Sejarah Masjid Qiblatain: Saksi Berubahnya Arah Kiblat Umat Islam dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram
Secara historis, tempat ibadah yang terletak sekitar 4 kilometer di sebelah barat laut Masjid Nabawi ini memiliki latar belakang wilayah yang unik sebelum dikenal luas seperti sekarang.
JAKARTA – Kota Madinah selalu menyimpan cerita dan situs religi yang memikat hati para peziarah termasuk jemaah haji Indonesia dari berbagai belahan dunia, salah satunya adalah Masjid Qiblatain.
Destinasi spiritual ini menjadi sangat tersohor karena posisinya dalam lini masa sejarah Islam yang menandai titik balik perpindahan arah kiblat shalat umat Muslim, dari yang semula berkiblat ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa) di Palestina, berganti haluan menuju Ka'bah di Makkah Al-Mukarramah.
Secara historis, tempat ibadah yang terletak sekitar 4 kilometer di sebelah barat laut Masjid Nabawi ini memiliki latar belakang wilayah yang unik sebelum dikenal luas seperti sekarang.
"Masjid ini sebenarnya juga dikenal sebagai Masjid Bani Salimah, karena di zaman Nabi Muhammad SAW dahulu, daerah ini merupakan kawasan permukiman dari Bani Salimah," ungkap seorang muthawif atau pemandu sejarah ibadah, Ibrahim Al Haq, saat menjelaskan asal-usul tempat tersebut di Madinah, Minggu (28/6/2026).
Ibrahim menambahkan bahwa keturunan dari Bani Salimah merupakan salah satu kaum yang menjadi pendukung setia perjuangan Rasulullah SAW sewaktu berada di Madinah.
Lantaran lokasinya yang dirasa agak jauh pada masa itu, Bani Salimah sempat berniat untuk pindah rumah ke sekitar lingkungan Masjid Nabawi agar bisa selalu dekat dengan Rasulullah SAW.
Namun, Rasulullah SAW meminta mereka untuk tetap tinggal di sana.
Beliau menenangkan mereka dengan menjelaskan bahwa jika mereka harus berjalan jauh menuju Masjid Nabawi, maka pahala yang didapat justru akan semakin banyak seiring dengan setiap langkah kaki yang dilalui.
Lebih lanjut, Ibrahim mengulas memorandum peristiwa agung yang melatarbelakangi lahirnya nama Masjid Qiblatain (Masjid Dua Kiblat).
Pada awal mula perkembangan Islam, kaum Muslimin mendirikan salat dengan menghadap ke Baitul Maqdis.
Kondisi geopolitik ibadah kala itu sering kali memicu sentimen batin bagi Rasulullah SAW karena dinilai menyerupai kiblat kaum Yahudi dan Nasrani.
Dorongan tersebut membuat Rasulullah SAW tak pernah putus menengadahkan tangan, memohon petunjuk kepada Allah SWT agar arah berkiblat umat Islam diberikan kekhasan sendiri.
Penantian panjang dan doa tulus dari Nabi akhir zaman tersebut akhirnya terjawab secara langsung di tempat ini melalui turunnya wahyu suci di tengah-tengah pelaksanaan ibadah.
"Kemudian ketika Rasulullah SAW berada di sini, saat sedang menjalankan salat Zuhur atau Asar, di rakaat kedua turunlah firman Allah SWT yang memerintahkan agar arah kiblat diubah ke Ka’bah yang ada di Makkah," jelas Ibrahim menggambarkan kekhidmatan momen tersebut.
Begitu ayat dari Surah Al-Baqarah tersebut turun, Rasulullah SAW secara spontan langsung memutar tubuhnya sebesar 180 derajat di pertengahan shalat.
Beliau berjalan menuju shaf paling belakang yang seketika berubah menjadi shaf paling depan, sehingga posisi beliau tetap berada di garda terdepan sebagai imam memimpin jemaah tanpa membatalkan shalat yang tengah berlangsung.
Guna melestarikan memori historis yang sangat fundamental bagi peradaban Islam tersebut, struktur bangunan ikonik ini terus mendapatkan pemeliharaan dan renovasi modern dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.
Sebagai bentuk edukasi visual bagi para jemaah haji maupun umrah, arsitek pemugaran sengaja mempertahankan sebuah mihrab kecil simbolis di bagian atas dinding pintu masuk masjid.
Penanda arsitektural kuno tersebut dipelihara untuk menunjukkan arah geografis di mana kiblat pertama umat Islam dulunya mengarah ke Palestina.
Sesuai nama harfiahnya, Masjid Qiblatain kini berdiri megah dengan karakteristik dua petunjuk mihrab.
Meskipun demikian, aktivitas peribadatan harian saat ini secara mutlak tetap berpusat pada mihrab utama yang berkiblat lurus ke Ka'bah di Makkah, sementara mihrab sekunder di sisi seberangnya murni difungsikan sebagai monumen sejarah bagi generasi muslim masa kini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


