Eddy Soeparno Minta Pengawasan TPA Diperkuat untuk Cegah Kebakaran Berulang
Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta pemerintah memperkuat pengawasan TPA dan mempercepat penerapan teknologi Waste to Energy untuk mengatasi persoalan sampah.
JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta pemerintah memperkuat pengawasan tempat pemrosesan akhir (TPA) setelah kembali terjadi kebakaran di TPA Cipayung, Depok. Menurutnya, insiden yang berulang menunjukkan perlunya pembenahan sistem pengelolaan sampah, mulai dari hulu hingga pengawasan di TPA.
Eddy mengatakan kebakaran di TPA Cipayung terjadi setelah insiden serupa di TPA Jatiwaringin. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan pola yang terus berulang.
"Ketika TPA terus terbakar, itu artinya sistem kita belum bekerja, khususnya sistem pengawasan dan penindakan di TPA. Kita perlu melakukan intervensi segera dan tegas untuk mencegah terulangnya bencana di TPA di seluruh Indonesia," ujar Eddy.
Menurut politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu, pengelolaan sampah di Indonesia masih bergantung pada sistem landfill yang dinilai sudah tidak lagi memadai.
Ia menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun dan sebagian besar masih berakhir di tempat pemrosesan akhir melalui sistem penimbunan.
"Kita tidak bisa lagi mengandalkan TPA sebagai solusi utama. TPA sudah overcapacity, rawan kebakaran, dan menjadi sumber pencemaran. Kalau tidak ada perubahan mendasar, situasi ini berpotensi menjadi krisis yang merugikan masyarakat," katanya.
Dorong Penerapan Waste to Energy
Eddy menilai percepatan penerapan teknologi Waste to Energy (WTE) dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan.
"Selain mengurangi sampah secara signifikan, WTE juga menghasilkan energi terbarukan. Ini menjawab dua persoalan sekaligus, yaitu penanganan sampah dan kebutuhan energi bersih," ujarnya.
Selain penanganan di hilir, Eddy juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah dari hulu melalui pengurangan sampah dari sumber, pemilahan sampah rumah tangga, serta penguatan ekonomi sirkular.
"Masalah sampah tidak akan selesai kalau hanya ditangani di TPA. Kuncinya ada di hulu. Rumah tangga harus mulai memilah, mengurangi, dan mengelola sampahnya sendiri. Pemerintah harus hadir dengan sistem yang mendukung itu," katanya.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur pengelolaan sampah perlu diiringi dengan peningkatan kesadaran masyarakat agar pengelolaan sampah dapat berjalan lebih berkelanjutan.
Pada bagian akhir, Eddy juga meminta pemerintah daerah memperketat pengawasan terhadap TPA, termasuk mencegah praktik illegal dumping yang berpotensi memperburuk kondisi tempat pemrosesan akhir.
Menurutnya, tingginya kandungan sampah organik yang menghasilkan gas metana juga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran apabila tidak dikelola dengan baik.
"Saya meminta pemerintah daerah di seluruh Indonesia meningkatkan pengawasan terhadap TPA untuk mencegah kebakaran dan longsor yang berulang terjadi," pungkasnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.


