Kopi TIMES

Ketika Negeri Tuan Guru Heboh Gegara Calon Senator 'Adobe Photoshop'

Ketika Negeri Tuan Guru Heboh Gegara Calon Senator 'Adobe Photoshop' Yayat R Cipasang, redaktur TIMES Indonesia (Grafis: TIMES Indonesia)
Rabu, 15 Mei 2019 - 22:46

TIMESINDONESIA, JAKARTA – NUSA Tenggara Barat (NTB) dalam Pemilu Serentak 2019 ini melahirkan sejumlah kejutan. Jokowi kalah telak di negeri tuan guru tidak terlalu mengejutkan karena sudah terlihat dari mula kampanye. Tetapi yang mengejutkan plus lucu ketika senator petahana dan juga tokoh nasional serta elite NTB kalah dan tergusur dari Senayan gara-gara teknologi perangkat lunak editor citra.

Nggak percaya? Naam, awalnya saya juga tidak percaya. Tapi belakangan setelah saya baca pemberitaan di sejumlah media daring secara seksama, masuk akal juga. Saya pun tersenyum.

Tersebutlah sang pembuat gaduh di tingkat lokal dan juga pembuat uring-uringan elite itu adalah Evi Apita Maya. Calon senator bernomor 26 itu mengalahkan mantan Pimpinan DPD RI cum purnawirawan jenderal polisi Farouk Muhammad. Evi menempati pamuncak dengan raihan 283.932 suara.

Arkian, peristiwa menarik itu terungkap ketika saksi Farouk Muhammad mempermasalahkan Evi yang wajahnya biasa-biasa saja di alam nyata tetapi begitu mulus, putih dan cantik di dalam poster kampanye.

Logika sang saksi dari pihak yang kalah pun berdialektis, karena foto cantik itu masyarakat memilih Evi. Karena itu Evi layak digugat telah melakukan pembohongan publik dengan foto yang jauh dari aslinya. Intinya sang tuan para saksi kalah gegara foto diolah perangkat lunak editor citra Adobe Photoshop.

Perangkat lunak perekayasa citra ini sudah lama menjadi bahan pembicaraan sejak awal kemunculannya. Karena sistem ini dapat mengubah kulit hitam jadi putih, lubang jerawat di jidat sisa masa remaja bisa ditambal jadi mulus dan rambut ubanan bisa jadi hitam layaknya model iklan sampo. Bahkan dalam tingkatan ekstreme wajah orang pun bisa diganti dalam Photoshop.

Sebenarnya bukan Photoshop saja yang bisa menyalin rupa seseorang menjadi lebih cantik, mulus dan putih. Teknologi perangkat lunak dalam telepon pintar pun seperti Camera 360 menjadi favorit remaja dan Mahmud Abas (mama muda anak baru satu) untuk tampil cantik di media sosial.

Evi adalah calon senator yang pintar memanfaatkan teknologi. Saya pikir konsultannya lumayan canggih.

Evi pun rupanya membiarkan para kompetitornya yang tereliminasi dari panggung politik praktis untuk mengutuki nasibnya. Toh, Evi tak melanggar apapun. Sekarang proses rekapitulasi. Kalau mau dipermasalahkan seharusnya saat tahap pencalonan.

Jadi apa yang harus dilakukan Evi? Teruslah melangkah dan tak harus menghiraukan umpatan apapun. Teruslah melangkah menuju Senayan. Di Senayan bukan hanya dapat merealisasikan aspirasi rakyat tetapi di sana dapat pula memaujudkan wajah yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa.

Saya terkesan dengan pernyataan Anda saat menanggapi para seteru yang nyinyir, "Semua hasil tidak mengkhianati usaha!"

Akhirul kalam, dan mungkin ini perlu dibuktikan yang banyak memilih Evi dugaan saya mayoritas laki-laki lantaran terpesona kecantikannya. Dan, jangan-jangan calon senator yang kalah pun saat di bilik suara saking terhipnotis, bukan mencoblos dirinya sendiri tapi malah mencoblos wajah Evi saking terkesimanya.

Wallahu alam bishawab.*

*)Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Yayat R Cipasang
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Sumber : TIMES Jakarta

Komentar

Loading...
Registration