Kopi TIMES

Belajar dari Mudik Kampung, Etos Kerja Petani, dan Membangun Spiritualitas

Belajar dari Mudik Kampung, Etos Kerja Petani, dan Membangun Spiritualitas Masykuri Bakri.
Selasa, 11 Juni 2019 - 10:13

TIMESINDONESIA, MALANG – Masyarakat Indonesia mempunyai tradisi saat lebaran, yakni mudik kampung.

Pulang ke kampung menjadi pilihan utama untuk bisa bertemu orang tua, sanak saudara, tetangga dan teman-teman disaat masih kecil. 

Hiruk pikuknya perjalanan tidak menyurutkan niat mereka, berpuluh-puluh jam jarak tempuh, harga tiket mahal, menyeberangi lautan, melintasi udara tetap ditempuhh.

Yang penting ketemu keluarga dan bisa bercengkrama satu sama lain untuk bercerita saat masih kecil, keberhasilannya, jumlah anak, pengalaman dan lain sebagainya. 

Memang mengasyikkan bahkan yg tak kalah pentingnya adalah masakan orang tua atau keluarga tidak ada tandingannya. 

Situasi inilah yg tidak bisa di rupiahkan tetapi justru kepuasan yg di dapatkan. Sebagai kisah nyata yang saya alami sebagai bagian dari pemudik, paling tidak ada 4 (empat) hal yg bisa kita petik dari mudik kampung.

Pertama, sillaturrahmi, aktivitas sillaturrahmi dilakukan dengan cara kita yg didatangi atau kita yang mendatangi.  Bila kita yang didatangi karena ada keluarga yang dituakan yang didatangi oleh sanak kerabat, tetangga dan bahkan juga santri dan murid-muridnya yang lebih muda. 

Mereka datang dari berbagai daerah untuk bersillaturrahmi, di sini satu sama lain bersalaman dan bahkan saling berpelukan, maaf memaafkan, baik tua dengan yang muda, sesama tua, sesama muda bahkan dengan anak-anak sekalipun. 

Berkumpul kemudian saling bercerita tentang kehidupan sehari-harinya. Mereka datang dengan tulus, tidak diundang dan tidak ada yang mengerahkan tetapi bermuara dari gerak lubuk hati yang terdalam individu. 

Di sinilah tampak persaudaraan yang kokoh, tidak ada yg paling merasa benar tapi semua merasa bersalah sehingga selalu minta maaf dan saling memaafkan satu sama lain. Andaikan cermin idul fitri ini dijadikan tradisi 11 bulan mendatang betapa indahnya bangsa dan negara Indonesia, sehingga tidak ada orang yang merasa paling benar sendiri. 

Kedua, halal bi halal. 
Tradisi halal bi halal yang  dilakukan oleh keluarga saya (Bani Ijan) yang sudah berjalan 8 tahun silam, yang merupakan rintisan yang saya gagas di rumah saya pertama kali tahun 2012 untuk mengumpulkan saudara dan sanak famili yang berserakan dari berbagai daerah dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, budaya, status sosial dan lain sebagainya mampu mencairkan suasana keakraban.

Acara 'kumpul' ini kemudian diisi dengan kegiatan ritual tahlil, shalawat, ceramah agama, dan doa serta ramah tamah. Ini semua menjadi salah satu magnit kumpulnya keluarga, walaupun mereka hadir harus ikut iuran. 

Dalam situasi seperti ini mampu meningkatkan ghirah dan meningkatkan kepedulian yang tinggi terhadap sesama saudara, dan sekaligus melatih membangun sikap dermawan di antara sesama. 

Maka layak ketika Bung Karno melihat bangsa yg carut marut, dan menemui jalan buntu bagaimana cara mempersatukan kembali,  kemudian beliau meminta saran kepada al Maghfurlah Hadratusyaikh KH. Wahab Hasbullah tentang hal tersebut, kemudian beliau mengusulkan kegiatan halal bi halal. 

Ini artinya bahwa para kiai memiliki andil besar terhadap tegaknya Bangsa dan Negara Republik Indonesia, maka selayaknya para kiai harus diposisikan sebagai orang terhormat di tengah-tengah masyarakat. 

Ketiga, kehidupan masyarakat petani. Di sela-sela saya bersillaturrahmi ke tetangga atau kerabat bukan hanya dalam satu kampung tapi di beberapa kampung, telah melihat betapa beratnya para petani bekerja di terik matahari.

Mereka mulai dari mempesiapkan proses bibit, mengolah lahan, menanam bibit, memelihara bibit, merawat bibit, menguras air bila kelebihan di tempat pembibitan,  mencabut bibit, menanam, memupuk, mengobati, memberantas hama dan seterusnya dengan cucuran air keringat basah sebadan mulai kaki hingga kepala, mereka tidak mengenal waktu dalam bekerja dengan sarana dan pengetahuan terbatas. 

Mereka itulah seharusnya menjadi pahlawan produksi pertanian, belum lagi yang mereka rasakan dengan obat serta pupuk yang semakin mahal menjadikannya semakin berat.

Bahkan dengan biaya produksi yang sangat besar tetapi pendapatannya tidak sebanding dengan pengeluarannya. Di sinilah saya melihat bahwa anak-anak bangsa yg bermuara dari desa yang sedang studi perlu mendapatkan perhatian serius dari kita semua, tanpa mengabaikan anak-anak dari perkotaan. 

Mereka dibiayai dengan cucuran air mata dan keringat yang setiap hari  bercucuran. Maka tak heran bila banyak orang-orang berhasil mereka dari desa, dengan terpaan yang berat saat hidupnya dan membawa berkah. Namun juga tidak sedikit anak-anak didik dari perkotaan yg berhasil karena di dukung dengan gizi yang memadai. 

Berangkat dari tiga hal tersebut di atas, maka desa dapat menjadi prototip kehidupan bernuansa persaudaraan yg tinggi dengan saling menghormati satu sama lain, walaupun berbagai keterbatasan ada pada dirinya tetapi kegigihannya untuk tetap survive sangat tinggi.

Keempat, ziarah leluhur dan wali, Tuban adalah bumi wali maka tradisi ziarah ke Wali menjadi suatu aktivitas yang menyenangkan yang biasa saya laksanakan dengan keluarga untuk meningkatkan spiritualitas batin keluarga, agar dekat dengan para Waliyullah yang memiliki karomah. 

Di sini kita berwasilah kepada para Nabi, Wali, Pendiri NU, Pendiri Unisma, para kiai, para guru, orang tua dan sanak kerabat yg telah wafat kemudian dilanjutkan dengan memohon pada Allah untuk kepentingan pribadi, keluarga, Unisma dan bangsa Indonesia di tempat-tempat mustajab tersebut, setelah itu  membaca  surat Yasin, Tahlil dan di tutup dengan doa. 

Dalam situasi inilah saya selalu mengajak keluarga diawal Ramadhan dan setelah idul fitri untuk ziarah ke para leluhur terlebih dahulu kemudian waliyullah yakni Sunan Bejagung, Sunan Bonang, Asmorokondi (ayah Sunan Ampel) dan Sunan Geseng untuk melakukan aktivitas tersebut di atas. 

Di sini kami meyakini bahwa ditempat-tempat para wali atau orang yg memiliki karomah tersebut bila kita berwasilah kepada beliau dan kemudian kita minta kepada Allah SWT, insya Allah, Allah mengijabahi doa kita. Wa Allahu 'alam bi as-Shawab. (*)

 

*Penulis adalah Masykuri Bakri ; Rektor Univetsitas Islam Malang, Ketua Umum Forum Rektor Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (FRPTNU), dan Ketua Umum Asosiasi Pascasarjana Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APAISI).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Jurnalis :
Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

Komentar

Loading...
Registration