediaan air diperkirakan mulai mengalami defisit pada September hingga Oktober seiring menurunnya intensitas hujan akibat pengaruh fenomena El Nino.

"Untuk itu, pada awal Oktober akan dilakukan operasi modifikasi cuaca di Pulau Jawa agar dapat membantu menjaga ketersediaan air di waduk-waduk strategis," ujar Seto usai Apel Operasi Distribusi Air Bersih Dampak Kekeringan Ekstrem Akibat El Nino 2026 di Gudang Logistik Palang Merah Indonesia (PMI), Jakarta.

Ia menjelaskan, dokumen pelaksanaan operasi modifikasi cuaca telah dikoordinasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terutama menyusul penetapan status tanggap darurat kekeringan di sejumlah daerah di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Berdasarkan analisis iklim BMKG, wilayah Indonesia bagian barat dan selatan saat ini masih berpotensi mengalami hujan. Namun, memasuki Juli hingga pertengahan Oktober, curah hujan diperkirakan turun sangat signifikan sehingga meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah, khususnya di Pulau Jawa.

Advertisement

BMKG memprakirakan puncak kekeringan ekstrem akan terjadi pada Agustus dan September. Oleh karena itu, kesiapsiagaan berbagai pihak, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI) melalui distribusi air bersih, dinilai sangat penting untuk membantu masyarakat yang terdampak.

Selain difokuskan untuk menjaga ketersediaan air di Pulau Jawa, operasi modifikasi cuaca juga dilakukan secara paralel di sejumlah wilayah lain. BMKG mengarahkan intervensi cuaca untuk mempertahankan volume air di Danau Toba, Sumatera Utara, serta kawasan Poso, Sulawesi Tengah.

Langkah tersebut diharapkan mampu mengisi kembali waduk dan sumber air yang mulai menyusut, sekaligus mengurangi risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi menimbulkan bencana kabut asap di sejumlah daerah.

BMKG berharap operasi modifikasi cuaca tidak hanya mendukung keberlangsungan sektor pertanian nasional, tetapi juga menjaga pasokan air bagi masyarakat serta meminimalkan dampak bencana kekeringan dan karhutla, terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang rawan terdampak asap selama musim kemarau. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Antara
PenulisAntaraANTARA adalah kantor berita nasional Indonesia yang menyebarluaskan informasi tentang berbagai peristiwa penting di dalam dan luar negeri.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia