Advertisement
Peristiwa

Korban Jembatan Gantung Ambruk: Saya Merangkak, Takut Jembatan Itu Bergoyang

Jembatan gantung di Desa Kregenan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jatim yang ambruk saat dilintasi ratusan siswa, rupanya mudah goyang dan landasannya berluba ...

TIMES Indonesia,
Korban Jembatan Gantung Ambruk: Saya Merangkak, Takut Jembatan Itu Bergoyang
Diah Irma Susanti yang terbaring sakit di RSUD Waluyo Jatim Kraksaan. Ia adalah salah satu korban jembatan gantung yang ambruk di Desa Kregenan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. (FOTO: Abdul Jalil/TIMES Indonesia)
A-AA+

PROBOLINGGO Jembatan gantung di Desa Kregenan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jatim yang ambruk saat dilintasi ratusan siswa, rupanya mudah goyang dan landasannya berlubang. Sebelum ambruk, seluruh siswa yang melintas diminta bergiliran dan mempercepat langkah.

Hal itu disampaikan oleh Diah Irma Susanti, Pembina OSIS SMPN 1 Pajarakan, Kabupaten Probolinggo yang turut menjadi korban ambruknya jembatan gantung tersebut, Jumat (9/9/2022).

Advertisement

Dia menyampaikan, siswa yang melintas di jembatan penghubung antara Dusun Kapasan Desa Pajarakan Kulon, Kecamatan Pajarakan dengan Dusun Klompangan Desa Kregenan, Kecamatan Kraksaan, dilakukan secara bergiliran dan berkelompok.

RSUD-Waluyo-Jatim-Kraksaan-2.jpg
Diah Irma Susanti saat didampingi oleh keluarganya di RSUD Waluyo Jati Kraksaan. (FOTO: Abdul Jalil/TIMES Indonesia)

Mereka diminta untuk mempercepat langkah dan menjaga jarak dengan teman di depannya. Sebab, menurut Diah, saat siswa melintas, jembatan itu gampang bergoyang. Semakin banyak beban, goyangan jembatan itu semakin kencang. Sehingga para siswa diminta untuk lebih menjaga jarak dan mempercepat langkah geraknya. 

Pada saat itu, dirinya sudah berada di sisi ujung timur jembatan. Sedangkan Holid, guru lain, berjaga di sisi sebelah barat jembatan. Dua guru itu mengatur para siswanya untuk melintas bergiliran.

Mereka selalu mewanti-wanti agar siswanya tidak bermain-main di tengah jembatan tersebut. Sebab, jembatan itu mudah goyang saat ada beban yang melintas. Terlebih lagi, kondisi jalannya banyak bergelombang. Sangat berbahaya untuk dibuat candaan para siswa.

Advertisement

"Siswa tidak ada yang bercanda apalagi loncat-loncat. Mereka melintas bergiliran. Menjaga jarak juga. Dua sisi jembatan sudah ada yang menjaga," ungkap Diah saat ditemui di RSUD Waluyo Jati Kraksaan.

RSUD-Waluyo-Jatim-Kraksaan-3.jpg
Khofifah Indar Parawansa saat menjenguk Diah Irma Susanti. (FOTO: Abdul Jalil/TIMES Indonesia)

Sebelum dirinya mengatur siswa dan berada di ujung timur jembatan, Diah harus melintas dengan rasa takut. Karena rasa takut itu, Diah bahkan melintas merangkak. Tangan kirinya berpegangan pada pagar jembatan. Sebab goyangan jembatan itu benar-benar membuat jantung berdegup kencang.

"Saya merangkak, karena saya takut jembatan itu bergoyang. Tidak ada angin saat itu tapi goyangan jembatan sudah cukup besar," ujar Diah Irma yang sedang berbaring kesakitan di ruang rawat inap.

Setelah semua murid telah melintas, tersisa belasan murid yang masih berada di tengah jembatan. Namun nahas, jembatan itu tak lagi mampu menahan beban. Jembatan itu pun ambruk tepat di bawah kaki Diah yang berdiri di ujung timur jembatan.

Diah pun ikut terperosok mengikis dinding tebing setinggi 20 meter itu. Tubuhnya terguling hingga sampai di dasar kali. Kemudian disusul dengan belasan muridnya dan Holid.

Meski tubuhnya telah terkapar tak berdaya di dasar kali, Diah sempat berdiri mendatangi muridnya yang tergeletak. Melihat kondisi muridnya menangis dan berteriak kesakitan itu, membuatnya tak merasakan sakit di tubuhnya.

"Saya sudah pasrah saat jatuh itu. Sampai di bawah, saya melihat murid saya juga jatuh. Saya bangun datangi murid saya," ungkap wanita yang telah mengabdi 15 tahun di SMPN 1 Pajarakan itu. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia