Advertisement
Peristiwa

Tradisi Sadranan Suro di Bukit Tlogopucang Temanggung: Kala Petani Kopi Merawat Warisan Leluhur

Bagi warga Tlogopucang, 11 Suro tidak hanya berarti pergantian tahun Jawa. Hari ini adalah momen mengenang leluhur, menjaga janji turun-temurun, sekaligus mengucap syukur atas kehidupan yang ditopang hasil bumi.

TIMES Indonesia,
Tradisi Sadranan Suro di Bukit Tlogopucang Temanggung: Kala Petani Kopi Merawat Warisan Leluhur
Petani kopi dari 8 dusun di Desa Tlogopucang berkumpul di area makam Mbah Kiai Kramat Desa Tlogopucang, Kandangan, Temanggung (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)
A-AA+

JOGJA Kabut tipis masih menyelimuti lereng Bukit Tlogopucang, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada Jumat (26/6/2026) pagi.

Jalan setapak menuju makam Mbah Wali Kiai Kramat mulai dipenuhi langkah-langkah warga dari delapan dusun yang tersebar di Desa Tlogopucang.

Advertisement

Mereka membawa tenong bambu yang sarat berisi ingkung ayam kampung, nasi, jajanan pasar, dan aneka hidangan lain yang telah disiapkan sejak dini hari.

Ada yang datang bersama keluarga, sementara lainnya berjalan berkelompok, ada pula yang berjalan sambil berbincang ringan di tengah udara sejuk pegunungan yang menyegarkan.

Bagi masyarakat Tlogopucang, tanggal 11 Suro tidak hanya berarti pergantian tahun Jawa.

Hari ini adalah momen untuk mengenang leluhur, menjaga janji turun-temurun, sekaligus mengucap syukur atas kehidupan yang ditopang oleh hasil bumi, terutama ladang dan kebun kopi.

Ribuan petani kopi dari delapan dusun yangada di Desa Tlogopucang berkumpul di kompleks makam Mbah Wali Kiai Kramat, sosok yang diyakini menjadi pelopor penyebaran Islam di kawasan ini.

Advertisement

Di atas bukit yang penuh dengan sejarah ini, tradisi sadranan berlangsung dengan penuh kekhidmatan, seperti yang sudah dilakukan para leluhur mereka selama puluhan tahun.

Suara tahlil dan doa yang dipimpin oleh tokoh agama setempat menggema di antara pepohonan. Warga duduk bersila dengan penuh khidmat, sementara tenong-tenong berisi makanan tersusun rapih di dekat mereka.

Setelah selesai melakukan doa bersama, suasana menjadi lebih hangat dan penuh keakraban. Tenong dibuka satu per satu, makanan dibagi-bagikan, dan santap bersama pun dimulai.

Raut wajah warga memancarkan kebahagiaan saat mereka menikmati hidangan di tengah hamparan hijau lereng bukit.

Anak-anak bermain riang di sekitar area makam, para petani saling bertukar cerita mengenai ladang dan panen, sementara generasi tua mengenang masa lampau yang penuh cerita.

Juwian, seorang petani kopi berusia 56 tahun dari Dusun Kedupokan, menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak masa Mbah Jaelani, lurah kedua Desa Tlogopucang.

"Sejak zaman Mbah Jaelani dulu sudah ada. Orang tua kami pun melakukan hal yang sama," ungkapnya saat dijumpai TIMES Indonesia di lokasi.

Menurut Juwian, tradisi sadranan berawal dari sebuah nazar yang diucapkan leluhur mereka.

Di masa penjajahan, penduduk desa berniat, jika Belanda hengkang dari Tlogopucang khususnya dan Indonesia pada umumnya, masyarakat akan berkomitmen untuk terus merawat makam Mbah Wali Kiai Kramat serta mengadakan ziarah rutin setiap tahun.

Janji tersebut hingga kini tetap dipelihara oleh masyarakat setempat.

Bagi warga Tlogopucang, makam yang terletak di puncak bukit itu tidak hanya menjadi tempat berziarah, tetapi juga simbol penting yang menghubungkan perjalanan sejarah desa dengan kehidupan mereka saat ini.

Makam tersebut menjadi pengingat akan masa lalu sekaligus penjaga harmoni kehidupan warga.

Kehidupan mayoritas penduduk desa bergantung pada sektor pertanian, khususnya kopi.

Lereng perbukitan di sekitar desa menghasilkan kopi berkualitas yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Namun, musim panen kali ini tidak sepenuhnya menguntungkan bagi para petani.

Hal itu diceritakan Mutajir, seorang pria berusia 54 tahun yang datang bersama keluarganya.

Dia mengungkapkan bahwa panen kopi tahun ini mengalami penurunan akibat cuaca yang sulit diprediksi. Ia menyebutkan bahwa hasil panen memang menurun karena cuaca sering berubah-ubah.

Namun demikian, Mutajir menegaskan bahwa tradisi sadranan tetap menjadi wujud rasa syukur masyarakat setempat.

Baginya dan warga lainnya, meski hasil panen berkurang, hal itu tidak mengurangi rasa terima kasih atas rezeki yang masih mereka terima.

Ia juga mengungkapkan harapan agar kondisi musim kopi di tahun mendatang dapat kembali membaik, sehingga para petani bisa menikmati hasil dari kerja keras mereka.

Tradisi sadranan yang berlangsung di Bukit Tlogopucang terus lestari meskipun zaman telah banyak berubah.

Generasi muda ikut ambil bagian dalam kegiatan ini, mendampingi orang tua mereka. Anak-anak diajak mendaki bukit, mengikuti doa bersama, dan berbagi makanan yang mereka bawa dari rumah masing-masing.

Tradisi ini sekaligus menjadi ajang pertemuan warga, yang di hari-hari biasa sibuk dengan pekerjaan di kebun dan ladang.

Di atas puncak bukit yang menghadap ke jajaran pegunungan, warga tidak hanya berkumpul untuk berdoa, tetapi juga merenungkan asal-usul desa mereka, mengenang leluhur yang telah mendahului mereka, dan memperkuat harapan untuk masa depan yang lebih baik bagi kehidupan para petani.

Pukul 10.00 WIB, saat kabut perlahan terangkat, satu per satu warga mulai meninggalkan makam di puncak bukit.

Tenong yang tadi penuh dengan berbagai makanan sekarang sudah kosong, namun doa dan harapan yang dipanjatkan pada tanggal 11 Suro akan tetap melekat di Bukit Tlogopucang, menanti untuk kembali dihidupkan oleh warga pada tahun berikutnya.

Bagi masyarakat Tlogopucang, sadranan bukan sekadar tradisi tahunan.

Lebih dari itu, sadranan adalah cara yang sederhana namun bermakna untuk menjaga ikatan dengan leluhur, memupuk kebersamaan antarwarga, serta menanamkan harapan untuk masa depan di tengah kehidupan di lereng-lereng kopi yang menjadi napas bagi desa kecil ini. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Eko Susanto
PenulisEko SusantoSMAN 3 Bandar Lampung. Meraih program beasiswa penulisan sastra Akademi Kebudayaan Yogyakarta 2004. Pernah menjadi runner up lomba foto Astra 2019. Masuk TIMES Indonesia Tahun 2024. Wilayah Yogyakarta, dan sekitarnya. Topik liputannya Seni, Budaya, Pariwisata,dan lainnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia