Cerita

Sholat Jumat Pertama Ramadhan Di Masjid Tertua Di Kota Batu

Sholat Jumat Pertama Ramadhan Di Masjid Tertua Di Kota Batu Masjid Al Mukhlisin yang berada di kawasan Dusun Macari, Kota Batu (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Sholat Jumat Pertama Ramadhan Di Masjid Tertua Di Kota Batu Sejumlah umat Islam berjalan menuju masjid Al Mukhlisin untuk menunaikan sholat Jumat pertama di Bulan Ramadhan 1440 H. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Sholat Jumat Pertama Ramadhan Di Masjid Tertua Di Kota Batu Umat Islam saat mendengarkan Khotabah di Masjid Al Mukhlisin sebelum melaksanakan sholat Jumat. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Sholat Jumat Pertama Ramadhan Di Masjid Tertua Di Kota Batu Umat Islam saat melaksanakan sholat Jumat di Masjid Al Mukhlisin yang berada di Dusun Mancari, Kota Batu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Sholat Jumat Pertama Ramadhan Di Masjid Tertua Di Kota Batu Umat Islam berdoa usai menjalakn sholat Jumat di Masjid Al Mukhlisin di Dusun Mancari, Kota Batu. (FOTO: Adhitya Hendra/TIMES Indonesia)
Jum'at, 10 Mei 2019 - 14:08

TIMESINDONESIA, BATU – Umat muslim melaksanakan shalat Jumat pertama pada bulan Ramadan 1440 H di Masjid Al Mukhlisin yang terletak di Jalan Lahor, Dusun Macari, Desa Pesanggrahan, merupakan masjid tertua di Kota Batu, Jawa Timur.

Masjid ini memiliki sejarah tersendiri untuk penyebaran Islam di Kota Batu, masjid yang berdiri pada 1827 ini didirikan oleh KH Zakaria. Saat ini Masjid Al Mukhlisin berada dikawasan pemukiman padat penduduk,
dahulanya kawasan tersebut merupakan area perkebunan kopi. 

Menurut salah satu keturunan KH Zakaria, Dusun Macari ini dahulanuya masyrakatnya pemeluk agama Hindu. Salah satu tanda-tanda keberadaan agama Hindu ini terdapat Patung Bramancari yang berada 50 meter arah Barat Masjid Al-Muhlishin atau 200 meter arah Timur Laut Balai Kota Batu.

Meski bentuk bangunan sudah berubah, sejarah Masjid tertua ini masih tertinggal pada beberapa benda peninggalan. Ada rantai roda tank kuno yang kini jadikan keset. “Sebelumnya rantai roda tank ini digunakan sebagai pondasi menara Masjid, tidak digunakan lagi, akhirnya kita taruh di sini,“ ujar keturunan kelima KH Zakaria, Ahmad Junaedi.

Rantai roda tank bisa di Masjid Muhlisin pun ada ceritanya. Saat itu sebuah tank Belanda mendadak tidak bisa berjalan saat masuk Macari, hingga akhirnya direbut oleh masyarakat. Bodi tank dipreteli untuk berbagai kepentingan perang, termasuk salah satunya rantai roda tank digunakan untuk pondasi Masjid.

Serta sebuah kolam kuno yang akrab disebut Blumbang Macari, yang dahulu hanya berukuran 20 X 30 meter (sekarang berukuran 35-50 meter). Kolam terebut diperuntukkan untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan ibadah sholat atau pun mengaji setelah melakukan pekerjaan di perkebunan kopi.
 

Fotografer : Adhitya Hendra
Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rochmat Shobirin

Komentar

Registration