Advertisement
Peristiwa

Program Lebaran Anak Yatim Berpotensi Diperluas, Ini Kata Wabup Majalengka

Wabup Dena menyebut bahwa program ini tidak hanya berfokus pada santunan, tetapi juga diintegrasikan dengan berbagai bantuan lain.

TIMES Indonesia,
Program Lebaran Anak Yatim Berpotensi Diperluas, Ini Kata Wabup Majalengka
BAZNAS Majalengka menggelar lebaran anak yatim. (FOTO: Jaja Sumarja/TIMES Indonesia)
A-AA+

MAJALENGKA Momentum Lebaran Anak Yatim di Kabupaten Majalengka tidak sekadar menjadi ajang santunan, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.

Wakil Bupati atau Wabup Majalengka, Dena M. Ramdhan, menegaskan bahwa kegiatan tersebut menghadirkan kolaborasi luas lintas sektor demi menghadirkan kebahagiaan yang lebih utuh bagi anak-anak yatim.

Advertisement

Dalam keterangannya, Dena menyebut bahwa program ini tidak hanya berfokus pada santunan, tetapi juga diintegrasikan dengan berbagai bantuan lain, mulai dari program Rutilahu yang didukung pemerintah provinsi, kontribusi CSR perusahaan, hingga pembagian makanan bagi ratusan penerima manfaat.

"Bukan hanya santunan, tetapi ada juga bantuan lain seperti rutilahu dari provinsi, CSR dari perusahaan, dan pembagian makanan untuk sekitar lebih 400 penerima. Alhamdulillah, kegiatan berjalan khidmat dan menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim," ujarnya, Kamis (25/6/2026)

Suasana kegiatan yang sarat nilai kemanusiaan itu semakin terasa hangat dengan hadirnya tayangan video dan film yang diproduksi oleh BAZNAS, memberikan pengalaman emosional yang berkesan bagi para peserta. Bagi Dena, momen tersebut menjadi penegasan bahwa Lebaran Anak Yatim benar-benar menjadi 'hari mereka'.

Lebih jauh, ia berharap program ini dapat terus berlanjut dan berkembang setiap tahunnya dengan cakupan yang lebih luas.

"Mudah-mudahan kegiatan ini bisa terus dilaksanakan setiap tahun oleh Pak Bupati dan BAZNAS, bahkan kuotanya bisa bertambah. Tidak hanya 424, ke depan bisa mencapai 1.000 anak yatim," katanya.

Advertisement

Dalam pelaksanaannya, bantuan yang diberikan kepada anak yatim tidak dalam bentuk uang tunai, melainkan diwujudkan dalam bentuk perlengkapan sekolah. Setiap anak mendapatkan kesempatan untuk memilih langsung kebutuhan mereka, mulai dari sepatu, tas, hingga pakaian sekolah.

"Anak-anak yatim tidak diberikan uang, tetapi langsung dibelanjakan kebutuhan sekolahnya. Mereka bisa memilih sendiri, mengukur sendiri, dan membeli sendiri apa yang mereka butuhkan. Nilainya sekitar Rp500 ribu per orang," jelasnya.

Pendekatan ini dinilai memberikan pengalaman yang lebih bermakna, tidak hanya dari sisi bantuan material, tetapi juga menghadirkan rasa dihargai dan kebebasan memilih bagi anak-anak.

Dena menegaskan, program ini lahir dari semangat keadilan sosial, di mana setiap anak, termasuk anak yatim, memiliki hak yang sama untuk hidup dengan layak.

"Harapannya ini menjadi hajat anak yatim. Semua orang memiliki hak yang sama untuk hidup dengan kecukupan, memiliki pakaian, sepatu, dan kebutuhan yang layak. Anak yatim di Majalengka harus bisa merasakan hal yang sama seperti anak-anak yang mampu," tegasnya.

Lebaran Anak Yatim di Majalengka pun tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi simbol kepedulian kolektif, bahwa di tengah dinamika pembangunan, nilai kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun daerah yang inklusif dan berkeadilan. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Jaja Sumarja
PenulisJaja SumarjaSMA. Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum dan kriminal, pemerintahan, pendidikan, seni, budaya serta isu lainnya
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia