Advertisement
Peristiwa

Tanam 1200 Bibit Sawi dan Selada, Kampung Urban Farming Wirobrajan Yogyakarta Siap Jadi Destinasi Edukasi

Bibit sayur ditanam menggunakan wall planter, yakni media tanam vertikal yang dipasang memanjang di sepanjang tembok kawasan, sehingga mampu memaksimalkan ruang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

TIMES Indonesia,
Tanam 1200 Bibit Sawi dan Selada, Kampung Urban Farming Wirobrajan Yogyakarta Siap Jadi Destinasi Edukasi
Seorang mahasiswa menanam bibit sawi. (FOTO: Pemkot Yogyakarta for TIMES Indonesia)
A-AA+

JOGJA Keterbatasan lahan bukan lagi menjadi penghalang bagi warga Kota Yogyakarta untuk mewujudkan ketahanan pangan.

Kelompok Tani Swa Katon Asri membuktikan bahwa ruang sempit di kawasan permukiman dapat disulap menjadi kebun produktif melalui konsep urban farming yang ramah lingkungan.

Advertisement

Semangat itu kembali ditunjukkan dalam kegiatan penanaman 1.200 bibit sawi dan selada air di kawasan Pendopo Sumarah, Jalan Setiyaki, Wirobrajan, Kota Yogyakarta.

Bibit-bibit tersebut ditanam menggunakan wall planter, yakni media tanam vertikal yang dipasang memanjang di sepanjang tembok kawasan, sehingga mampu memaksimalkan ruang yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus mendorong gaya hidup sehat melalui konsumsi sayuran organik hasil budidaya sendiri.

Urban Farming, Solusi Ketahanan Pangan Perkotaan

Sekretaris Kelompok Tani Swa Katon Asri, Yantini, mengatakan pemanfaatan lahan terbatas menjadi solusi nyata bagi masyarakat perkotaan yang umumnya tidak memiliki pekarangan luas untuk bercocok tanam.

Menurutnya, konsep pertanian perkotaan tidak hanya menghasilkan bahan pangan segar, tetapi juga mampu meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga.

Advertisement

"Kami mengikuti program pemerintah dalam mendukung ketahanan pangan. Harapannya, masyarakat bisa lebih mandiri karena dapat mengonsumsi hasil tanaman sendiri yang organik, sehat, dan berkualitas," ujar Yantini, Rabu (8/7/2026).

Yantini menjelaskan, kawasan pertanian tersebut saat ini tidak hanya ditanami sayuran daun, tetapi juga beragam komoditas hortikultura dan tanaman produktif lainnya.

Tembok Disulap Menjadi Kebun Produktif

Kreativitas menjadi kunci utama keberhasilan kelompok tani tersebut. Karena lahan yang tersedia sangat terbatas, berbagai media tanam alternatif dimanfaatkan secara maksimal.

Selain wall planter, anggota kelompok juga menggunakan polybag, pot sederhana, hingga galon bekas yang didaur ulang menjadi wadah tanam.

Berbagai jenis tanaman kini tumbuh subur di lokasi tersebut, mulai dari cabai, tomat, terong, seledri, tanaman obat keluarga (TOGA), hingga tanaman buah seperti pepaya, pisang, mangga, sawo, dan kelengkeng.

"Wall planter menjadi solusi paling efektif untuk kawasan perkotaan. Tembok-tembok yang sebelumnya kosong kini bisa dimanfaatkan sebagai media tanam sehingga tetap produktif," jelas Yantini.

Konsep ini dinilai mampu mengubah wajah lingkungan menjadi lebih hijau sekaligus meningkatkan produktivitas lahan yang sebelumnya tidak memiliki nilai manfaat.

Berawal dari Hidroponik, Kini Berkembang Pesat

Kelompok Tani Swa Katon Asri bukanlah kelompok baru. Organisasi ini telah berdiri sejak tahun 2017 dengan fokus awal mengembangkan budidaya hidroponik di wilayah RT 17.

Seiring berjalannya waktu, aktivitas pertanian terus berkembang. Sejak 27 Februari 2022, Pendopo Sumarah mulai dijadikan pusat kegiatan kelompok dan hingga kini menjadi lokasi utama pengembangan urban farming.

Dalam prosesnya, kelompok tersebut memperoleh pendampingan dari Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta sebagai bagian dari program penguatan ketahanan pangan daerah.

Tak hanya itu, berbagai pihak turut memberikan dukungan, mulai dari pemerintah kelurahan, gabungan kelompok tani (Gapoktan), kemantren, hingga perguruan tinggi seperti Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Polbangtan, dan sejumlah mitra lainnya.

Kolaborasi tersebut dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat kegiatan pertanian masyarakat terus berkembang.

"Alhamdulillah anggota semakin bertambah. Semangat gotong royong warga juga luar biasa. Respons masyarakat terhadap kegiatan bercocok tanam ini sangat positif," katanya.

Hasil Panen Dijual Lebih Murah untuk Warga

Keberadaan Kelompok Tani Swa Katon Asri tidak hanya memberi manfaat bagi anggotanya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Hasil panen sayuran dipasarkan kepada warga dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga pasar sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi lokal.

Yantini menjelaskan, hasil panen terong dijual sekitar Rp4.000 per kemasan kepada warga RW 4.

Sementara itu, tanaman yang telah dibudidayakan dalam polybag dipasarkan mulai Rp25.000 per tanaman. Adapun tanaman terong yang sudah siap produksi dalam media tanam dapat dijual hingga Rp50.000.

Menurutnya, sistem tersebut mampu meningkatkan nilai ekonomi tanaman sekaligus mendorong masyarakat untuk mulai menanam sendiri di rumah masing-masing.

Ke depan, Kelompok Tani Swa Katon Asri tidak hanya ingin dikenal sebagai kawasan pertanian warga, tetapi juga berkembang menjadi pusat edukasi pertanian perkotaan di Kota Yogyakarta.

Yantini berharap lokasi tersebut dapat menjadi tempat belajar bagi masyarakat, sekolah, hingga berbagai komunitas yang ingin mengenal teknik bercocok tanam di lahan terbatas.

"Kami berharap kebersamaan anggota terus terjaga, pertanian semakin berkembang, dan kawasan ini bisa menjadi pusat edukasi serta pembelajaran bagi masyarakat," tuturnya.

PPL Siapkan Kawasan Jadi Laboratorium Pertanian Kota

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Sagiyo, menilai Kelompok Tani Swa Katon Asri memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi sentra pembelajaran urban farming di Kota Yogyakarta.

Sejak mulai melakukan pendampingan pada Januari 2026, berbagai aktivitas pertanian yang sebelumnya sempat vakum berhasil diaktifkan kembali secara bertahap.

Tahap awal difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Namun dalam jangka panjang, kawasan tersebut dipersiapkan menjadi laboratorium pembelajaran pertanian bagi masyarakat luas.

"Tujuan kami bukan sekadar menghasilkan sayuran untuk konsumsi rumah tangga. Kami ingin menjadikan tempat ini sebagai pusat belajar. Warga bisa mempelajari teknik budidaya tanaman, pengendalian hama, hingga praktik pertanian perkotaan secara langsung," jelasnya.

Akan Dilengkapi Jagung, Padi hingga Bawang Merah

Pengembangan kawasan urban farming ini akan terus dilakukan dengan menambah berbagai komoditas pangan lainnya.

Sagiyo menyebutkan, sejumlah tanaman seperti jagung, kacang tanah, padi, bawang merah, hingga berbagai tanaman pangan lainnya akan mulai dibudidayakan agar kawasan tersebut semakin lengkap sebagai pusat edukasi.

Selain memperbanyak jenis tanaman, inovasi teknologi budidaya juga akan terus diterapkan sehingga kawasan ini tidak hanya memiliki fungsi lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Dengan pengembangan tersebut, Kelompok Tani Swa Katon Asri diharapkan menjadi salah satu contoh sukses penerapan pertanian perkotaan yang mampu mengintegrasikan aspek ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, serta pendidikan bagi masyarakat, pelajar, hingga mahasiswa yang ingin belajar mengenai urban farming di Kota Yogyakarta. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Soni Haryono
PenulisSoni HaryonoSarjana Ekonomi UPN Veteran Yogyakarta (1993). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum, sains, seni, budaya dan pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia