Advertisement
Peristiwa

Alarm Serius Kesehatan Daerah, Kasus HIV/AIDS dan TBC di Majalengka Masih Tinggi

Hingga periode Januari hingga Mei 2026, kasus HIV/AIDS sudah ditemukan 97 kasus baru. Sementara kasus TBC hingga tahun 2026 sejauh ini telah mencapai 2.886 kasus.

TIMES Indonesia,
Alarm Serius Kesehatan Daerah, Kasus HIV/AIDS dan TBC di Majalengka Masih Tinggi
Bupati dan Wakil Bupati Majalengka H Eman Suherman-Dena M Ramdhan. (FOTO: Jaja Sumarja/TIMES Indonesia)
A-AA+

MAJALENGKA Tingginya angka kasus HIV/AIDS dan Tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menjadi sinyal peringatan serius bagi sektor kesehatan daerah, terlebih di tengah upaya pembangunan menuju visi Majalengka 'Langkung SAE'

Dua penyakit menular ini masih menjadi tantangan besar yang berdampak langsung pada kualitas hidup dan produktivitas masyarakat, di tengah pengendalian Malaria yang terus dijaga.

Advertisement

Bupati Majalengka, H Eman Suherman, menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak bisa dianggap biasa. Ia menyebut, data yang ada harus menjadi dasar penguatan kebijakan sekaligus percepatan aksi di lapangan.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, kasus HIV/AIDS pada tahun 2024 tercatat sebanyak 203 kasus, kemudian menurun menjadi 148 kasus pada 2025.

Namun hingga periode Januari hingga Mei 2026, kasus HIV/AIDS sudah ditemukan 97 kasus baru, yang menunjukkan potensi peningkatan jika tidak ditangani secara optimal.

Sementara itu, kasus TBC masih tergolong tinggi dan cenderung meningkat. Pada 2024 tercatat sebanyak 4.464 kasus, naik menjadi 4.600 kasus pada 2025, dan hingga tahun 2026 telah mencapai 2.886 kasus.

"Tingginya angka ini menempatkan TBC sebagai salah satu ancaman utama kesehatan masyarakat di Majalengka," ungkap Bupati Eman Suherman, Kamis (23/7/2026)

Advertisement

Di sisi lain, kasus Malaria menunjukkan tren yang relatif terkendali. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 19 kasus, menurun menjadi 9 kasus pada 2025, dan hingga 2026 tercatat 3 kasus.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap menekankan pentingnya kewaspadaan agar kasus tidak kembali meningkat.

"Ini menjadi alarm serius bagi kita semua. Penanganan tidak boleh hanya berhenti pada data, tetapi harus diwujudkan dalam langkah nyata dan terukur," ujar Eman.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menekan angka kasus, mulai dari penguatan layanan kesehatan primer, peningkatan deteksi dini, hingga memastikan kesinambungan pengobatan bagi pasien. 

Selain itu, penghapusan stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) juga menjadi bagian penting dalam strategi penanganan.

Pemerintah Kabupaten Majalengka saat ini tengah menyusun Roadmap Penanganan AIDS, TBC, dan Malaria (ATM) 2026–2030 sebagai langkah strategis untuk memperkuat sistem kesehatan daerah.

Roadmap tersebut diharapkan mampu menjadi pedoman terpadu dalam menekan angka kasus sekaligus mendukung target nasional, termasuk eliminasi TBC pada 2030.

Dengan kondisi yang ada, pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut berperan aktif dalam upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.

"Kesadaran kolektif dinilai menjadi kunci dalam menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berdaya saing," katanya.

Jika tidak ditangani secara komprehensif, tingginya kasus HIV/AIDS dan TBC dikhawatirkan akan terus membebani sistem kesehatan serta menghambat laju pembangunan daerah, meskipun pengendalian Malaria menunjukkan capaian yang positif. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Jaja Sumarja
PenulisJaja SumarjaBergabung di TIMES Indonesia sejak 2019. Meliput berbagai topik, termasuk politik, hukum dan kriminal, pemerintahan, pendidikan, seni, budaya serta isu lainnya
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia