
TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pandemi telah meluluhlantakkan tatanan dunia di berbagai sektornya. Semua proyeksi ekonomi sebelum pandemi, terkoreksi dengan sendirinya. Bahkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, harus terganti dengan kenyataan resesi. Ini kondisi menyakitkan dan mengecewakan, namun harus kita terima dengan lapang dada, kita terima sebagai bagian dari kenyataan hidup.
Nah, di balik keterbatasan ini, kita harus terus membangun optimisme. Kita harus membangkitkan sumber daya manusia, agar lebih terampil dan fleksibel untuk mensiasati dunia baru pada masa pandemi ini. Kreatifitas yang digabung dengan semangat pantang menyerah, merupakan inti dari semangat juang kita menghadapi era yang tidak mudah ini.
Advertisement
Di dalam situasi pandemi ini, kita tidak bisa menggunakan ukuran-ukuran sebagaimana kehidupan normal. Situasi saat ini merupakan kondisi extra-ordinary hingga kita harus merumuskan ukuran-ukuran tertentu, yang menjadikan kita tetap bisa bertahan. Daya tahan menjadi sangat penting, semangat untuk bisa survive dan bermanfaat harus terus digelorakan.
Maka, dengan bertahan di situasi sulit ini, setidaknya kita masih bisa memberikan yang terbaik untuk orang lain. Dengan bertahan, kita bisa memanfaatkan sumber daya dan infrastruktur yang kita miliki untuk kemaslahatan publik. Maka, semangat, ketabahan, dan daya tahan menjadi nilai penting yang wajib kita pertahankan di tengah situasi pandemi ini.
Kondisi pembelajaran online pada situasi pandemi ini, juga dihadapkan pada kendala-kendala. Apalagi, transformasi sistem pembelajaran dari offline ke online membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Transisi penggunaan teknologi digital untuk pembelajaran daring, tidak sekedar alat, namun juga kultur, perspektif dan visi.
Pandemi memang mengajarkan kita banyak hal yang tidak kita sadari sebelumnya. Maka, kita harus terus optimis untuk memberikan yang terbaik, untuk kemasalahatan sesama. Dalam konteks ini, ada beberapa nilai penting dalam membangun optimisme pembelajaran di tengah pandemi ini.
Pertama, fokus pada tujuan. Optimisme itu merupakan energi yang memberikan kekuatan. Ia jadi api yang berkobar yang memberikan daya ledak di dalam diri kita. Maka, penting untuk memetakan tujuan, agar kita sampai pada titik tuju dengan energi yang kita miliki. Seiring waktu, energi yang kita miliki seringkali terbatas. Maka, dengan fokus pada tujuan, kita bisa membagi energi sebanding dengan waktu dan jarak tempuh.
Di dunia pendidikan kita, sudah jelas bahwa tujuan-tujuan secara garis besar sudah disampaikan oleh Presiden Jokowi, maupun Mas Menteri Nadiem Anwar Makarim. Nah, tugas kita adalah menerjemahkan tujuan-tujuan itu ke dalam interval dan goal dari tim kita. Dengan meletakkan pada tujuan yang sama, dengan menggabungkan puzzle-puzzle potensi yang kita miliki secara terfokus, maka tujuan akan mudah tercapai.
Ibarat lebah, kita menggabungkan kekuatan-kekuatan yang ada untuk menghasilkan madu yang berkhasiat. Nah, kekuatan dan energi dari ratusan, ribuan, hingga jutaan manusia Indonesia, jika digabungkan secara terfokus, maka akan berdampak dahsyat. Inilah kekuatan dari fokus untuk mengejar target, memastikan ada arah yang dituju.
Kedua, peningkatan kualitas sumber daya manusia. Jelas sekali, pandemi mengajarkan kepada kita banyaknya keterbatasan-keterbatasan. Sistem belajar mengajar tidak bisa berjalan optimal, juga mata rantai pembelajaran menjadi tersendat. Tapi, kreatifitas manusia memecah kebuntuan itu. Selalu ada solusi di tengah problem pelik yang menghadang. Selalu ada guru-guru terampil, yang menjadi penggerak untuk mencipta kebaruan dalam pembelajaran. Selalu ada manusia-manusia cerdik dan gigih, yang mencipta peluang di tengah serangkaian problem rumit.
Nah, kami di Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud juga belajar banyak selama pandemi ini. Hampir satu tahun kita beraktifitas di tengah segala keterbatasan. Namun, kreatifitas, semangat, optimisme, sekaligus daya tahan menjadi kunci untuk terus bergerak. Kami terus tingkatkan kualitas sumber daya manusia, sambil terus berinovasi dengan pelbagai layanan pembelajaran yang ada: Rumah Belajar, TV Edukasi, Suara Edukasi, serta beragam program strategis diamanahkan kepada kami.
Rumah Belajar telah tumbuh menjadi portal pembelajaran penting dengan konten edukatif yang telah diakses lebih 190 juta pengguna. Pengguna baru selama tahun 2020 kemarin, tumbuh di atas 7,7 juta pengguna. Sementara, TV Edukasi, Suara Edukasi dan layanan lainnya juga terus tumbuh untuk membersamai anak didik kita, bersama-sama menjaga nyala api belajar di negeri ini.
Kami juga terus berusaha memberikan yang terbaik dengan pelayanan, sumber daya dan infrastruktur yang dimiliki. Dalam waktu terbatas, kami membantu mensukseskan program bantuan kuota internet untuk pembelajaran. Kebijakan ini dieksekusi dalam waktu yang singkat, dengan skala dan jangkauan yang besar. Lebih dari 35 juta penerima bantuan, yang merata dari peserta didik, pendidik dan dosen dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah.
Program bantuan kuota internet sepanjang September-Desember 2020 menguatkan semangat belajar siswa, menumbuhkan optimisme pembelajaran. Program ini menguatkan infrastruktur pembelajaran jarak jauh, yang menjadi opsi terbaik selama masa pandemi ini. Ke depan, Kementerian Keuangan sudah memberi sinyal untuk melanjutkan program ini dengan peningkatan efektifitas program dan optimasi kebijakan. Diharapkan, jangkauan dan kemanfaatan kebijakan ini menjadi lebih luas.
Ketiga, kolaborasi antar pihak. Pada era sekarang ini, kerjasama dan kolaborasi merupakan hal penting yang tidak bisa dilupakan. Kita tidak bisa bekerja sendiri, berkarya seorang diri. Ini merupakan zaman di mana kolaborasi menjadi kunci, sebagai penguat satu sama lain. Era digital merupakan era kolaborasi. Maka, konsepsikan gagasan, kemudian petakan kelebihan dan kekurangan diri atau tim kita, dan selanjutnya cari partner yang tepat untuk kolaborasi.
Ini memang zaman kolaborasi. Tapi, sekedar ajakan bekerjasama tidaklah cukup. Kolaborasi membutuhkan gagasan, harus ada ide. Maka, penting untuk terus menyalakan ide di kepala kita, menebarkan benih-benih gagasan ke semua tim kita. Dengan demikian, ide-ide itu tumbuh menjadi sumber kreatifitas yang bisa terkoneksi dengan cahaya gagasan pihak lain. Di ruang pertemuan ide dengan ide itulah, kolaborasi tercipta.
Di setiap kesempitan dan problem besar selalu ada peluang bagi orang-orang yang optimis. Mari bersama-sama membangun optimisme untuk pendidikan Indonesia. Kami akan terus bersama-sama menjaga nyala api belajar di negeri ini. Agar anak-anak didik kita, bisa terus memijarkan semangat untuk Indonesia masa kini dan mendatang. (*)
*) M. Hasan Chabibie, praktisi pendidikan, sekarang menjadi Plt. Kepala Pusdatin Kemendikbud.
*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]
*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Yatimul Ainun |
Publisher | : Lucky Setyo Hendrawan |