Tiga Kecamatan Ini Catat Kasus ODGJ Berat Tertinggi di Sidoarjo
Dinkes Sidoarjo mencatat sebanyak 5.325 ODGJ berat telah memperoleh layanan kesehatan selama tahun 2025. Wilayah Taman, Sidoarjo, dan Waru menjadi kawasan dengan sasaran pelayanan tertinggi.
SIDOARJO – Kecamatan Taman, Sidoarjo, dan Waru menjadi wilayah dengan jumlah sasaran pelayanan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berat paling banyak di Kabupaten Sidoarjo. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo menunjukkan, sebanyak 5.325 ODGJ berat telah memperoleh layanan kesehatan sepanjang tahun 2025.
Dari jumlah tersebut, wilayah kerja Puskesmas Taman menempati urutan pertama dengan 413 pasien, disusul Puskesmas Sidoarjo sebanyak 397 pasien, dan Puskesmas Waru sebanyak 342 pasien.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sidoarjo, dr. Rahmi Alfiyanti Nisaul Khoiro, mengatakan bahwa tingginya jumlah sasaran layanan kesehatan jiwa di tiga wilayah tersebut berkaitan erat dengan karakteristik kawasan. Ketiga kecamatan itu merupakan daerah padat penduduk dengan kompleksitas persoalan sosial maupun ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Menurut dr. Rahmi, data tersebut bukan menunjukkan lonjakan kasus semata, melainkan hasil dari optimalisasi pemetaan dan pendataan yang terus diperkuat oleh pemerintah daerah melalui fasilitas pelayanan kesehatan hingga tingkat desa.
“Data ini menjadi dasar kami dalam memetakan kebutuhan layanan kesehatan jiwa di Kabupaten Sidoarjo. Tujuannya agar setiap sasaran dapat memperoleh akses pengobatan yang berkesinambungan dan layanan yang merata,” kata dr. Rahmi, Selasa (23/6/2026).
Ia menjelaskan, pemetaan ini dilakukan untuk memastikan seluruh penyandang gangguan jiwa mendapatkan akses pengobatan, pendampingan, dan pemantauan secara berkelanjutan. Melalui data tersebut, Dinkes dapat mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan perhatian lebih dalam penyediaan layanan kesehatan jiwa.
Dokter Rahmi menambahkan, sejumlah langkah strategis terus dilakukan untuk memperkuat pelayanan kesehatan jiwa di Sidoarjo. Di antaranya melalui pemerataan distribusi obat, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader kesehatan jiwa, edukasi kepada keluarga pasien, hingga penguatan koordinasi lintas sektor dengan pemerintah desa, kecamatan, serta lingkungan RT dan RW.
“Melalui pemetaan ini, kami berharap tidak ada lagi penderita yang terlewat dari layanan kesehatan. Kolaborasi dengan kader, pemerintah desa, hingga lingkungan RT/RW termasuk keluarga sangat penting agar setiap kasus dapat segera teridentifikasi dan memperoleh penanganan yang tepat,” ujarnya.
Selain fokus pada pengobatan dan pendampingan pasien, Dinkes Sidoarjo juga terus menggalakkan promosi kesehatan mental kepada masyarakat. Upaya deteksi dini saat ini telah diintegrasikan dalam layanan kesehatan primer melalui skema Integrasi Layanan Primer (ILP) dan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Melalui program tersebut, masyarakat dapat melakukan skrining kesehatan jiwa dan konsultasi sejak dini. Dengan demikian, gangguan mental dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
"Kami berharap penguatan layanan kesehatan jiwa yang dilakukan secara berkelanjutan dapat memperluas jangkauan pelayanan, meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mental, sekaligus memastikan setiap warga yang membutuhkan memperoleh pengobatan dan pendampingan secara tepat," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


