Peristiwa Daerah Jemaah Haji 2020

Sekitar 25 Tahun Menabung untuk Ibadah Haji, Impian Pedagang Tempe Sragen ini Pupus

Rabu, 03 Juni 2020 - 16:30 | 22.51k
Suwardi, petani sekaligus pedagang tempe di halaman depan rumahnya. (Mukhtarul Hafidh/Times Indonesia)
Suwardi, petani sekaligus pedagang tempe di halaman depan rumahnya. (Mukhtarul Hafidh/Times Indonesia)
FOKUS

Jemaah Haji 2020

Kecil Besar

TIMESINDONESIA, SRAGEN – Impian Suwardi (63) dan istri Jiyem (64) untuk menunaikan ibadah haji tahun 2020 ini harus pupus. Selama 10 tahun dirinya menunggu dan menyisihkan uang hasil berjualan tempe dan bertani.

Saat ditemui di rumahnya di Desa Bakalan, RT21, Kelurahan Peleman, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Rabu (3/6/2020), raut wajah kekecewaan ditunjukkan Suwardi. Menyusul telah diperoleh informasi dari pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) yang memutuskan untuk menunda ibadah haji tahun 2020 lantaran Covid-19.

Advertisement

“Setelah mendengar informasi dari pemerintah, ibadah haji yang seharusnya saya bisa berangkat tahun ini, lantaran covid-19 ini akhirnya ditunda. Ya! kecewa tapi gimana lagi, ini sudah kebijakan pemerintah,” tutur Suwardi dengan raup kecewa.

Suwardi menceritakan, niatnya untuk menunaikan ibadah haji setelah selama 25 tahun mengumpulkan rupiah dari berjualan tempe di Pasar Gemolong dan bertani bersama istri tercinta. Untuk menjalankan ibadah rukun islam kelima itu ia mengikuti program talangan dana haji di salah satu bank swasta pada tahun 2011.

“Selama 25 tahun saya bersama istri berjualan tempe di Pasar Gemolong dan bertani. Saya sisihkan dari keuntungan berjualan itu sedikit demi sedikit. lantaran kurang akhirnya saya ikut program di bank swasta ikut dana talangan haji,” terangnya.

Niat mulia itu dirasa tak seperti yang dibayangkan. Berbagai kendala juga dihadapi dirinya kala itu. “Setelah saya berniat untuk menjalankan ibadah haji, banyak kendala saya rasakan. Mulai dari usaha yang akan bangkrut sampai hampir tidak bisa beroperasi lagi,” tambahnya.

Seharusnya tahun ini Suwardi berangkat bersama 110 orang di Kecamatan Gemolong. Awalnya dia sangat berharap tahun ini tetap bisa berangkat menjalankan ibadah haji. Dan apabila tidak bisa berangkat menjalankan ibadah haji, dirinya meminta kepada calon jamaah haji lain untuk tabah dan legawa menerima keputusan pemerintah.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sragen, Hanif Hanani menyatakan, setiap tahun warga Sragen yang mendaftar haji antara 3.000-4.000 orang. Sementara tahun ini setelah keputusan pusat, hampir 1.200 jemaah haji asal Sragen tertunda keberangkatannya. Dengan demikian, setelah banyaknya pendaftar masa tunggu mencapai 24-25 tahun.

Hanif Hanani menegaskan dengan penundaan tersebut maka sejumlah 1.131 jwmaah calon haji asal Sragen batal berangkat tahun ini. Dengan rincian pelunasan tahap satu ada 1.131 orang. Sedangkan pelunasan tahap kedua reguler dan cadangan sejumlah 78 orang.

”Penundaan dalam kurun waktu setahun itu sangat berarti bagi jemaah Indonesia. Karena se-Indonesia jumlah jemaah mencapai 230 ribu orang. Sehingga penundaan ini daftar tunggu jemaah akan terus bertambah,” tandasnya.

Adapun calon jemaah yang masuk daftar tunggu Sragen dalam satu tahun atau jumlah pendaftar mencapai bisa mencapai 4.000 orang. ”Intinya nambah kali jumlah itu. Tapi yang batal ini otomatis dijadwalkan untuk tahun berikutnya," ujarnya.

Soal teknis penyampaian informasi penundaan dan juga pengembalian biaya, menurut Hanif, sedang dirapatkan dengan Kanwil Kemenag Jawa Tengah. Hanif meyakini sebagian calon jemaah sudah mendapatkan informasi dari media.

Namun setelah rakor dengan Kanwil Jateng, kata dia, Kemenag Sragen akan menyampaikan surat resmi penundaan ibadah haji dan segera disosialisasikan kepada jamaah. Mulai dari KUA kecamatan, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji sampai ke tingkat desa. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES