PELITA Minta Pemkab Alor Kaji Ulang Lokasi Satrad TNI AU, Soroti Perlindungan Situs Adat
Pendekatan partisipatif menjadi jalan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan pertahanan negara dan pelestarian warisan budaya lokal.
ALOR – Rencana pembangunan Satuan Radar (Satrad) TNI Angkatan Udara di kawasan Gunung Omtel, Kecamatan Alor Barat Laut, mendapat sorotan dari Perkumpulan Pelindung Tanah Air (PELITA).
Organisasi tersebut meminta Pemerintah Kabupaten Alor meninjau kembali lokasi pembangunan dengan mempertimbangkan keberadaan situs adat dan warisan budaya masyarakat setempat.
Ketua Umum sekaligus Pendiri PELITA, Damanhury Jab, mengatakan pembangunan yang menyangkut kawasan adat seharusnya didahului dengan kajian yang menyeluruh, baik dari aspek sosial, budaya, maupun lingkungan.
Menurutnya, langkah itu penting agar pembangunan strategis nasional tetap berjalan seiring dengan perlindungan hak masyarakat adat.
Ia menjelaskan, kawasan Gunung Omtel yang direncanakan menjadi lokasi pembangunan Satrad TNI AU menyimpan sejumlah situs yang memiliki nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat adat Oa dan Adang, di antaranya Sumber Mata Air Ate serta makam para leluhur.
"Keberadaan situs-situs tersebut harus menjadi perhatian serius sebelum pemerintah mengambil keputusan. Aspirasi masyarakat adat juga perlu didengar sebagai bagian dari proses pengambilan kebijakan," kata Damanhury, Selasa (14/7/2026).
Menurutnya, keberadaan warisan budaya itu menjadi alasan kuat agar pemerintah mengkaji ulang rencana pembangunan di lokasi tersebut.
Ia menilai pelestarian situs adat harus menjadi bagian dari pertimbangan dalam setiap proyek pembangunan yang bersentuhan dengan ruang hidup masyarakat.
Selain meminta evaluasi terhadap lokasi pembangunan, PELITA juga menyoroti belum adanya langkah konkret dari Pemerintah Kabupaten Alor, khususnya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Pariwisata, untuk melakukan inventarisasi maupun penetapan kawasan tersebut sebagai cagar budaya atau warisan budaya daerah.
Damanhury menilai upaya perlindungan terhadap situs bersejarah perlu segera dilakukan agar nilai budaya yang diwariskan para leluhur tetap terjaga bagi generasi mendatang.
PELITA berharap pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat adat serta melibatkan akademisi, budayawan, dan ahli lingkungan sebelum menetapkan keputusan akhir mengenai pembangunan Satrad TNI AU di Gunung Omtel.
Menurut organisasi itu, pendekatan partisipatif menjadi jalan untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan pertahanan negara dan pelestarian warisan budaya lokal.(*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


