Peristiwa

Misi Bunuh Diri Pesawat DART Menabrak Asteroid biner Didymos Berhasil

Rabu, 28 September 2022 - 03:25 | 45.91k
Misi Bunuh Diri Pesawat DART Menabrak Asteroid biner Didymos Berhasil
Asteroid Didymos (kiri atas) dan bulan kecilnya, Dimorphos, sekitar 2,5 menit sebelum ditabrak pesawat ruang angkasa DART NASA. Gambar terakhir ini diambil oleh pencitra DRACO dari jarak 570 mil (920 kilometer). (FOTO: NASA)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Misi bunuh diri pesawat ruang angkasa NASA, Double Asteroid Redirection Test (DART) dalam melindungi bumi, setelah Senin (26/9/2022) berhasil menabrak asteroid biner Didymos yang mengorbit 11 juta kilometer (6,8 juta mil) dari Bumi.

DART diluncurkan 10 bulan lalu dan selama itu terbang di luar angkasa untuk menuju orbit asteroid Didymos. Sekitar pukul 23:00 GMT pada hari Senin, DART telah menghantam asteroid itu dengan kecepatan sekitar 14.000 mil atau 22.530 km/jam.

DART menargetkan asteroid moonlet Dimorphos, sebuah benda kecil dengan diameter hanya 530 kaki (160 meter) yang mengorbit asteroid yang lebih besar, 2.560 kaki (780 meter) yang disebut Didymos. Sebenarnya asteroid ini tidak mengancam Bumi.

Tetapi tes tersebut menandai upaya pertama untuk mengubah lintasan asteroid hanya dengan menggunakan gaya kinetik, dan para ilmuwan berharap metode ini bisa digunakan untuk mendorong asteroid dan mencegah tabrakan dahsyat.

Misi ini memang dirancang untuk menentukan apakah pesawat ruang angkasa bisa mengubah lintasan asteroid melalui kekuatan kinetik semata, mendorongnya keluar jalur dan cukup bisa menjaga Bumi dari bahaya.

“Pada intinya, DART mewakili keberhasilan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk pertahanan planet. Juga merupakan misi persatuan dengan manfaat nyata bagi seluruh umat manusia," kata Administrator NASA, Bill Nelson seperti dilansir di laman NASA.

"Saat NASA mempelajari kosmos dan planet rumah kita, kita juga bekerja untuk melindungi rumah itu, dan kolaborasi internasional ini mengubah fiksi ilmiah menjadi fakta ilmiah, menunjukkan satu cara untuk melindungi Bumi," katanya.

Tim global menggunakan lusinan teleskop yang ditempatkan di seluruh dunia dan di luar angkasa untuk mengamati sistem asteroid. 

Selama beberapa minggu kedepan mereka akan mengkarakterisasi ejecta yang dihasilkan dan secara tepat mengukur perubahan orbit Dimorphos untuk menentukan seberapa efektif DART membelokkan asteroid.

Hasilnya akan membantu memvalidasi dan meningkatkan model komputer ilmiah yang penting untuk memprediksi efektivitas teknik ini sebagai metode yang andal untuk defleksi asteroid.

NASA menyiarkan langsung tes ini dari pusat operasi misi di luar Washington, DC, dengan menunjukkan gambar yang diambil oleh kamera DART sendiri sebagai kendaraan "penabrak" berbentuk kubus yang tidak lebih besar dari mesin penjual otomatis dengan dua susunan surya persegi panjang, meluncur ke Dimorphos, sebuah asteroid seukuran stadion sepak bola.

Sorak-sorai para insinyur langsung terdengar dari ruang kontrol saat gambar detik demi detik saat asteroid yang menjadi target itu semakin membesar dan akhirnya memenuhi layar TV webcast langsung NASA tepat sebelum sinyal pesawat ruang angkasa itu hilang setelah menabrak Dimorphos.

"Misi pertama dari jenisnya ini membutuhkan persiapan dan ketepatan yang luar biasa, dan tim melebihi harapan dalam semua hal," kata Direktur APL, Ralph Semmel.

"Di luar keberhasilan demonstrasi teknologi yang benar-benar menarik, kemampuan berdasarkan DART suatu hari nanti bisa digunakan untuk mengubah arah asteroid untuk melindungi planet kita dan melestarikan kehidupan di Bumi seperti yang kita kenal," kata dia.

Kurang lebih empat tahun dari sekarang, proyek Hera Badan Antariksa Eropa akan melakukan survei terperinci terhadap Dimorphos dan Didymos, dengan fokus khusus pada kawah yang telah ditinggalkan oleh tabrakan "bunuh diri" DART dan pengukuran massa Dimorphos yang tepat.(*)

 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES