Kopi TIMES

Membangun Entrepreneurial University

Membangun Entrepreneurial University *) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.
Selasa, 14 Mei 2019 - 19:38

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Di Era Revolusi Industri 4.0, perubahan sosial dan perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah cepat. Yang analog dengan deret ukur, sementara itu perkembangan dan kemajuan pendidikan analog dengan deret hitung.

Kini yang dihasilkan universitas tidak hanya masyarakat pengetahuan (knowledge society), melainkan juga masyarakat inovasi (innovation society).

Karena itu, orientasi universitas seharusnya tidak lagi cukup dengan teaching university dan research university. Melainkan, juga entrepreneurial university. Universitas dewasa ini tidak cukup dengan mengorientasikan programnya untuk merespom ekonomi pengetahuan. Melainkan, juga harus merubah program, kurikulum, dan pendekatannya untuk mengatasi tantangan nasional dan global yang lebih entreprenial.

Ramjugernath (Karen Macgregor:2015) mengemukan ada 6 komponen penting dalam membangun entrepreneurial university.

Yakni, (1) kepemimpinan dan pengelolaan (leadership and governance), (2)  Insentif (incentives), (3) pembelajaran (teaching and learning), (4) budaya kewirausahaan (a culture of entrepreneurship), (5) hubungan dan kemitraan (relationship and partnership), and (6) internasionalisasi (internationalization).

Pertama, kepemimpinan dan pengelolaan, artinya bahwa inovasi dan kewirausaan selama ini hanya sebagai wacana,  menjadi bagian yang tak terpisahkan di semua unit kepemimpinan dan pengelolaan.

Menjadi bagian penting dari program studi, departemen, fakultas, unit-unit pendukung lainnya serta universitas. Mereka semua berkepentingan untuk menggerakkan semangat inovasi dan enterprenership.

Kedua, insentif. Dewasa ini kinerja universitas diukur konerjanya berdasarkan produk riset yang didiseminasikan lewat artikel, baik pada jurnal maupun pertemuan ilmiah. Yang seharusnya dilakukan universitas selain itu adalah memberikan insentif terhadap inovasi dan perilaku entrepreneul.

Demikian juga perlu tersedia dukungan anggaran dan sumber daya lainnya untuk pemberian insentif terhadap inovasi dan perilaku entrepreneul. Program dan upaya inovasi dan pengembangan perilaku entrepreneul bisa dibuat dengan jangka pendek, menengah dan panjang.

Untuk investasi jangka pendek, insentif perlu disiapkan terlebih dahulu sehingga bisa dirasakan cepat dampaknya. Sedangkan untuk invenstasi jangka menengah dan panjang, inovasi dan perilaku entrepreneul dapat menghasilkan keuntungan yang sebagiannya dapaty dimanfaatkan untuk insentif.

Ketiga, pembelajaran (teaching and learning). Kita harus mengembangkan mindset dan keterampilan entrepreneul. Kita sudah seharusnya menggunakan pendekatan yang inovatif. Karena itu kita tidak lagi hanya learning by doing, but also learning by making.

Pembelajaran harus lebih inovatif dan lebih entrepreneul. Pembelajaran inovatif dan entrepreneual perlu berkolaborasi dengan berbagai stakeholders, sehingga mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori yang cukup, melainkan juga praktek yang relevan.

Lebih baik  jika ada dosen atau teaga kependidikan yang memang terjun dalam dunia entrepreneul, sehingga benar-benar menghayati dan bisa sharing pengalaman nyatanya.

Keempat, budaya kewirausahaan (a culture of entrepreneurship). Universitas harus membangun kesadaran pentingnya entrepreneurship, mendorong secara aktif individu-invidu untuk menjadi entrepreneur, memberikan kesempatan pengalaman entrepreneurship, mendorong untuk bergerak dari ide ke aksi dan implementasi.

Seharusnya juga dada mentoring dari akademisi dan praktisi dari industri dan dunia usaha. Semua universitas seharusnya memiliki departemen sain, teknologi dan inovasi dan fasilitas inkubasi bisnis yang mensupport berbagai usaha dengan berbagai cara sampai ke pemasaran.

Kelima,  hubungan dan kemitraan (relationship and partnership). Hubungan stakeholders dan kemitraan bisnis strategic adalah kunci untuk menggerakkan inovasi dan kewirausahaan. Universitas seharusnya berkomitmen untuk kolaborasi dan pertukaran pengetahiuan dengan industri, masyarakat, dan sektor public serta kemitraan dan hubungan dengan seluruh rentangan para stakeholders.

Harus ada hubungan yang kuat dan pertukaran dinamis dengan inkubator bisnis, sain dan inisiatif lainnya yang berkaitan dengan innovasi dan kewirausahaan, dan aktivitas entreprenual yang melibatkan staf dan mahasiswa dengan industri dan bisnis.

Seharusnya ada mobilitas dosen, mahasiswa, pemerintah, dan personalia industri dengan aktivitas yang terkait dengan ekosistem pengetahuan.

Keenam, internasionalisasi (internationalization). Internasionalisasi merupakan aspek kunci  strategi entrepreneruship universitas, yang mencakup mobilitas internasiopnal mahasiswa, dosen, dan staf; menarik staf internasional dan entrepreneurship; mendemontrasikan internasionalisasi yang terkait dengan pengajaran dan berpartisipasi dan jaringan internasional.

Tanpa internasionalsasi, kita tidak dapat mendorong agenda inovasi dan entrepreneurship. Adalah penting universitas memiliki program mobilitas, yang tidak hanya pertukaran mahasiswa dan dosen, melainkan juga pertukaran tenaga kependidikan serta pertukaran budaya.

Dengan menggelorakan semangat inovasi dan entrepreneurship pada universitas untuk menghadapi tantangan sosio-ekonomik, universitas seyogyanya mampu mengatasi pengangguran, kemiskinan, pertumbuhan ekonomi rendah dan kesenjangan penghasilan.

Untuk mensukseskan bangunan universitas entrepreneurial, kira universitas perlu memasukkan spirit inovasi dan kewirausaan dalam pembelajaran, kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat.

Disamping seluruh sivitas akademika yang perlu tertlibat langsung atau tidak langsung, para stakeholders dengan berbagai ragam bidang dan keahliannya perlu terlibat dalam mengembangkan inovasi dan kewirausahaan.

Untuk menjadi Entrepreneurial University yang ideal memang tidaklah mudah. Di antara 4700-an universitas di Indonesia, baru segelintir universitas di Indonesia yang berani mendeklarasikan diri sebagai universitas entrepreneurial.

Walaupun belum ideal, secara berangsur-angsur universitas di Indonesia terus berproses menuju universitas entrepreneurial sesuasi dengan core business-nya masing-masing, baik bidang keteknikan, pertanian, eklonomi, pendidikan, seni, dan sebagainya. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

Jurnalis : A Riyadi
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Sumber : TIMES Yogyakarta

Komentar

Loading...
Registration