Menelusuri Museum dr Yap dan Jejak Dokter Visioner Pendiri RS Mata Pertama di Yogyakarta
Berada di kawasan belakang YAPH Square, museum ini menyimpan lebih dari 900 koleksi bersejarah yang merekam perkembangan pelayanan kesehatan mata di Indonesia sejak awal abad ke-20.
JOGJA – Di balik megahnya Rumah Sakit Mata Dr Yap Yogyakarta, tersimpan sebuah museum yang menjadi saksi perjalanan panjang dunia kesehatan Indonesia.
Museum Dr Yap Prawirohusodo bukan sekadar ruang penyimpanan benda-benda lama, tetapi menjadi pengingat perjuangan seorang dokter visioner yang mengabdikan hidupnya demi menghadirkan layanan kesehatan mata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Berada di kawasan belakang YAPH Square, museum ini menyimpan lebih dari 900 koleksi bersejarah yang merekam perkembangan pelayanan kesehatan mata di Indonesia sejak awal abad ke-20.
Menariknya, seluruh koleksi tersebut dapat dinikmati masyarakat secara gratis.
Sejarah Museum Dr Yap Prawirohusodo tidak dapat dipisahkan dari sosok Dr Yap Hong Tjoen, seorang dokter mata asal Yogyakarta yang dikenal memiliki dedikasi tinggi terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.
Pada awal abad ke-20, kesempatan menempuh pendidikan kedokteran di luar negeri bukanlah hal yang mudah.
Namun, Dr Yap Hong Tjoen berhasil menjadi salah satu pelajar Tionghoa pertama yang menempuh pendidikan spesialis mata di Universitas Leiden, Belanda.
Ia menyelesaikan studinya pada tahun 1919. Selama berada di Negeri Kincir Angin, muncul cita-cita besar dalam dirinya untuk membangun rumah sakit khusus mata di kota kelahirannya, Yogyakarta.
Keinginan tersebut lahir setelah melihat banyaknya masyarakat Hindia Belanda yang mengalami gangguan penglihatan hingga kebutaan, sementara fasilitas pelayanan kesehatan mata saat itu masih sangat terbatas.
Mendirikan Balai Pengobatan Mata Pertama
Sekembalinya ke Indonesia, Dr Yap Hong Tjoen langsung mewujudkan impiannya.
Ia membuka balai pengobatan mata pertama di kawasan Gondolayu, lokasi yang kini menjadi Kantor Pos Gondolayu Yogyakarta.
Di tempat sederhana itulah pelayanan kesehatan mata diberikan kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun status sosial ekonomi. Komitmen tersebut membuat jumlah pasien terus meningkat dari tahun ke tahun.
Melihat tingginya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan mata, Dr. Yap kemudian mendirikan rumah sakit khusus mata pada tahun 1923.
Rumah sakit tersebut diberi nama Het Prinses Juliana Gasthuis voor Ooglijders dan diresmikan langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.
Seiring perjalanan waktu, rumah sakit ini kemudian dikenal luas sebagai Rumah Sakit Mata Dr Yap, salah satu rumah sakit mata tertua sekaligus paling bersejarah di Indonesia.
Tidak berhenti di bidang pelayanan kesehatan, Dr Yap juga menunjukkan kepedulian besar terhadap penyandang disabilitas netra.
Pada tahun 1926, ia mendirikan Balai Mardi Wuto, sebuah lembaga sosial yang berfokus pada pembinaan, pendidikan, dan pemberdayaan penyandang tunanetra.
Warisan Pengabdian yang Terus Berlanjut
Semangat pelayanan yang dibangun Dr Yap tidak berhenti pada dirinya.
Pada tahun 1949, pengelolaan rumah sakit beserta lembaga sosial yang didirikannya diteruskan oleh putranya, Dr. Yap Kie Tiong, yang sejak awal telah dipersiapkan menjadi penerus.
Kemudian pada tahun 1972, pengelolaan rumah sakit diserahkan kepada Yayasan Dr. Yap Prawirohusodo agar semangat pengabdian tersebut menjadi milik masyarakat luas, bukan hanya keluarga pendiri.
Nama Prawirohusodo sendiri dipilih karena memiliki makna filosofis dalam bahasa Jawa yang melambangkan keberanian dalam mengabdi kepada kesehatan masyarakat.
Nama tersebut juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas rumah sakit di tengah dinamika sosial-politik Indonesia saat itu.
Dari Gudang Menjadi Museum Bersejarah
Perjalanan lahirnya Museum Dr. Yap Prawirohusodo bermula dari banyaknya benda peninggalan keluarga Dr. Yap yang selama puluhan tahun tersimpan di gudang rumah sakit.
Mulai dari peralatan operasi mata kuno, buku-buku ilmiah, dokumen sejarah, foto-foto keluarga, hingga berbagai barang pribadi ternyata memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi.
Melihat potensi tersebut, jajaran direksi rumah sakit menggagas pendirian museum sebagai pusat edukasi sejarah kedokteran mata di Indonesia.
Inisiatif tersebut diprakarsai oleh dr. Basarodin, dr. Tri Sutartin Radjiman, dr. Wasisdi Gunawan, Ignatius Rudhyanto, dan J. Handoyo.
Setelah memperoleh izin dari keluarga Dr. Yap yang berdomisili di Belanda, proses inventarisasi koleksi dilakukan oleh tim yang dipimpin Magdalena Indrawati bersama sejumlah ahli sejarah dan museum.
Akhirnya, pada 29 Mei 1998, Museum Dr. Yap Prawirohusodo resmi dibuka oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Rumah Sakit Mata Dr. Yap.
Museum tersebut menempati bangunan lama rumah sakit seluas 246 meter persegi yang hingga kini masih mempertahankan karakter arsitektur khas kolonial Belanda.
Menyimpan Lebih dari 900 Koleksi Berharga
Museum Dr. Yap Prawirohusodo kini menjadi salah satu museum tematik kesehatan paling lengkap di Yogyakarta.
Sedikitnya terdapat lebih dari 900 koleksi yang terbagi ke dalam tiga ruang pamer utama.
Ruang pertama menghadirkan berbagai koleksi kedokteran, mulai dari alat operasi mata tempo dulu, mikroskop, alat pemeriksaan mata klasik, Snellen Chart, hingga berbagai perangkat laboratorium yang digunakan dalam praktik kedokteran pada masanya.
Ruang kedua menampilkan koleksi rumah tangga keluarga Dr. Yap, seperti perabot, perlengkapan dapur, serta berbagai barang keseharian yang menggambarkan kehidupan keluarga dokter legendaris tersebut.
Sementara ruang ketiga menyimpan koleksi keluarga berupa foto-foto bersejarah, dokumen penting, lukisan, hingga lebih dari 1.400 judul buku yang membahas sastra, budaya, filsafat, kesehatan, pendidikan, dan fotografi.
Salah satu koleksi yang paling bernilai adalah lukisan Dr. Yap Hong Tjoen yang merupakan hadiah langsung dari Ki Hajar Dewantara saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-25 Rumah Sakit Mata Dr. Yap.
Wisata Edukasi yang Sarat Nilai Sejarah
Museum ini kini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang banyak dikunjungi pelajar, mahasiswa, tenaga kesehatan, hingga wisatawan umum yang ingin mengenal sejarah perkembangan dunia medis Indonesia.
Salah seorang pengunjung, Rina, mengaku terkesan dengan koleksi yang dipamerkan.
"Tempat yang bagus untuk belajar sejarah kedokteran di Indonesia. Koleksinya terawat baik dan penjelasannya mudah dipahami. Cocok untuk wisata edukasi bersama keluarga atau sekolah," ujarnya.
Pengelola Museum Dr Yap Prawirohusodo, Dwi Anna Sitoresmi, mengatakan museum memanfaatkan bangunan bekas bangsal rumah sakit yang masih mempertahankan nilai historisnya.
Menurutnya, keberadaan museum merupakan upaya menjaga warisan perjuangan Dr. Yap Hong Tjoen agar tetap dikenal generasi masa kini.
"Museum Dr. Yap Prawirohusodo buka setiap Senin hingga Jumat pukul 08.30–14.30 WIB dan Sabtu pukul 08.30–13.30 WIB. Museum dilengkapi ruang baca, toilet, serta musala. Seluruh masyarakat dapat berkunjung tanpa dipungut biaya tiket masuk," jelas Dwi Anna Sitoresmi.
Ia menambahkan, museum ini menjadi bukti bahwa cita-cita besar Dr Yap saat menempuh pendidikan di Belanda berhasil diwujudkan melalui pembangunan rumah sakit khusus mata di Yogyakarta yang hingga kini masih memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan koleksi yang lengkap, bangunan berarsitektur klasik, serta kisah inspiratif di balik perjuangan pendirinya, Museum Dr Yap Prawirohusodo menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus edukasi yang layak dikunjungi.
Museum ini bukan hanya menyimpan benda-benda bersejarah, tetapi juga mewariskan nilai kemanusiaan, pengabdian, dan semangat pelayanan yang terus relevan hingga saat ini. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

