Advertisement
Politik

Rocky Gerung di RedTalks PDIP Jatim: Jadi Ireng, Jangan Jadi Londo

Rocky Gerung ajak generasi muda jadi "ireng" (nasionalis) bukan "londo" dalam RedTalks 2026 PDIP Jatim. Tegaskan Marhaenisme sebagai arah baru nasionalisme, melampaui politik praktis partai.

TIMES Indonesia,
Rocky Gerung di RedTalks PDIP Jatim: Jadi Ireng, Jangan Jadi Londo
Pengamat Politik, Rocky Gerung saat menjadi pembicara di RedTalks yang digelar di MCC. (Foto: Rizky/TIMES Indonesia)
A-AA+

MALANG Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan pesan bernuansa nasionalisme saat menjadi pembicara dalam RedTalks 2026 yang digelar DPD PDI Perjuangan Jawa Timur bersama detikcom di Malang Creative Center (MCC), Sabtu (25/7/2026).

Dalam forum bertajuk “Suara Muda untuk Jatim Keren: Indonesia Punya Kita, Nasionalisme Tanpa Batas Generasi” itu, Rocky mengajak generasi muda meneladani semangat Bung Karno dengan “menjadi ireng, bukan londo”.

Advertisement

Mengawali pemaparannya, Rocky mencairkan suasana dengan sebuah pantun. “PDIP partai yang jelas, karena mampu memaksa gue pakai jas. Minum kopi harus pakai gelas, supaya 10 + 6 = 17,” ucap Rocky yang disambut tawa peserta.

Usai berpantun, Rocky langsung menyinggung makna nasionalisme yang menurutnya harus tetap menjadi pegangan generasi muda. “Semua kita ingin jadi ireng yang tidak mau jadi londo. Itu prinsip anak muda,” katanya.

Menurut Rocky, semangat tersebut sejalan dengan gagasan Bung Karno yang memahami kolonialisme, tetapi menolak menjadi bagian darinya. Ia menilai Indonesia harus kembali berpijak pada cita-cita yang berpihak kepada rakyat kecil melalui Marhaenisme.

“Bung Karno paham tentang kelondoan, tapi dia nggak mau jadi londo. Karena itu dia pastikan bahwa negeri ini harus pergi mengikuti jalan kiri, bukan jalan kanan. Dan Marhaenisme adalah pengikat masa depan kita,” ungkapnya.

Rocky menilai tema RedTalks 2026 sangat relevan karena nasionalisme merupakan nilai yang mampu melampaui kepentingan politik praktis.

Advertisement

Menurutnya, partai politik memiliki siklus kekuasaan yang dapat berubah setiap lima tahun, sedangkan nasionalisme akan tetap hidup selama terus dijaga oleh masyarakat.

“Partai itu mungkin hanya lima tahun. Setiap lima tahun bisa berada dalam kekuasaan atau bisa juga runtuh. Tetapi nasionalisme akan tetap ada sepanjang kita menghendakinya. Kehendak itu tidak mungkin dibatalkan oleh tukar tambah politik,” tuturnya.

Ia juga menepis anggapan bahwa generasi muda mulai apatis terhadap politik. Menurut Rocky, anak muda justru sedang mencari alternatif yang mampu menjawab kegelisahan mereka terhadap kondisi bangsa dan masa depan. Karena itu, ia kembali menegaskan Marhaenisme masih relevan sebagai arah baru dalam membangun nasionalisme Indonesia.

“Dari Malang kita ingin memastikan ada arah baru nasionalisme agar kita tidak pernah lelah mengejarnya. Satu-satunya yang tersedia adalah Marhaenisme,” pungkasnya.

Sebagai informasi, diksi “Londo Ireng” baru-baru ini menjadi pembahasan yang cukup hangat setelah pidato Presiden RI, Prabowo Subianto di Harlah PKB beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan pidato tersebut, Presiden Prabowo mengucapkan diksi “Londo Ireng” yang dinilai menyinggung sejumlah pihak, seperti jurnalis, pengamat dan lain sebagainya.

Diksi “Londo Ireng” ini sesuai sejarahnya bermakna, yakni orang Indonesia yang dianggap berkhianat, membelot atau melebihkan kepentingan asing dibandingkan kepentingan bangsa sendiri.

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Rizky Kurniawan Pratama
PenulisRizky Kurniawan PratamaSarjana Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang (2019). Bergabung di TIMES Indonesia sejak 2020. Meliput berbagai topik, termasuk Politik, Hukum, Kriminal, Ekonomi, Budaya dan Pemerintahan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia