Advertisement
Peristiwa

Secuil Kisah Haru Pekerja Kecil dari Balik Aksi Demo MBG di Majalengka

Di antara spanduk, orasi dan barisan massa, ada suara sederhana yang justru paling jujur menggambarkan makna program tersebut bagi masyarakat kecil.

TIMES Indonesia,
Secuil Kisah Haru Pekerja Kecil dari Balik Aksi Demo MBG di Majalengka
Aksi damai MBG di Kabupaten Majalengka. (FOTO: Jaja Sumarja/TIMES Indonesia)
A-AA+

MAJALENGKA Riuh aksi damai yang mengiringi dukungan terhadap program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di depan Pendopo Bupati Majalengka, Rabu (8/7/2026), menyimpan kisah-kisah sunyi yang jarang tersorot.

Di antara spanduk, orasi dan barisan massa, ada suara sederhana yang justru paling jujur menggambarkan makna program tersebut bagi masyarakat kecil.

Advertisement

Adalah Yoga Sworo (43), warga Majalengka, yang berdiri tanpa atribut mencolok.

Ia bukan orator, bukan pula tokoh aksi. Namun, pengakuannya menjadi potret nyata bagaimana program MBG menyentuh lapisan paling bawah.

Dengan suara lirih namun tegas, Yoga mengenang masa sulit sebelum hadirnya program tersebut. Ia pernah menjalani hari-hari dengan mengais paku dari aliran sungai, pekerjaan serabutan yang hanya menghasilkan Rp4 ribu hingga Rp8 ribu per hari.

"Memang fakta, saya dulu mencari paku dari kali ke kali. Tapi Alhamdulillah, dengan adanya MBG, saya sangat terbantu," ujarnya, menahan haru.

Kini, Yoga bekerja sebagai pencuci 'ombreng' dalam program MBG. Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, namun baginya menjadi titik balik kehidupan.

Advertisement

Dari penghasilan yang nyaris tak cukup, kini ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk dua anaknya, satu duduk di bangku SMA dan satu masih bayi.

"Dulu sangat menderita untuk membiayai keluarga. Sekarang Alhamdulillah, anak istri saya ikut bahagia," katanya.

Yoga Sworo pekerja SPPG di program MBG Majalengka. (FOTO: Jaja Sumarja/TIMES Indonesia)
Yoga Sworo pekerja SPPG di program MBG Majalengka. (FOTO: Jaja Sumarja/TIMES Indonesia)

Aksi damai yang berlangsung di depan Pendopo Bupati Majalengka itu tidak hanya menjadi panggung dukungan terhadap kebijakan pemerintah, tetapi juga ruang bagi suara-suara kecil seperti Yoga untuk muncul ke permukaan.

Program MBG, yang digagas sebagai upaya pemenuhan gizi sekaligus pemberdayaan masyarakat, ternyata membawa dampak lebih luas dari sekadar bantuan pangan.

Ia membuka ruang kerja, memberi harapan, dan menghadirkan rasa aman bagi mereka yang sebelumnya berada di ambang ketidakpastian ekonomi.

Di balik dinamika aksi dan perdebatan publik, kisah Yoga menjadi pengingat bahwa kebijakan publik tidak hanya diukur dari angka dan statistik, tetapi juga dari perubahan nyata dalam kehidupan individu.

Dari Majalengka, di tengah aksi damai MBG itu, suara-suara kecil seperti Yoga justru menjadi gema paling kuat, tentang harapan, tentang bertahan, dan tentang kesempatan kedua. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Jaja Sumarja
PenulisJaja SumarjaBergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum dan kriminal, pemerintahan, pendidikan, seni, budaya serta isu lainnya
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia