Komoditi Cengkeh di Bondowoso Belum Tergarap Maksimal
Tingginya harga cengkeh dunia belum memotivasi Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, untuk menggarap komoditi ini secara maksimal. Hal itu diakui Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Muhammad Erfan.

BONDOWOSO – Tingginya harga cengkeh dunia belum memotivasi Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, untuk menggarap komoditi ini secara maksimal. Hal itu diakui Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Muhammad Erfan.
Dikatakan Erfan, terpuruknya kondisi harga cengkeh yang sempat terjadi beberapa tahun silam, berdampak pada rendahnya minat masyarakat saat ini untuk membudidayakan cengkeh. Dishutbun mencatat, saat ini Bondowoso hanya memiliki 38 hektare lahan cengkeh yang menghasilkan 4 ton cengkeh per tahun.
“Sebenarnya dulu banyak, tapi karena salah pola pemasaran saat ada Badan Pengelolaan Pemasaran Cengkeh (BPPC), harganya sempat jatuh sampai Rp 2.000 per kilogram. Itu tidak menarik akhirnya banyak ditebang. Saat ini kita hanya punya 38 hektare,” kata Erfan kepada BONDOWOSOTIMES, Selasa (22/12/2015).
Diakui Erfan, masyarakat masih trauma untuk kembali membudidayakan cengkeh karena khawatir akan ada monopoli dan harga anjlok seperti sebelumnya. Namun Dishutbun Bondowoso terus berupaya menumbuhkan minat masyarakat, dengan memberikan bibit pohon cengkeh secara gratis. Dishutbun bahkan memberikan 1.500 pohon cengkeh untuk ditanam oleh masyarakat.
“Karena pasar saat ini sudah bebas kami informasikan potensi ekonomi di komoditi ini. Sudah kami bagi secara gratis bibit pohon cengkeh sebanyak 1.500 kepada masyarakat,” imbuhnya.
Selain itu, Dishutbun tengah menyiapkan opsi lain di antaranya melakukan penganekaragaman produk (diversifikasi) dengan menggabungkan lahan tanaman kopi yang memiliki ketinggian 800 mdpl dengan pohon cengkeh. Diharapkan, langkah ini mampu menggenjot produksi cengkeh di Bondowoso. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

