Advertisement
Politik

MPR Goes to Campus ke-50 Digelar di Unhan, Eddy Soeparno Soroti Ketahanan Energi Nasional

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menggelar MPR Goes to Campus ke-50 di Universitas Pertahanan. Ia menegaskan ketahanan energi merupakan mandat konstitusi dan bagian penting dari ketahanan nasional.

TIMES Indonesia,
MPR Goes to Campus ke-50 Digelar di Unhan, Eddy Soeparno Soroti Ketahanan Energi Nasional
Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, saat program MPR Goes to Campus (MPR GTC) ke-50 di Universitas Pertahanan (Unhan).
A-AA+

JAKARTA Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menggelar program MPR Goes to Campus (MPR GTC) ke-50 di Universitas Pertahanan (Unhan) dengan mengangkat tema "Penguatan Ketahanan Energi Nasional: Menjawab Tantangan Saat Ini dan Masa Depan". Dalam kegiatan tersebut, Eddy menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan mandat konstitusi yang harus ditempatkan sebagai bagian dari ketahanan nasional.

Kegiatan MPR Goes to Campus ke-50 dinilai memiliki makna tersendiri karena digelar di Universitas Pertahanan, perguruan tinggi yang berfokus pada kajian pertahanan dan keamanan nasional. Menurut Eddy, isu ketahanan energi kini tidak lagi sekadar berkaitan dengan aspek ekonomi atau ketersediaan pasokan, tetapi telah menjadi isu strategis yang berkaitan langsung dengan ketahanan bangsa.

Advertisement

"Penyelenggaraan MPR Goes to Campus ke-50 di Universitas Pertahanan memiliki makna yang sangat kuat. Ketahanan energi saat ini tidak lagi semata-mata persoalan ekonomi atau pasokan energi, tetapi telah menjadi bagian dari ketahanan nasional. Karena itu, kampus ke-50 ini sangat tepat dilaksanakan di Universitas Pertahanan," ujar Eddy.

Kehadiran Eddy disambut Rektor Universitas Pertahanan Letjen TNI (Purn.) Dr. Anton Nugroho, M.M.D.S., M.A., jajaran wakil rektor dan dekan, serta Staf Khusus Menteri Pertahanan Dr. Kris Widjojo Supandji.

Dalam paparannya, Eddy menyampaikan bahwa ketahanan energi telah menjadi amanat konstitusi dan sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, upaya mewujudkan kemandirian energi harus dipandang sebagai bagian integral dari strategi memperkuat ketahanan nasional.

Ia menjelaskan, dinamika geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan eratnya hubungan antara keamanan internasional dan ketahanan energi. Konflik di berbagai kawasan, khususnya Timur Tengah, berdampak pada terganggunya rantai pasok energi dunia, kenaikan harga energi, hingga memengaruhi berbagai sektor ekonomi.

"Ketika konflik terjadi di kawasan yang menjadi pemasok utama energi dunia, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor migas. Gangguan rantai pasok akan berimbas pada biaya produksi, inflasi, dan pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Inilah mengapa isu energi harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas sebagai isu strategis bangsa," katanya.

Advertisement

Karena itu, Eddy menilai agenda transisi energi yang menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian nasional sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan. Agenda tersebut, lanjutnya, sejalan dengan Asta Cita yang menekankan swasembada energi, ekonomi hijau, dan pembangunan berkelanjutan.

"Transisi energi dalam perspektif yang lebih luas adalah agenda kemandirian bangsa. Ketika kita mampu meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan, memperkuat efisiensi energi, dan mengurangi ketergantungan impor, maka kita sedang membangun fondasi ketahanan nasional yang lebih kuat," jelasnya.

Eddy juga menilai program MPR Goes to Campus menjadi ruang dialog antara MPR RI dan kalangan akademisi dalam membahas berbagai isu strategis nasional.

"Perjalanan MPR Goes to Campus hingga kampus ke-50 menunjukkan betapa besarnya kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan perspektif dan masukan bagi pengambilan kebijakan. Setiap kampus yang kami kunjungi menghadirkan gagasan-gagasan baru yang memperkaya pembahasan isu strategis nasional, termasuk mengenai energi," ujarnya.

Menurut Eddy, capaian penyelenggaraan MPR Goes to Campus di 50 perguruan tinggi bukan menjadi akhir dari program tersebut. MPR RI berkomitmen memperluas pelaksanaannya ke lebih banyak kampus, terutama di kawasan Indonesia Timur, guna menghimpun gagasan dan inovasi dari kalangan akademisi di seluruh Indonesia.

"Kami berkomitmen melanjutkan perjalanan MPR Goes to Campus ke lebih banyak daerah, khususnya kawasan Indonesia Timur. Kami ingin memastikan bahwa gagasan, inovasi, dan kontribusi intelektual dari seluruh anak bangsa dapat menjadi bagian dari solusi bagi pembangunan Indonesia. Semangat kebangsaan dan kolaborasi harus terus hadir dari Sabang sampai Merauke," kata Eddy.

Ia menambahkan, ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan sebagai fondasi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.

"Ketahanan energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan bersama sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045," ucapnya. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rochmat Shobirin
PenulisRochmat ShobirinPenulis di TIMES Indonesia yang bergabung sejak 2015. Meliput berbagai topik, antara lain politik, hukum, kriminal, ekonomi, gaya hidup, teknologi, budaya, pemerintahan, serta isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia