Lestari Moerdijat: Rendahnya Partisipasi Perempuan di STEM Hambat Daya Saing Bangsa
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menilai rendahnya partisipasi perempuan di sektor STEM menjadi tantangan bagi daya saing Indonesia. Ia mendorong terciptanya ekosistem pendidikan yang lebih inklusif bagi perempuan.
JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menilai rendahnya partisipasi perempuan di sektor Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) menjadi tantangan serius bagi pengembangan inovasi dan daya saing Indonesia di masa depan.
Menurut perempuan yang akrab disapa Rerie itu, kesenjangan gender di bidang sains dan teknologi bukan sekadar persoalan keadilan, melainkan kepentingan strategis nasional yang membutuhkan perhatian bersama.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul temuan dalam Indonesia Chief Information Officer 200 Summit 2026 yang menunjukkan partisipasi perempuan di industri teknologi Indonesia masih berada di bawah 20 persen. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 8 persen yang menempati posisi pimpinan tertinggi.
Angka itu masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dan Singapura yang telah mencatat tingkat partisipasi perempuan di sektor teknologi di atas 40 persen.
Rerie juga mengungkapkan data International Labour Organization (ILO) tahun 2024 yang menunjukkan sekitar 35 persen lulusan STEM di Indonesia adalah perempuan. Namun, hanya sekitar 8 persen yang kemudian berkarier di sektor sains dan teknologi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kemampuan akademik perempuan. Banyak perempuan memiliki prestasi yang baik di bidang sains dan matematika, tetapi masih menghadapi berbagai hambatan sosial dan stereotip gender yang membatasi ruang mereka untuk berkembang.
"Hambatan itu sering muncul sejak usia dini melalui ekspektasi sosial yang memengaruhi kepercayaan diri anak perempuan terhadap bidang sains dan teknologi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (8/6/2026).
Anggota Komisi X DPR RI tersebut mendorong agar sistem pendidikan, mulai dari lingkungan keluarga hingga lembaga pendidikan, memberi perhatian lebih terhadap penguatan partisipasi perempuan di bidang STEM.
Menurutnya, sekolah dan perguruan tinggi perlu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif, sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam penelitian, diskusi ilmiah, maupun kepemimpinan akademik.
Rerie menegaskan, pembangunan ekosistem pendidikan yang mendukung kesetaraan gender akan membuka peluang lebih besar bagi generasi muda perempuan untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi nasional.
"Kesetaraan perempuan di bidang STEM bukan hanya soal keadilan sosial, tetapi juga investasi strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia yang inovatif dan berdaya saing," tegasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


