Seniman Kuda Lumping di Kota Malang Masih Kurang Perhatian
Kurangnya perhatian pada seniman Kuda Lumping di Kota Malang, sangat memprihatinkan. Pasangan Nanda Wanedi (Menawan) pun berharap bisa mengoptimalkan potensi seni budaya dari pengiat seni.

MALANG – Kurangnya perhatian pada seniman Kuda Lumping di Kota Malang, sangat memprihatinkan. Pasangan Nanda Wanedi (Menawan) pun berharap bisa mengoptimalkan potensi seni budaya dari pengiat seni.
Pimpinan kuda lumping Karangbesuki RW 2, Hari Siswanto (34) mengatakan selama ini antara pemerintah dan pegiat budaya masih berjalan sendiri.
Banyak pengiat seni seolah dianaktirikan, dan budaya seolah dipandang sebelah mata oleh pemerintah.
"Dana untuk kesenian itu seharusnya ada, cuma selama ini gak ada. Kita buat kegiatan dananya pribadi semua," katanya.
Dana swadaya yang dikeluarkan ini pun merupakan salah satu upaya komunitasnya untuk mendorong dan mengembangkan budaya di Kota Malang.
Selama ini dikatakannya pemerintah hanya ada apabila ada moment politik. Setelah musim politik berakhir para pegiat budaya dilupakan begitu saja.
"Kalau kampanye kita disayang-sayang tapi setelah jadi sabar dulu, kon iku sopo?" ucapnya.
Calon wakil walikota Malang nomor urut 1 Ahmad Wanedi saat dihubungi menyampaikan bahwa akan mengoptimalkan kebudayaan lokal yang ada di Kota Malang sehingga tidak tergerus oleh zaman.
"Kita punya topeng malangan, jaranan, ludruk, macam-macam semuanya ada di Malang, bayangkan kalau kita optimalkan bukankah ini potensi bahkan bisa jadi obyek wisata budaya," kata Wanedi.
Cara paslon Menangkan Nanda Wanedi (Menawan) ialah akan diupayakan ada memfasilitasi para pegiat seni dan budaya sekaligus memberikan mereka ruang untuk berkreasi. Terutama seniman Kuda Lumping. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


