Lamongan Sejak Dini Cegah Radikalisasi dan Terorisme
Saat orang Lamongan bepergian ke luar kota ataupun berkenalan dengan orang yang berasal dari daerah lain, mereka seringkali dihadapkan pada pernyataan ‘kota sarang para teroris’ ketika menyebut nama Kabupaten Lamongan.

LAMONGAN – Saat orang Lamongan bepergian ke luar kota ataupun berkenalan dengan orang yang berasal dari daerah lain, mereka seringkali dihadapkan pada pernyataan ‘kota sarang para teroris’ ketika menyebut nama Kabupaten Lamongan.
Bagi sebagian orang Lamongan mungkin hanya akan mengernyitkan dahi atau membalasnya dengan sebatas tersenyum lantaran mafhum, kota yang tiba-tiba mendunia sejak 13 tahun lalu. Penyebabnya tak lain karena perkara bom Bali I di tahun 2002 yang menyeret pria bernama Amrozi, bersama dua saudaranya Ali Gufron dan Ali Imron.
Semenjak saat itu pula, Kabupaten Lamongan yang awalnya hanya sebuah kota kecil dengan luas tidak lebih dari 2.000 kilometer persegi mengalahkan popularitas ibukota Provinsi Jawa Timur, Surabaya.
Popularitas Lamongan kembali mencuat pada 3 Juni 2013, tragedi terorisme yang terjadi di kantor Polres Poso, Sulawesi Tengah, tragedi tersebut kembali mengangkat kembali nama Lamongan sebagai trending topik.
Pasalnya, pelaku bom bunuh diri tersebut adalah pria asal Lamongan bernama Zainul Arifin, warga Dusun Semagu, Kelurahan Blimbing, Kecamatan Paciran.
Apa yang telah dilakukan Zainul telah menambah daftar para teroris asal Lamongan. Bagi masyarakat Lamongan saat ini, berharap tidak akan ada lagi aksi terorisme Lamongan jilid 3, cukup Amrozi cs dan Zainul Arifin saja.
Harapan Lamongan akan kembali seperti asalnya, terkenal sebagai Kota Soto dan bukan Kota Sarang Teroris. Asa supaya tidak akan muncul lagi pelaku terorisme dari Lamongan digambarkan pada pendidikan agama sejak usia-usia dini.
“Anak didik kami prinsipnya mereka tahu terorisme itu begini, NKRI harga mati,” ucap Kepala Sekolah Maslahul Huda, Paciran, Muhlis.
Tak hanya itu, untuk membentengi para siswanya dari aliran-aliran radikal, pihak sekolah pun mengentalkan pelajaran yang bertujuan menangkal pengaruh radikalisme. “Kita beri tatap muka, pendidikan Aswaja dan ke-NU-an, sejarah NU, sejarah aliran, sikap NU bernegara- berpolitik, setiap minggu kita beri 2 jam,” sambung Muhlis.
Bahkan, para siswa menjelang kelulusan akan di papar dengan Aswaja. “Ada pendalaman Aswaja di kelas 9 bahkan ada praktek sebelum lulus. Di NU sudah jelas toleransinya di kedepankan. kami berusaha menyadarkan siswa, karena ada materi kayak tadi di setiap pembelajaran,” ujarnya menekankan. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


