Layanan Homecare Puskesmas Tempurejo Jadi Penyelamat Ibu Hamil Risiko Tinggi di Dusun Krajan
Gurat kecemasan yang sempat membayangi wajah Nur Asmi Safitri kini perlahan berganti dengan rasa tenang.
JEMBER – Gurat kecemasan yang sempat membayangi wajah Nur Asmi Safitri kini perlahan berganti dengan rasa tenang.
Warga Dusun Krajan, Desa Tempurejo, Kecamatan Tempurejo ini merupakan satu dari sekian banyak ibu hamil di wilayah tersebut yang harus berjuang ekstra karena masuk dalam kategori Ibu Hamil Risiko Tinggi (Risti).
Namun, beratnya perjuangan itu kini terasa jauh lebih ringan berkat hadirnya program Homecare dari Puskesmas Tempurejo.
Program jemput bola dari pemerintah ini hadir sebagai jawaban atas tantangan geografis dan kondisi fisik para ibu hamil yang membutuhkan pengawasan medis ketat melalui puskesmas tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke fasilitas kesehatan.
Bagi seorang ibu dengan kehamilan risiko tinggi, mobilitas sering kali menjadi musuh utama.
Jalanan yang tidak selalu mulus dan jarak tempuh ke pusat kesehatan dapat memicu stres fisik maupun psikologis yang berbahaya bagi janin.
Menyadari hal tersebut, tim medis Puskesmas Tempurejo yang terdiri dari bidan desa, perawat, dan kader kesehatan secara rutin melintasi batas-batas dusun untuk mendatangi langsung rumah warga.
Nur Asmi Safitri tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan syukurnya saat menceritakan bagaimana para petugas medis dengan telaten memeriksa kondisinya di dalam rumahnya sendiri.
"Dengan kondisi kehamilan saya yang dinyatakan berisiko tinggi, jujur ada ketakutan tersendiri setiap kali harus keluar rumah untuk periksa," kata Nur, Senin (13/7/2026).
Lebih dari sekadar pemeriksaan fisik, Nur mengaku bahwa kehadiran para petugas medis di rumahnya memberikan suntikan moral dan rasa aman yang sangat besar bagi mentalnya yang sempat turun akibat status kehamilan risti yang disandangnya.
Secara terpisah, Kepala Puskesmas Tempurejo, dr. Reni Septa Anggraeni, menegaskan bahwa pelayanan homecare untuk ibu hamil risti bukan sekadar program formalitas, melainkan sebuah misi kemanusiaan untuk menekan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di tingkat akar rumput.
Menurutnya, tim homecare Puskesmas Tempurejo menerapkan standar pelayanan yang komprehensif, meliputi Deteksi Dini Komplikasi, Konsultasi Gizi Spesifik dan Edukasi P4K (Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi).
"Memantau tekanan darah, kadar hemoglobin, dan tanda-tanda vital lainnya untuk mencegah kondisi fatal seperti preeklampsia dan Memberikan panduan nutrisi harian yang tepat agar berat badan ibu dan perkembangan janin tetap optimal," ungkap dr. Reni.
"Mengajak suami dan keluarga besar untuk terlibat aktif dalam merencanakan persalinan, mulai dari menyiapkan calon pendonor darah hingga moda transportasi darurat," tambahnya.
Dr. Reni menyampaikan bahwa pendekatan persuasif di dalam lingkungan rumah terbukti jauh lebih efektif.
"Ibu hamil dan keluarganya menjadi lebih terbuka untuk berkonsultasi mengenai keluhan yang mereka rasakan tanpa rasa canggung atau terburu-buru seperti di ruang tunggu klinik," jelasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


