Advertisement
Peristiwa

"Kami Lebih Menerima Kata Tuli, Bukan Tuna Rungu"

Ketua Bidang Internal Komunitas Akar Tuli, Oktaviany Wulansari, menjelaskan bahwa komunitas yang ditanganinya lebih memilih kata tuli ketimbang istilah tuna rungu, yang disandangkan kepada orang yang tuli.

TIMES Indonesia,
"Kami Lebih Menerima Kata Tuli, Bukan Tuna Rungu"
Komunitas akar tuli saat mengikutu car free day malang, minggu, (4/10/2015) (Foto: Rully/Malangtimes)
A-AA+

TIMESINDONESIA TIMESINDONESIA, MALANG - Ketua Bidang Internal Komunitas Akar Tuli, Oktaviany Wulansari, menjelaskan bahwa komunitas yang ditanganinya lebih memilih kata tuli ketimbang istilah tuna rungu, yang disandangkan kepada orang yang tuli.

"Tuna rungu itu gangguan atau kerusakan pendengaran, kami tidak mengalami kerusakan, jadi lebih menerima kata tuli," jelas mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya, kepada MALANGTIMES.

Advertisement

Hingga saat ini, Komunitas Akar Tuli gencar mengampanyekan bahasa isyarat, sebab menurutnya bahasa isyarat masih dipandang sebelah mata, dan banyak masyarakat yang masih meremehkan bahasa isyarat. 

"Masih banyak masyarakat yang cuek dengan bahasa isyarat, karena itu kami gencar sosialisasikan bahasa isyarat supaya menjadi bahasa utama," terang perempuan yang akrab disapa Ovi ini.

Ovi bersama komunitasnya, senang jika ada masyarakat ikut mempelajari bahasa isyarat. Sebab menurut `gadis cantik` ini, salah satu gerakan yang sedang gencar disuarakan Komunitas Akar Tuli adalah memprioritaskan bahasa isyarat menjadi bahasa utama, yang bisa dimengerti masyarakat luas.

"Bahasa isyarat bukan alat bantu, ini adalah bahasa ibu, jadi sama dengan bahasa lainnya," jelas Ovi.(*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia