Kopi TIMES

Pendusta Agama

Pendusta Agama Noor Shodiq Askandar, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur dan Wakil Rektor 2 Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)
Rabu, 22 Mei 2019 - 07:55

TIMESINDONESIA, JAKARTA – ADA peringatan menarik yang disampaikan dalam Al Quran tentang dua kelompok yang disebut sebagai pendusta agama yaitu orang yang menghardik anak yatim dan orang yang tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Anak yatim adalah anak yang belum aqil baligh sudah ditinggal mati orang tuanya. Allah SWT memberi perhatian yang lebih terhadap golongan ini, karena tidak memperoleh pembinaan dan kasih sayang sebagaimana anak anak lainnya. Kekurangan ini yang bisa jadi kemudian membutuhkan kasih sayang dari semua orang yang menemuinya. Salah satu tujuannya agar yang bersangkutan tidak merasa sebagai anak yang tersia-siakan.

Anak dalam golongan ini yang oleh Allah SWT kemudian kita dilarang untuk menyuruh melebihi batas kemampuannya, menyiksa, menganiaya, dan perbuatan sejenis. Perbuatan seperti inilah yang insyaallah masuk dalam katagori menghardik anak yatim.

Golongan yang kedua yang termasuk golongan yang dianggap mendustakan agama yaitu orang yang tidak mau (tidak mau menganjurkan) orang untuk memberi makan orang miskin. Kalau kita mau runut lebih dalam, salah satu katagori ini adalah orang yang tidak mau berbagi, pelit, tidak mau sedekah. Jika yang diperingatkan golongan tidak mau menganjurkan, apalagi jika tidak juga mau memberikan. Tentu katagorinya lebih berat.

Dua katagori tersebut setidaknya menggambarkan perlunya kita semua hidup dalam kebersamaan. Saling menghargai, saling menghormati, dan saling membantu mengurangi beban kesulitan orang lain. Tidak ada mahluk terutama manusia yang bisa hidup sendirian.

Pasti juga membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Homo homini lupus (saling membutuhkan, saling membantu dalam kehidupan sesama mahluk). Manusia tidak diperkenankan untuk merasa yang paling baik dan  merasa yang paling dibutuhkan oleh orang lain.

Lewat surat Al Ma'un, Allah SWT memperingatkan perlunya berbagi kasih kepada yang lain dengan merujuk kepada dua fihak yaitu anak yatim dan kelompok orang miskin. Merekalah simbul dari diperlukannya empati dalam semua aspek kehidupan. Yatim dan miskin pasti bukanlah keadaan yang dikehendaki oleh semua orang, tapi inilah tanda yang diberikan oleh Allah SWT, bahwa dalam kehidupan ini akan lebih indah jika berpasangan untuk saling melengkapi.

Ada yang kaya dan miskin agar ada media berbagi. Ada laki laki dan perempuan agar saling hidup berpasangan. Ada yatim dan ada yang orang  tuanya lengkap, agar ada yang mau memberikan perhatian kepada yang membutuhkan.

Terhadap orang yang mau memberikan perhatian kepada anak yatim Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Buchori bersabda : aku dan orang yang mengasuh yatim akan seperti ini (sembari menyandingkan jari telunjuk dan tengahnya) di dalam surga.

Begitu juga terhadap orang miskin dicontohkan dan  digambarkan dalam cerita  saat Rasulullah saw tidak punya makan, masih berusaha membantu dengan bertanya kepada para sahabat, siapa diantara mereka yang dapat menjamu tamu beliau. 

Apa yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah panutan bagi semua ummatnya. Kalau Rasulullah saw aja melakukan hal demikian, kenapa kita mesti keberatan ?

Sungguh Allah SWT telah memberikan warna-warni dalam kehidupan di dunia ini agar kita mau bersyukur dengan cara berbagi. Dengan berbagi, amanah atas harta bisa dilaksanakan dengan baik dan kehidupan ini menjadi bisa dipertanggungjawabkan baik di dunia maupun di akhirat kelak. Tidak tergolong orang yang menjadi pendusta agama. (*)

*) Penulis, Noor Shodiq Askandar, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Timur dan Wakil Rektor 2 Universitas Islam Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis : Noor Shodiq Askandar (CR-057)
Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

Komentar

Loading...
Registration