Advertisement
Peristiwa

Tetap Waspada, Leptospirosis Belum Hilang dari Kabupaten Pacitan

Hingga awal Juni 2026, Dinas Kesehatan mencatat 147 kasus penyakit leptospirosis yang ditularkan melalui bakteri Leptospira tersebut.

TIMES Indonesia,
Tetap Waspada, Leptospirosis Belum Hilang dari Kabupaten Pacitan
Kepala Dinkes Pacitan dr Daru Mustikoaji. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
A-AA+

PACITAN Kasus Leptospirosis belum benar-benar lepas dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. 

Hingga awal Juni 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mencatat 147 kasus penyakit yang ditularkan melalui bakteri Leptospira tersebut. 

Advertisement

Meski demikian, tidak ada korban meninggal dunia akibat leptospirosis sepanjang tahun ini.

Kepala Dinkes Pacitan dr Daru Mustikoaji mengatakan, leptospirosis merupakan penyakit endemis di Pacitan sehingga kasusnya hampir selalu ditemukan setiap tahun.

Namun, kondisi saat ini berbeda dibanding dua tahun sebelumnya yang masih ditemukan kasus kematian.

"Kalau leptospirosis di Pacitan itu endemis ya, selalu ada. Namun yang jelas tidak ada kasus kematian akibat leptospirosis. Dua tahun kemarin ada," kata Daru, Rabu (24/6/2026).

Menurut dia, salah satu faktor yang menekan angka kematian adalah meningkatnya kemampuan tenaga kesehatan dalam mendeteksi penyakit lebih dini.

Advertisement

Pengalaman menghadapi kasus-kasus sebelumnya membuat petugas puskesmas lebih cepat mengenali gejala dan melakukan penanganan sebelum kondisi pasien memburuk.

"Karena ada peningkatan kapasitas teman-teman di puskesmas, awareness-nya lebih terbuka. Mengambil pelajaran dari kasus-kasus sebelumnya untuk belajar mendeteksi secara dini, jadi sebelum parah sudah ditangani," ujarnya.

Saat ini seluruh puskesmas di Pacitan juga telah dilengkapi alat tes cepat untuk mendukung deteksi dini.

"Di puskesmas itu sekarang ada tes cepat, begitu positif langsung dites," katanya.

Dinkes juga terus memantau populasi tikus sawah maupun tikus got yang menjadi reservoir bakteri leptospira.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 2015 di sepanjang aliran Sungai Grindulu, mulai kawasan permukiman hingga persawahan, ditemukan banyak tikus yang ginjalnya mengandung bakteri tersebut.

"Tahun 2015 kami pernah mengambil sampel seputaran Sungai Grindulu, mulai permukiman, sawah. Masih banyak tikus yang di ginjalnya mengandung bakteri leptospira," ujar Daru.

Namun hasil pemantauan berikutnya menunjukkan tren yang membaik. Pada survei tahun 2023 yang difokuskan di Kecamatan Ngadirojo dan Nawangan, persentase tikus pembawa bakteri leptospira turun signifikan.

"Kalau dulu sampai 70 persen, kemarin cuma 18 persen," katanya.

Meski demikian, Daru menilai ancaman leptospirosis belum bisa diabaikan. Menurutnya, pengendalian populasi tikus seharusnya dapat menekan risiko penularan apabila dilakukan secara serentak oleh masyarakat.

"Bisa dibendung sebetulnya kalau masyarakat bareng-bareng melakukan gropyokan. Yang sekarang jadi kendala itu karena tidak bareng membasminya," ujarnya.

Selain faktor tersebut, pengendalian leptospirosis juga menghadapi tantangan lain, mulai dari faktor alam hingga tumpang tindih kebijakan antarorganisasi perangkat daerah (OPD).

Sebelumnya, Dinkes Pacitan mencatat jumlah kasus leptospirosis mencapai 147 kasus hingga awal Juni 2026.

Dalam 10 hari terakhir sebelum pendataan tersebut, ditemukan tiga kasus baru, masing-masing dua kasus berasal dari Kecamatan Nawangan dan satu kasus dari Kecamatan Tulakan. Tren penambahan kasus disebut mulai melandai dibanding awal tahun. 

"Kasusnya ada terus, tetapi tidak sampai fatal," pungkas Daru. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Yusuf Arifai
PenulisYusuf ArifaiMagister Ilmu Hukum (MH) Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Wartawan Madya Nomor 21969-Unitomo/Wdya/DP/X/2024/21/10/93, Editor Bahasa Arab dan Penulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2021.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia